RSS

We Belong Together Bab 3

05 Sep

we-belong-together

 

 

 

 

 

Ketika mereka tengah bersenang-senang Ken datang dengan membawa kado untuk Keyra. Kakek Wayne mengundangnya menghadiri pesta di halaman belakang itu. Ken melangkah mendekatinya lalu memberikan kado itu padanya.

“Terima kasih, tapi kau tidak harus memberikan apapun untukku. Aku sudah mendapat begitu banyak hadiah dari mereka,” ujar Keyra ketika Ken menyerahkan kado itu padanya.

“Kau berhak bendapatkan sesuatu dariku,” sahut Ken lalu melangkah menuju ketempat kakek Wayne berada.

Keyra benar-benar bingung dengan yang di katakan Ken. Bagaimana mungkin dia berhak mendapatkan sesuatu darinya ? Keyra dan Ken hampir tidak mengenal satu sama lain. Deringan ponsel Dennis menyadariakn dari pikirannya. Keyra mengambil ponsel Dennis yang tergeletak di atas meja lalu melihat siapa yang menghubungi suaminya itu. Tidak ada nama yang tertera di sana.

 

Keyra ragu untuk mengankatnya, tapi dia bagaimana jika itu adalah telepon penting ? Dia ragu namun kemudian memutuskan untuk mengankatnya.

“Dennis, kau di mana ? Aku menghubungi mu dari semalam. Aku perlu bertemu dengan mu hari ini juga,” itu adalah suara perempuan dan jelas itu bukan suara asisten Dennis. Keyra sudah sering berbicara dengan asisten Dennis.

“Uhh… Dennis sedang ada di dalam rumah,” ujar Keyra.

“Maaf, aku pikir Dennis. Bisakah aku berbicara dengannya ? Atau sampaikan pesanku. Tolong katakan padanya untuk segera menemuiku, ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengannya,” ketika perempuan menyelesaikan ucapannya Dennis melangkah keluar dari rumah dengan kue di tangannya.

Dennis meletakan kue itu di atas meja di hadapan Keyra. “Ada telepon.”

 

Dennis tersenyum lalu mengambil ponsel itu dari tangan Keyra. Dennis menempelkan ponselnya di telinganya kemudian berbicara pada siapapun yang menghubunginya. Wajah Dennis mengeras atas apapun yang di katakan perempuan itu. Dia lalu melangkah menjauh dari Keyra.

Mata Keyra tidak pernah lepas menatap suaminya. Dennis menggeleng atas apapun yang orang itu katakan lalu membentaknya. Keyra sangat ingin tahu apa yang Dennis bicarakan dengan perempuan itu hingga Dennis tampak begitu marah. Tapi dia menahan diri, Keyra tidak mau menjadi istri yang harus selalu tahu urusan suaminya.

 

“Hai,” suara berat di belakang Keyra menyentaknya dari lamunanya. Keyra menolah dan mendapati Ken berdiri di belakangnya.

Keyra tersenyum pada pria itu. “Duduklah.”

“Terima kasih,” ujar Ken lalu duduk di kursi kosong di dekat Keyra. “Kau sudah membuka kado yang ku berikan ?”

“Hmm… belum,” Keyra menujukan kado itu pada Ken. “Aku akan membukanya.”

Ken mengangguk lalu Keyra merobek kertas kado itu kemudian membuka kotak itu. Keyra terkejut saat melihat sebuah gelang cantik di dalam kotak itu.

“Kau menyukainya ?” suara Ken terdengar cemas.

Keyra mengalikan wajahnya dari gelang itu kemudian menatap Ken. “Gelang ini sangat cantik. Aku tidak pernah melihat gelang secantik ini.”

Ucapan Keyra membuatnya tampak lega. Ken tersenyum lalu mengambil gelang itu dari tangan Keyra.

“Biar aku memakaikan untuk mu.” Keyra ingin menolak tapi rasanya tidak enak jika harus menolaknya. Dia lalu mengangguk, dan membiarkan Ken memakaikan gelang itu di tangannya.

