Posted in 18+, Novel, True Love Stories

We Belong Together Bab 9

we-belong-together

 

 

 

 

 

 

Dennis melepas pelukannya kemudian dia mengankat Keyra yang membuat istrinya itu menjerit. Dennis tersenyum lalu mencium bibir Keyra dan membawanya masuk kedalam.

“Aku sangat berat,” ujar Keyra.

“Tidak, siapa bilang ? Kau ringat seperti kapas,” sahutmya. Keyra memukul dadanya dengan main-main.

“Kau adalah seorang pembohong,” gerutu Keyra.

Dennis terkekeh kemudian dengan hati-hati membaringkan istrinya di ranjang. Dia lalu menyelimuti istrinya dan mencium dahinya. Dennis mengunci pintu kemudian kembali keranjang dan berbaring di samping istrinya. Dennis masuk kedalam selimut lalu menarik istriknya kedalam pelukannya. Keyra balas memeluknya kemudian mencium dadanya yang membuat miliknya mengeras.

 

“Sayang, jangan lakukan itu,” gumam Dennis dengan suara serak.

Keyra mengakat kepalanya, dan menatap kedalam matanya. “Lakukan apa ?”

“Menciumku, itu membuatku ingin menelanjangimu lalu bercinta denganmu seperti beberapa bulan terakhir,” erang Dennis.

Sudah hampir seminggu Dennis tidak bercinta dengan istrinya itu karena perut Keyra semakin besar. Dennis tidak tega untuk memintanya melayani nafsunya yang tidak pernah habis untuk Keyra.

 

Keyra tersenyum kemudian mengusap dada Dennis. Dia kembali mencium dada Dennis, membuatnya mengerang.

“Ayo lakukan,” ujarnya lalu melepas kancing piama Dennis satu persatu.

Dennis menggenggam tangannya untuk menghentikannya. “Jangan menggodaku. Kau tahu benar seperti apa pengaruh dirimu pada tubuhku, jadi jangan lakukan itu.”

“Dennis, aku menginginkanmu juga,” rengek Keyra.

“Tapi perutmu sudah semakin besar, dan aku tidak mungkin membiarkanmu melayaniku sementara perutmu sudah sangat besar,” erang Dennis menahan gairahnya yang semakin tinggi.

Keyra menggeleng lalu menurunkan tangannya, dan menggenggam kejantanan Dennis yang sudah mengeras. Dennis membelalak karena perbuatan Keyra.

“Sheline mengatakan bercinta di saat hamil melancarkan proses kelahiran, dan siapa bilang aku akan melayanimu,” ujarnya lalu mengelus kejantanan Dennis, dan sesekali memberikan pijatan lembut. “Kau yang akan melayaniku, dan kau tidak boleh menolah melayani istrimu yang sedang hamil.”

 

Kata-kata Keyra membuat Dennis kehilangan pikirannya. Dia menunduk dan mencium bibir Keyra dengan penuh gairah. Dennis mengerang di sela ciuman mereka karena Keyra tidak berhenti memainkan kejantanannya. Dennis menggenggam sisi gaun tidur yang di kenakan Keyra lalu merobeknya menjadi dua.

“Dennis…” teriak Keyra karena perbuatannya.

“Besok aku akan membelikan seribu gaun tidur yang seperti ini,” geram Dennis kasar lalu menyentuh payudara telanjang Keyra yang semakin membesar karena kehamilannya.

Dennis meremasnya dengan lembut membuat puting indah itu semakin membengkak karena gairah. Keyra mengerang nikmat, membuat Dennis semakin bergairah.

Dennis mencium puting indah milik istrinya lalu memainkannya dengan lidahnya kemudian memasukan puting itu kedalam mulutnya, dan menghisapnya kuat. Keyra mengeliat karena perbuatannya.

Dennis mengusap perut buncit Keyra kemudian menurunkan tangannya kebawahan dan berhenti di antara paha Keyra. Dennis lalu tersadar akan satu hal. Dia melepaskan puting itu dan menatap Keyra.