 

Setelah gelang itu terpasang, Keyra mengucapkan terima kasi lalu mengakat tangannya dan menatap gelang itu. Sebuah permata berbentuk bunga tulip pada pengatinya persis seperti liontin yang di kenakannya. Keyra lalu kembali menatap Ken, pria itu tersenyum yang membuatnya terlihat lebih tampan.

“Adikku juga berulang tahun hari ini,” ujar Ken tiba-tiba.

“Lalu di mana adikmu ? Kenapa kau tidak mengajaknya ? Kita bisa merayakannya bersama-sama disini,” Tanya Keyra.

“Dia sedang bersama suami dan keluarganya. Dia juga tengah bersenang-senang bersama suami dan keluarganya,” sahut Ken.

 

Keyra melihat kilatan kesedihan di mata Ken saat mengatakan semua itu. Keyra ingin bertanya kenapa dia tidak menemui adiknya namun dia merasa tidak pantas untuk menayakan hal itu. Sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi padanya dan adiknya hingga dia tidak menemui adiknya.

Beberapa saat kemudian Dennis kembali dan duduk di kuris kosong di sisi lain dari Keyra. Dennis menarik kurisnya lebih dekat dengan Keyra lalu melingkarkan sebelah tangannya dengan posesif di pinggang Keyra. Dennis menatap tajam Ken yang duduk di samping Keyra. Tatapan Dennis tampak seperti ingin menerjang Ken. Sebelum Ken menyadari tatapan Dennis Keyra mengalihkan perhatian Dennis dengan memperlihatkan gelang yang di berikan Ken.

 

“Sayang lihatlah, Ken memberikan ku gelang. Ini benar-benar cantik,” ujar Keyra.

Dennis mengalihkan tatapannya dari Ken dan menatap gelang yang di kenakan Keyra. “Aku bisa memberikan gelang yang jauh lebih bagus dari itu.”

Jawaban Dennis membuat Keyra mengutuknya dalam hati. Setelah semua orang pergi dia akan mencekik suami menyebalkannya ini. Keyra lalu segera meminta maaf karena sikap suaminya itu, dan Ken menangapinya dengan senyuman. Dia tidak melihat ketersingungan di wajah Ken karena kata-kata Dennis. Sebaliknya dia melihat Ken tampak geli. Keyra merasa lega melihatnya.

 

Keyra kembali menoleh pada suaminya dan menatapnya dengan tatapan peringataan namun Dennis hanya mengangkat bahu, tak peduli. Oh ya Tuhan kenapa bisa dia menikahi pria menyebalkan seperti Dennis ?

 

***

 

Setelah menghabiskan tiga hari di perkebunan mereka akhirnya pulang. Nyonya Wayne tampak lebih baik sekarang, tidak ada lagi gurat kesedihan yang mendalam di wajahnya seperti beberapa hari yang lalu. Sekarang nyonya Wayne lebih banyak tersenyum.

 

“Aku senang melihat ibu bisa kembali tersenyum seperti biasa,” gumam Keyra.

“Begitu juga denganku,” sahut Dennis kemudian membelokan mobilnya memasuki gerbang.

Saat mobil memasuki halaman Keyra melihat seorang perempuan dan gadis kecil yang tampak berusia sekitar dua atau tiga tahun hendak berjalan meninggalkan rumah mereka. Keyra menoleh pada Dennis, dan melihat kemarahan di wajah suaminya. Dennis tampaknya mengenal perempuan itu.

Dennis segera turun dari mobil begitu juga dengan Keyra lalu mendekati mereka.

 

“Apa yang kau lakukan di sini ?” bentak Dennis yang membuat gadis kecil itu bersembunyi di belakang perempuan yang bersamanya.

“Aku sudah mengatakannya di telepon. Sekarang aku serahkan dia padamu,” sahut perempuan itu.

“Tidak, bawa dia pergi dari sini,” geramnya.

“Tidak bisa, dia putrimu dan kau harus mengurusnya.”

 

Mendengar ucapan perempuan itu membuat dada Keyra menjadi sesak. Tiba-tiba saja dia merasa kesulitan menghirup udara. Dennis dan perempuan itu saling meneriaki, membuat gadis kecil itu ketakutan.

Keyra memejamkan mata lalu menghela nafas. “Cukup,” teriaknya kepada kedua orang yang saling berteriak itu. “Kau,” Keyra menujuk perempuan itu, “Pergilah dan gadis kecil ini akan tetap di sini bersama ayahnya.”

“Keyra, kau ti…” Keyra mengakat tangannya menghentikan Dennis berbicara.

Dia melangkah mendekati gadis kecil itu lalu berlutut di hadapannya. Gadis kecil itu menatapnya dengan mata hijau besarnya. Mata itu persis seperti mata yang di miliki Dennis, begitu juga dengan bibirnya. Keyra bisa melihat kemiripan antara gadis kecil itu dan Dennis.

“Siapa namamu ?” tanya Keyra dengan suara lembut agar gadis kecil itu tidak takut.

“Sayang….”

“Diamlah Dennis,” bentak Keyra, membuat gadis kecil itu takut. Keyra menghela nafas. “Kau ingin es krim sayang ?”

Gadis kecil itu mengangguk. Keyra mengenggam tangan kecilnya lalu mengambil tas yang di bawa perempuan itu kemudian mengajaknya masuk kedalam rumah tanpa menoleh untuk menatap Dennis. Dennis memanggilnya namun Keyra tidak mempedulikannya.

 

Keyra mengangkatnya lalu menududukkannya di atas kursi. Keyra pergi kedapur dan mengmabilkannya es krim di dalam kulkas. Keyra menyukai es krim jadi selalu ada es krim di dalam kulkas. Dia kembali dengan membawa es krim itu dan meletakannya di depan gadis kecil itu. Gadis itu tersenyum senang lalu memakan es krim itu.

“Kau belum memberitahu tante namamu,” ujar Keyra.

“Ellen,” sahutnya sambil memakan es krimnya.

Keyra tersenyum. “Nama yang indah. Tante akan menyiapkan kamar untukmu, kau tunggu di sini.”

Ellen mengangguk lalu Keyra pergi kelantai atas. Dia mempersiapkan kamar untuk gadis kecil itu di kamar yang bersebelahan dengan kamarnya dan Dennis.

 

***

 

Karena pembantu rumah tangganya sedang pulang Keyra membersihkan kamar itu sendiri. Dia menata kamar itu seindah mungkin agar gadis kecil itu betah tinggal di sana.

“Keyra kita perlu berbicara,” ujar Dennis.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan,” sahut Keyra sambil terus merapikan kamar itu.

Keyra mendengar Dennis mengerang karena ucapannya. “Kau marah pada ku jadi tentu saja kita perlu berbicara.”

Keyra memang marah padanya, dia marah pada Dennis karena tidak mengatakan apapun tentang gadis kecil itu. Dennis seharusnya memberitahunya dari awal namun dia tidak melakukannya. Keyra memejamkan matanya kemudian menghela nafas. Dia membuka matanya dan berbalik untuk melihat Dennis yang tengah berdiri di ambang pintu, suaminya itu tampak kacau.

 

“Kenapa kau tidak memberitahu ku tentangnya ?” akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibirnya.

“Aku baru mengetahui semua ini dua hari yang lalu, dan belum tentu dia adalah anakku,” erang Dennis.

“Bagaimana mungkin kau meragukan anakmu sendiri ? Lihatlah dia, dia begitu mirip denganmu,” geram Keyra karena Dennis meragukan gadis kecil itu.

Dennis terdiam tidak mengatakan apapun untuk membalas ucapan Keyra. Dia tampaknya menyadari kemiripannya dengan bocah kecil itu.

“Mungkin dia memang benar anakku, tapi aku tidak menginginkannya. Kita bisa menyerahkannya kepan….”

“Dennis, hentikan,” bentak Keyra. “Aku tahu kau tidak menginginkannya, tapi bukan berarti kau bisa menyarankan hal konyol itu. Aku akan merawatnya.”

“Kenapa kau mau melakukannya ? Dia bukan anakmu.”