 

“Jadi dari tadi kau tidak mengunakan apapun di balik gaun tidurmu ?” tanya Dennis kasar. Sungguh dia tidak bermaksud berbicara seperti itu pada istrinya tapi gairah sudah menguasainya hingga dia tidak bisa mengontrol suaranya. Keyra menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk. “Sial, seharusnya aku menyadarinya dari tadi,” geramnya, dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

Dennis memasukan satu jarinya kedalam miliki Keyra yang sempit kemudian menggerakannya. Dennis mengerakan jemarinya sambil menghisap puting Keyra. Setelah puas dengan puting itu, Dennis gentian menghisap puting yang lain.

 

Ketika merasakan Keyra sudah dekat Dennis menarik keluar tangannya, membuat Keyra protes karena kehilangan tangan Dennis.

“Aku tidak ingin kau datang dengan tanganku,” Dennis mengecup bibir indah istrinya kemudian bangun, dan melepas celana sekaligus celana dalamnya. Dia juga melepas baju yang masih di kenakannya, lalu setelah itu dia kembali berbaring di samping Keyra. “Aku akan segera memasukimu jadi berbaliklah,” printah Dennis.

Keyra berbalik dan memunggungi Dennis. Dennis lalu mengakat sebelah kaki Keyra dan dengan perlahan masuk kedalam Keyra. Keyra mengerang saat kejantanan Dennis memenuhi dirinya.

 

“Aku sangat mencintaimu,” erang Dennis kemudian mencium bahu istrinya, dan menggerakan pinggulnya dengan perlahan.

Dennis menyelipkan jemarinya pada jemari Keyra kemudian menggenggamnya erat. Dia mencium bahu mulus Keyra lalu menegelamkan wajahnya di lekukan lehernya. Dennis mencium dan menggigit kecil di sana untuk meninggalkan jejak kepemilikannya. Dennis yakin tanda itu tidak akan menghilang dalam waktu singkat.

 

“Dennis, lebih cepat,” erang Kerya namun Dennis tidak menurutinya. Dennis takut sesuatu terjadi pada anak mereka jika bergerak seperti biasa.

“Dennis, ku mohon lebih cepat. Aku akan segera sampai,” erangnya lagi.

Kali ini Dennis menuruti permintaan istrinya, namun masih dalam tempo yang menurutnya aman. Beberapa saat kemudian Dennis merasakan milik Keyra mengetat lalu dia menjerit menyebut namanya ketika mendapatkan puncak kenikmatannya.

Dennis terus bergerak dalam ritme terjaga hingga beberapa saat kemudian Keyra kembali mendapatkan puncak kenikmatannya lalu Dennis mengikutinya. Dennis mencium punggunya dan mendekapnya erat. Mereka lalu terlelap karena kelelahan.

 

***

 

Siang itu Keyra mengajak Dennis dan Ellen menonton DVD di ruang keluarga. Dennis tidak pergi kekantor karena Keyra merengek agar Dennis tetap tinggal di rumah bersama dirinya.

Keyra berbaring di atas karpet bersama Ellen, sedangkan Dennis mengerjakan pekerjaan kantornya di sisi lain dalam ruangan itu. Film sudah di mulai namun Keyra tidak memperhatikannya karena sibuk menciumi pipi montok putrinya. Entah mengapa hari ini dia selalu ingin berada dekat dengan putri kecilnya itu.

 

“Mama menyayangimu,” ujarnya pada putri kecilnya yang tengah sibuk meminum susu dari botol susunya.

Gadis kecil itu mengangguk-angguk kecil lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Keyra. Ellen meletakan botol susunya yang telah kosong di sampingnya kemudian bangun dan mencium perut buncit Keyra.

 

“Tuan, ada tamu untuk anda,” ujar perlayan pada Dennis.

“Siapa ?” tanya Keyra sebelum Dennis bertanya.

“Saya tidak tahu nyonya, tapi beliau adalah seorang perempun,” sahut pelayan itu yang membuat Dennis mendapatkan tatapan tajam dari Keyra.

Dennis meringis karena tatapan tajam yang di berikan Keyra. Dia lalu merapikan berkas-berkas yang tengah di kerjakannya dan meletakannya di atas rak buku kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan itu.

Keyra dengan susah payah berdiri kemudian mengajak Ellen mengikuti Dennis. Akhir-akhir ini Keyra bersikap menjadi istri yang menyebalkan. Keyra menyadari betapa menyebalkan dirinya, tapi dia tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak menjadi istri menyebalkan.