“Benar, dia memang bukan anakku, tapi dia adalah anakmu, darah dagingmu. Aku mau merawatnya karena dia adalah bagian dari dirimu, pria yang sangatku cintai,” Keyra terdiam menunggu Dennis mengatakan sesuatu namun ketika Dennis tidak mengatakan apapun Keyra melanjutkan. “Gadis kecil itu tidak melakukan kesalahan ? Kaulah yang salah, kau dan perempuan itu. Tapi kenapa harus dia yang menerima ketidak adilan ini ?,” Keyra berhenti untuk mengambil nafas. “Kau mencintaiku ?”

“Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu,” sahutnya.

“Maka bersikaplah menjadi ayah yang baik untuknya, demi diriku,” ujar Keyra.

 

Dennis tampak berpikir kemudian mengangguk. Keyra menghela nafas lega lalu melangkah mendekatinya dan memelukknya. Dennis membalas pelukan Keyra dan menguburkan wajahnya di leher Keyra dan menghirup aromanya. Dennis ketakutan, dan Keyra bisa merasakan ketakutan dalam dirinya.

Keyra melepaskan pelukkannya lalu memegang pipi Dennis. “Pergilah temui dia. Aku akan menyusulmu setelah selesai menyiapkan kamar ini.”

Dennis tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan tempat itu.

 

***

 

Setelah menidurkan Ellen, Keyra kembali kekamar dan meringkuk di atas ranjang bersama Dennis. Dennis memeluk Keyra erat seakan-akan dia akan lari jika Dennis tidak memeluknya dengan erat. Dennis takut kehilangannya, dan Keyra juga merasakan hal yang sama.

“Helen menyerahkan Ellen padaku karena calon suaminya tidak mau mengurus anak yang bukan miliknya. Aku mengatakan padanya agar menyerahkannya kepanti asuhan tapi dia tidak mau. Dia mengatakan akulah yang harus mengurusnya karena dia milikku,” setelah keheningan yang cukup lama Dennis akhirnya memulai pembicaraan.

Keyra mengakat kepalanya dari dada Dennis dan menatap wajah suaminya. “Dia benar, kaulah yang seharusnya mengursnya. Ellen membutuhkanmu, sayang,” Keyra lalu tersenyum tulus padanya. “Dan ibu akan sangat senang melihat cucunya yang begitu cantik.”

“Kau tidak marah ?” tanya Dennis terkejut melihat reaksi Keyra yang tidak akan pernah di dapatkannya pada perempuan manapun setelah mengetahui suaminya memiliki anak dari perempuan lain.

 

Keyra pada awalnya marah, tapi dia marah karena Dennis tidak memberitahunya tentang Ellen. Oh Tuhan, kebaikan apa yang pernahku lakukan di masa lalu hingga mendapatkan perempuan seperti Keyra ? Dennis bergumam dalam hati.

Keyra menggeleng lalu bangun dan mengecup bibir suaminya. “Semua terjadi di masa lalu, dan tidak ada satupun dari kita yang bisa merubahnya. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah menjadi orang tua terbaik untuknya,” Keyra menatap suamianya dengan tatapan lebut penuh cinta. “Bagaimana kalau dia memanggilku mama dan kau papa ? Oh ya ampun, itu pasti terdengar sangat menyenagkan.”

Keyra tersenyum senang saat mengatakan keingiannya. Senyumnya tampak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Dennis ingin membantah tapi melihat senyum itu, membuatnya memilih untuk menutup mulutnya. Dia tidak mau senyum itu hilang karena kebodohannya.

 

“Kau harus lebih sering tersenyum seperti itu dan aku akan memberikan apapun yang kau inginkan,” ujar Dennis.

“Benarkah ?” tanyanya riang.

“Tidak,” sahut Dennis yang membuat Keyra cemberut.

Keyra menjauh dari Dennis lalu menarik selimut hingga lehernya. “Aku mau tidur.”

“Hai kau tidak ingin bermain-main dulu ?” Dennis mendekatinya dan kembali memeluknya. Dia mencium pundaknya lalu berbisik di telinganya. “Kita bisa mencoba berbagai gaya malam ini.”

Keyra mendorongnya menjauh tapi tentu saja itu tidak akan mudah bagi Keyra.

“Aku lelah dan mengantuk.” Keyra lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

Dennis tertawa lalu menyusup kedalam selimut kemudian menggelitinya, membuat Keyra tertawa terbahak. Dan dalam sekejap mereka melupakan semua masalah yang terjadi hari ini.

 

Dennis berpikir hal buruk akan terjadi pada pernikahan mereka saat melihat Helen ketika tiba tadi. Dia benar-benar takut Keyra akan meninggalkannya setelah mengetahui semua ini, tapi untunglah apa yang di pikirkannya tidak terjadi. Keyra tidak meninggalkannya, dan dia bahkan mau merawat bocah kecil itu.

Keputusan untuk menikahi Keyra adalah keputusan terbaik yang pernah di ambil dalam hidupnya. Sekarang dia tahu kenapa ibunya begitu mencintai Keyra. Ibunya mencintai Keyra karena istrinya itu memiliki hati yang begitu tulus.

 

***

 

Setelah Dennis pulang dari kantor mereka semua pergi ke rumah nyonya Wayne. Keyra membujuk Dennis pergi kerumah ibunya untuk memperkenalkan Ellen pada ibunya. Keyra berpikir nyonya Wayne akan bahagia ketika Keyra memberitahunya tentang Ellen. Tapi ternyata apa yang ada di pikirkannya tidak sesuai dengan yang terjadi. Nyonya Wayne tidak senang dengan berita itu. Dan untuk pertama kalinya Keyra melihat nyonya Wayne begitu marah pada Dennis karena kecerobohan yang di buatnya di masa lalu.

 

“Oh Tuhan Dennis, ibu benar-benar tidak menyangka kau melakukan semua ini,” geram nyonya Wayne. Nyonya Wayne menggeleng lalu menatap gadis kecil itu kemudian menatap Keyra. “Seharusnya kau marah padanya dan meninggalkannya.”

“Mom ap…..”

“Diam,” nyonya Wayne berteriak marah pada Dennis. “Setelah semua yang kau lakukan kau masih berani berbicara.”

“Aku memang membuat kesalahan tapi aku melakukannya ketika aku masih sendiri tidak seperti ayah yan…..”

Plakkk

Sebuah tamparan mendarat di pipi Dennis. Keyra terlonjak dari tempatnya melihat kejadian itu. Dennis menatap ibunya dengan amarah dan tampak siap untuk berdebat namun Keyra segera menghentikannya sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi. Dennis menatap Keyra kemudian memejamkan mata dan melangkah pergi meninggalkan rumah itu.

 

“Pada awalnya aku memang marah, tapi aku menyadari tidak ada gunanya untuk marah. Semua sudah berlalu dan masa lalu tidak akan pernah bisa di ubah,” Keyra akhirnya berbicara.

“Masa lalu memang tidak bisa di ubah, tapi untuk memaafkannya ? Secepat itukah kau memaafkannya ?”

“Aku tidak bisa membencinya hanya karena kesalahan yang pernah di lakukannya di masa lalu. Saat dia membuat kesalahan itu aku belum masuk kedalam hidup Dennis jadi aku tidak bisa membencinya untuk itu,” gumam Keyra kemudian mengeratkan pelukannya di tubuh gadis kecil yang tengah ketakutan itu.

“Kau pasti sangat mencintainya ?”

“Dia adalah cinta dalam hidupku, alasanku tetap bertahan hidup,” sahut Keyra.

Nyonya Wayne menyentuh pipinya kemudian mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan Keyra di sana. Nyonya Wayne membutuhkan waktu sendiri untuk menenagkan pikirannya jadi Keyra tidak mengejarnya. Dia hanya menatap kepergian mertuanya itu.

 

“Mama,” Keyra terkejut mendengar Ellen memanggilnya mama. Dia menoleh pada gadis kecil yang kini tengah menatapnya dengan mata hijau besarnya.

“Kau memanggilku apa sayang ? Ulangi sekali lagi ?” pinta Keyra.

“Mama,” ujar Ellen.

“Oh sayang, putriku,” erang Keyra kemudian berlutu di hadapannya dan mencium seluruh wajah gadis kecil itu dan memeluknya.