 

Beberapa hari ini ketika Dennis akan meninggalkan rumah dia akan mulai bertanya kemana, dan dengan siapa Dennis akan pergi. Dia juga melarang Dennis terlalu dekat dengan asistennya yang menurutut Keyra sangat sexy. Keyra bahkan pernah mengusulkan Dennis untuk menganti asistennya dengan seorang pria yang di tolak mentah-mentah oleh Dennis.

 

Ketika tiba di ruang tamu Keyra melihat perempuan itu, Helen yang langsung berdiri saat Dennis melangkah menuju sofa. Perempuan itu memberikan Dennis senyuman menggoda yang membuat Keyra ingin menampar wajah cantiknya itu.

 

“Untuk apa kau kemari ?” tanya Dennis dingin. Tapi perempuan itu tampaknya tidak terpengaruh dengan semua itu.

Dennis duduk di sofa kemudian Keyra mengikutinya duduk di sampingnya lalu Ellen tanpa mempedulikan ibu kandungnya naik keatas pangkuan Dennis. Gadis kecil itu lalu memainkan kancing kemeja Dennis. Ellen bahkan tidak menoleh sedikitpun pada ibunya.

Helen tampak terkejut melihat kejadian itu. Sebelumnya Dennis menolak Ellen dan sekarang mereka sudah sangat dekat jadi wajar jika Helen terkejut melihat semua itu.

 

“Aku membatalkan pernikahanku, dan datang kemari untuk beberapa hal,” sahutnya sambil sesekali melirik Ellen yang kini tengah mengusap-ngusap perut buncit Keyra. Keyra melihat kilat kemarahan di mata Helen melihat apa yang di lakukan Ellen.

“Jika salah satu dari beberapa hal yang kau maksud adalah membawa Evellen pergi, sebaiknya kau pergi saja karena Evellen tidak akan pergi kemanapun,” gumam Dennis.

“Itu bukaln alasan ku datang kemari meski Evellen ada dalam beberapa hal yang ku maksud,” Helen menatap Dennis dengan tatapan penyesalan mendalam. “Aku tidak akan membawa Evellen pergi. Aku bekerja dan tidak memiliki siapapun untukku mintai tolong menjaganya jadi aku tidak akan membawanya pergi. Lagipula dia aman di sini bersama ayahnya.” Helen terdiam dan menatap Ellen sejenak dengan tatapan lembut. “Aku hanya ingin meminta ijin padamu untuk menemuinya di setiap kesempatan.”

“Kenapa kau tiba-tiba ingin melakukan semua itu ?”

“Aku membatalkan pernikahanku karena menyadari tidak seharunya aku menikah dengan pria yang tidak menginginkan putriku. Selama ini aku bersikap buruk pada putriku, dan aku menyesali semuanya. Sekarang aku ingin memperbaiki segalanya, dan akan mencoba menjadi ibu yang baik untuk putriku,” jelasnya namun Keyra tidak yakin dengan yang di ucapkannya

Dennis dan Keyra saling menatap. Seperti dirinya Dennis juga tampak tidak yakin dengan semua ucapan Helen. Helen telah menelantarkan Ellen dan sekarang dia tiba-tiba datang dan meminta ijin pada Dennis untuk memperbaiki semuanya dengan Ellen. Apakah Helen bersungguh-sungguh ?

 

“Papa adik Ellen bergerak lagi,” jerit Ellen senang. Gadis kecil itu lalu bangun dari pangkuan Dennis kemudian duduk di antara Dennis dan Keyra. Dia mencium perut Keyra. ”Mama adik Ellen menyayangi Ellen,” kali ini dia bernicara pada Keyra.

Keyra mengangguk dan mengusap punggungnya dengan lembut. Gadis kecil itu tersenyum senang dan sekali lagi dia mencium perut Keyra.

“Dia memanggilmu mama ?” tanya Helen terkejut.

“Tentu saja, kau pikir Evellen akan memanggilnya apa,” sahut Dennis tidak peduli dengan reaksi terkejut Helen.

Helen kembali menoleh pada Dennis. “Akulah ibunya, wanita yang melahirkannya.”

“Tapi kau melarangnya memangilmu mama atau semacamnya,” geram Dennis.

Helen tertegun, lalu dia tampak teringat sesuatu. Helen menghela nafas kamudian berkata. “Aku bersalah untuk itu, tapi tolong ijinkan aku untuk memperbaiki semua kesalahanku padanya.”

“Keputusan ada di tangan Keyra,” ujar Dennis lalu menoleh pada Keyra. Dia menggenggam tangan Keyra, “Bagaimana sayang ? Apa kau mengijinkannya ?”

 

Keyra menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar bingung harus menjawab apa. Helen adalah perempuan dari masa lalu Dennis, dan jika dia mengijinkannya apakah Dennis tidak akan tergoda lagi dengannya ? Tapi Keyra juga tidak akan bisa menolak karena Helen adalah ibu kandung Ellen, dan dia juga berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki segalanya dengan Ellen. Seandainya dia menjadi Helen mungkin dia akan merasa hancur jika tidak di ijinkan memberpaiki kesalahan yang di perbuatnya.

 

Dia menatap suaminya yang kini tengah menunggu jawabannya. “Ya.”

“Kau yakin ?” tanya Dennis, dan Keyra mengangguk sebagai jawabannya.

Keyra tidak tahu apakah yang di lakukannya benar atau salah, tapi dia yakin apa yang di lakukannya adalah yang terbaik untuk Ellen.

 

***

 

Setelah Helen pergi Keyra berbicara tentang semua itu dengan Dennis lalu dia mengajak suami dan putrinya berenang. Dennis memaksa Keyra mengunakan pakaian renang yang membuat lekukan tubuh Keyra terlihat jelas. Keyra benar-benar malu mengenakan pakaian itu, tapi Dennis memaksanya.

 

“Ayolah mama, lepas handukmu dan bergabung bersama kami,” ujar Dennis yang kini tengah berenang bersama Ellen.

Keyra mencengkram handuknya lalu menggeleng. “Bagaimana jika salah satu dari pengawalmu datang ke sini ? Dia akan melihatku, apa kau mau seseorang pria melihatku seperti ini ?”

“Tidak akan ada yang berani ketempat ini saat kita berada di sini,” sahut Dennis dengan nada geli. “Dan tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan pria lain melihatmu dalam balutan pakaian renang yang menggoda. Cepat turun atau aku akan naik dan menyeretmu kemari.”

Keyra cemberut karena kata-kata kasar Dennis. Dengan kesal dia membuka handuk yang melilit tubuhnya lalu meletakannya di atas kursi. Keyra kemudian bergabung bersama suami dan putrinya.

 

“Wow… bukankah mama terlihat sangat sexy Ellen ?” goda Dennis yang membuat Keyra semakin kesal.

“Sexy itu apa papa ?” tanya Ellen lalu menatap Dennis dengan wajah polosnya.

Dennis tampak terkejut mendegar pertanyaan Ellen. Dia mendengus lalu menggeleng. Sedangkan Keyra tertawa puas karena pertanyaan yang pastinya akan mendapatkan penjelasan cukup panjang itu.

“Kau harus menjelaskan itu papa,” sekarang Keyralah yang menggoda suaminya.

“Sexy itu seperti mama,” jawabnya.

Ellen menatap Keyra lalu kembali menatap Dennis. “Kenapa mama sexy ?”

“Kau akan mengetahuinya saat kau sudah dewasa nanti,” ujar Dennis lalu mencium dahi Ellen dan mengajaknya berenang agar dia tidak bertanya lagi.

Keyra terkekeh karena suaminya tahu harus melakukan apa untuk menghentikan putri mereka bertanya. Dia lalu mengikuti suaminya berenang. Saat kehamilannya memasuki bulan kedelapan Keyra menjadi lebih sering berenang. Sheline mengatakan berenang baik untuk kesehatannya dan bayinya.

 

Saat merasa lelak Keyra naik dari kolam kemudian melangkah menuju kursi yang ada di sana kemudian duduk di sana. Dia menutup tubuhnya dengan handuk lalu meminum jus jeruk yang di bawa Dennis tadi.

“Papa…” jerit Ellen ketika Dennis berenang menjauhinya. Gadis kecil itu ketakutan karena berpikir Dennis akan meninggalkannya di sana.

Dennis tertawa lalu kembali berenang mendekatinya. Dennis melepaskan pelampung bebek yang di kenakannya kemudian membawanya keluar dari kolam renang. Keyra tersenyum saat suami dan putrinya berjalan mendekatinya. Dia melihat Dennis semakin kompak dengan putri kecil mereka.

 

Dennis menurunkan Ellen di lantai dekat Keyra sehingga Keyra bisa mengeringkat tubuh putrinya itu dengan handuk.

“Mama tadi papa meninggalkan Ellen,” adu Ellen ketika Keyra mengeringkan tubuhnya.

“Papa hanya menggodamu, sayang. Papa tidak akan mungkin meninggalkan putri kesayangannya di dalam kolam,” sahut Keyra kemudian mencium pipi montoknya.

Dennis juga mengeringkat tubuhnya dengan handuk, dan setelah selesai dia duduk di kursi dekat Keyra kemudian mengakat Ellen, dan mendudukannya di atas pangkuannya. Dia lalu mengelitiki Ellen hingga gadis kecil itu tertawa terbahak.

Melihat kejadian itu membuat dada Keyra menghangat. Dennis tampak menikmati perannya sebagai seorang ayah. Keyra yakin Dennis akan menjadi ayah terbaik di dunia ini, dan keyakinannya itu terbukti. Dennis memang menjadi ayah terbaik.

 

Keyra bangun kemudian melilitkan handuk itu di tubuhnya. “Mama mau masuk.”

“Mama tidak mau berenang lagi ?” tanya Dennis.

“Mama sudah lelah papa,” sahut Keyra kemudian berjalan masuk kedalam rumah.

Keyra naik kelantai atas, dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Dia membersihkan dirinya lalu menganti pakaiannya. Seseorang mengetuk pintu kamarnya ketika dia telah selesai menganti pakaiannya.

 

Keyra melempar handuk di atas ranjang kemudian membuka pintu, dan menemukan Sheline berdiri di sana dengan senyum cerah terukir di bibirnya.

“Lihat apa yang ku bawa,” ujar Sheline sambil menujukan lukisan dirinya dan Dennis.

Keyra terpesona melihat lukisan itu. “Lukisan ini sangat indah.” gumamnya lalu mengambil kulisan itu dari tangan Sheline.

“Aku tahu kau pasti akan menyukainya. Kau bisa meminta Dennis memasang lukisan itu di manapun kau mau.”

“Kau yang melukisnya ?” tanya Keyra.

Sheline menggeleng. “Kenalanku, namanya Carline. Dia masih muda, dan sangat pandai melukis. Yang ini aku memesanya khusus untukmu.”

“Terima kasih, aku sangat menyukainya. Aku akan meminta Dennis memasangnya di ruang ta…..”

 

“Jadi kau belum menemukannya ?” geram Dennis tiba-tiba yang membuat ucapan Keyra terputus. “Kemana sebenarnya si brengsek itu dan apa yang di lakukannya selama ini ?”

Keyra meringisn mendengar Dennis berbicara dengan sangat kasar. Dia menarik Sheline masuk kedalam kamar kemudian menutup pintu agar tidak mendengarkan Dennis berbicara.

“Apa yang terjadi padanya ?” tanya Sheline bingung. Keyra mengajaknya duduk di ranjang.

“Sepupunya menghilang beberapa tahun yang lalu, dan tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Orang-orang yang Dennis bayar untuk mencarinya masih belum mengetahui keberadaannya. Ini sudah sangat lama, dan mereka masih belum bisa menemukan apapun tentangnya,” jelas Keyra.

“Kenapa dia bisa menghilang ? Apa menurutmu dia masih hidup ?”

“Dennis mengatakan dia melakukan sesuatu yang tak termaafkan, dan dia menyesali perbuatanya lalu menghilang begitu saja. Ku rasa masih karena Dennis akan tahu jika dia sudah mati,” sahut Keyra.

Sheline mengangguk kemudian mereka membicarakan tentang kehamilan mereka, meinggalkan topik tentang sepupu Dennis yang menghilang bertahun-tahun yang lalu. Keyra juga menceritakan tentang kedatangan Helen dan permintannya hari ini.

 

***

 

Helen muncul di rumah Dennis dan Keyra ketika mereka tengah makan malam. Dennis dan Keyra menemui Helen di ruang tamu, dan dia melihat perempuan itu membawa begitu banyak mainan untuk Ellen namun gadis kecil itu tampak tidak tertarik dengan semua mainan yang Helen bawa. Ellen menempel pada ayahnya seolah-olah dia meminta perlindungan. Saat Helen datang siang tadi Ellen tidak bersikap seperti itu.

 

“Ellen, mama membawa mainan untukmu. Coba lihatlah,” bujuk Helen sambil memperlihatkan mainan yang di pikirnya akan menarik perhatian Ellen. Helen tampak kesal karena Ellen mengabaikannya. Dia sudah berkali-kali menarik perhatian gadis kecil itu dengan maina-mainan yang di bawanya tapi semua itu sia-sia.

“Apa yang kau lakukan hanya akan membuatnya semakin takut,” desis Dennis.

“Kau harus membuatnya merasa nyaman,” ujar Keyra.

Helen mentap Keyra marah. “Kau tidak perlu memberitahu apa yang harus ku lakukan. Aku ibunya jadi aku tahu apa yang harus ku lakukan pada putriku, dan kau bukan siapa-siapa jadi diamlah.”

“Keyra ibunya,” geram Dennis. “Bagi Evellen Keyra adalah ibunya, dan kau bukan siapa-siapa baginya. Jika kau ingin memperbaiki segalanya dengan Evellen jadi ikuti apa yang Keyra katakan.”

“Mama Ellen mau kekamar,” ujar Ellen yang akhirnya berbicara. Dia lalu memeluk Keyra.

Helen berdiri dan melangkah mendekatinya. “Ayo kita kekamarmu.”

“Ellen tidak mau bersama tante itu. Ellen mau bersama mama,” regeknya pada Keyra.

“Evellen, akulah mama mu, bukan dia,” Helen mendesis marah karena Ellen memanggilnya seperti itu.

Dennis menatap Helen tajam. “Hentikan sikap menyebalkanmu itu atau aku akan menendangmu keluar. Bersikaplah seperti seharusnya seorang tamu lakukan.”

Suara Dennis tenang namun ada kemarahan dalam kata-katanya. Dennis tidak pernah berbicara seperti itu pada siapapun kecuali dia benar-benar marah. Dennis tampaknya marah karena Helen bersikap tidak menyenagkan pada Keyra.

 

“Dennis, kau tidak dengar putriku memanggilku apa ? Istrimu pasti sudah mengajarinya memanggilku seperti itu,” geram Helen.

“Evellen memanggulmu seperti itu karena kesalahanmu. Setelah melahirkannya kau membuangnya pada ibumu, dan setelah ibumu meninggal kau membuangnya pada kami. Kau tidak pernah memberikan kesempatan sedikitpun pada Evellen untuk mengetahui siapa dirimu.”

Wajah Helen memucat, entah itu karena ucapan Dennis atau merasa bersalah atas semua yang di lakukannya pada Ellen.

 

“Maaf, aku sedikit terbawa emosi karena Ellen menolakku,” ujar Helen pada Keyra, tapi Keyra merasa permintaan maaf itu tidak tulus karena cara Helen mengatakannya sedikit kasar.

Keyra hendak berbicara namun deringan ponsel Dennis membuatnya kembali menutup mulutnya. Dennis melihat layar ponselnya kemudian berdiri, dan melangkah meninggalkan tempat itu untuk mengakat telepon.

Sekarang hanya ada dia, Ellen dan Helen di ruangan itu. Helen menatap Ellen yang masih memeluk Keyra. Perempuan itu memutar matanya kemudian mengambil tasnya, dan tanpa mengatakan apapun meninggalkan rumah itu.

Helen bahkan tidak mengatakan apapun pada Ellen saat meinggalkan tempat itu. Keyra bingung dengan sikap Helen yang pergi begitu saja, namun dia merasa lega tidak harus terjebak di ruangan itu bersama perempuan itu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s