Ellen memang bukan putri kandungnya tapi Keyra tidak bisa memungkiri kalau dia jatuh cinta pada gadis kecil itu semenjak pertama kali melihatnya. Naluri keibuannya membuatnya ingin melindunginya.

Keyra lalu mengangkatnya dan mengajaknya meninggalkan rumah itu. Karena Dennis telah pergi Keyra meminta supir nyonya Wayne mengantarnya pulang.

 

Ketika tiba di rumah Keyra melihat mobil Dennis terparkir di halaman. Dengan hati-hati dia mengangkat Ellen yang tengah tertidur dan membawanya keluar dari mobil. Keyra membawa Ellen masuk kedalam rumah kemudian menidurkannya di kamarnya. Setelah itu dia mencari Dennis di ruang kerjanya. Dia membuka pintu kerja Dennis dan menemukan suaminya itu tengah duduk di sofa dengan minuman di tangannya.

 

Keyra melangkah mendekatinya kemudian duduk di sampingnya dan memeluknya. Dennis tidak menolak pelukan itu, namun dia juga tidak membalasnya. Keyra memejamkan mata erat.

“Aku tidak baik untukmu,” gumam Dennis pada akhirnya lalu meletakan minuman itu di atas meja.

“Jangan berkata seperti itu, kau adalah pria terbaik yang pernah ada. Ibu mengatakan semua itu karena terkejut, setelah beberapa hari ibu akan membaik,” Keyra mencoba menenagkannya.

Dennis mengankat kepalanya dan menatap Keyra. “Suatu hari aku mungkin saja mengulangi perbuatanku.”

“Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku percaya padamu, “Keyra mengusap pipi Dennis dengan punggung tangannya. “Kau bukan lagi Dennis yang dulu. Sekarang kau sudah berubah menjadi lebih baik.”

“Dan bagaimana jika hal seperti ini terjadi lagi ? Maksudku, seseorang dari masa laluku datang dan melemparkanmu dengan pengetahuan betapa buruknya diriku di masa lalu ?”

“Dennis Wayne, dengarkan aku baik-baik,” dia mengeram marah karena merasa Dennis meragukannya. “Menerima lamaranmu berarti aku harus siap mendengar segala hal dari masa lalumu, dan sungguh aku tidak peduli dengan segala hal bodoh yang pernah terjadi di masa lalumu, seburuk apapun dirimu.” Setelah Keyra selesai mengucapkan kata-katanya Dennis mengecup bibirnya. “Apa menurutmu akan ada lagi seorang anak dari masa lalumu ?”

Dennis akhirnya tersenyum lalu menggeleng. “Tidak, hanya Evellen. Aku sangat berhati-hati saat meniduri seorang perempuan, dan ketika bersama Helen aku tengah sangat mabuk hingga aku tidak menyadari apa yang ku lakukan. Setelah beberapa minggu Helen mengajakku bertemu di café tempatmu bekerja dan memberitahu ku tentang kehamilannya. Aku mengatakan agar dia menggugurkannya tapi dia menolak yang membuatku begitu marah. Aku memakinya kemudian berdiri dan hendak melangkah pergi tapi kau menabrakku da….”

“Hai kau yang menabrakku,” protes Keyra, membuat senyum di bibir Dennis semakin lebar. “Jadi itu yang membuatmu begitu marah dan memakiku karena merasa aku yang menabrakmu ?”

 

Dennis menatap Keyra dengan hati-hati lalu mengangguk. Pengakuan Dennis membuat Keyra tertawa senang. Akhirnya setelah bertahun-tahun Dennis mengaku kesalahannya.

“Kenapa kau tertawa ?” tanya Dennis bingung.

“Karena kau pada akhirnya mengakui kesalahanmu,” sahut Keyra.

Dennis tersenyum lalu menarik Keyra lebih dekat dengannya dan menciumnya. Dennis menciumnya dengan bergairah. Dennis mendorongnya hingga dia terbaring di sofa kemudian Dennis menindihnya.

Keyra memejamkan mata ketika Dennis mulai membuka baju yang di kenakannya.

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 5 Sep 2016 in 18+, Novel, True Love Stories

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: