Posted in 18+, Novel, True Love Stories

We Belong Together Bab 12

we-belong-together

 

 

 

 

 

Sudah dua hari dan Keyra masih belum sadar. Dennis duduk di samping istrinya dan menggenggam tangannya erat. Semenjak Keyra di bawa keruangan itu Dennis tidak pernah meninggalkan tepatnya kecuali saat dia ingin kekamar kecil. Dia bahkan tidak pernah melihat putranya lagi setelah malam itu.

 

Dennis benar-benar ketakutan akan terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Dia tidak akan melepaskan Helen jika sesuatu yang buruk terjadi pada Keyranya. Tapi jika malam itu Dennis tidak lalai mungkin semua ini tidak akan terjadi sehingga mereka bisa menghabiskan malam di rumah baru mereka.

.

“Sayang. kumohon buka matamu. Kau harus melihat putra kita, mereka mengatakan Kyle sangat mirip denganku. Tapi aku tidak setuju dengan mereka, dia mirip denganmu,” Dennis mencium tangan Keyra yang ada di dalam genggamannya. ”Kembalilah padaku sayang, jangan biarkan aku terlalu lama menunggu dalam ketidak pastian ini. Aku tidak sanggup menghadapi semua ini lebih lama lagi,” erangnya lalu setitik air mata jatuh di pipinya.

Ini adalah pertama kalinya Dennis menagis untuk seseorang. Sebelumnya dia tidak pernah menagis untuk siapapun. Tapi sebelumnya dia tidak pernah memiliki seseorang yang di cintai sedalam ini. Keyra adalah perempuan satu-satunya yang membuatnya mencintai hingga seperti ini. Dennia menghapus air mata di pipinya kemudian menempelkan tangan Keyra di pipinya.

Keyra menjadi seperti ini karena Helen. Dennis bersumpah akan membuat perempuan itu membusuk di penjara karena telah membuat istrinya berbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit ini.

 

“Dennis,” suara lembut itu menyadarkan Dennis dari lamunannya. Dia menoleh kebelakang dan melihat Sheline berdiri di belakangnya dengan seorang bayi dalam gendongannya. “Aku membawa Kyle kemari. Mungkin dengan Kyle di sini Alena bisa segera sadar.” Perempuan itu lalu membawa Kyle Dennis Wayne mendekati Keyra kemudian dengan hati-hati dia membaringkan Kyle di samping Keyra. Setelah itu Sheline menoleh padanya. “Kau harus makan Dennis. Dari kemarin kau belum makan apapun. Alena tidak akan senang jika dia tahu kau tidak makan.” Sheline memanggil Keyra dengan nama aslinya.

“Aku tidak bisa,” sahutnya kemudian menatap putra kecilnya yang terlelap di samping ibunya. Ini adalah pertama kalinya Dennis menatap putranya, malam itu dia hanya meliatnya sekilas. Waktu itu dia sangat menghawatirkan istrinya sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi pada hal lain selain Keyra.

 

Ternyata benar apa yang mereka katakan. Kyle Wayne memang benar-benar mirip dengan dirinya. Kyle tampak seperti dirinya saat masih bayi. Dennis ingin menyentuhnya tapi dia takut Kyle akan terbangun dan menagis. Jadi dia tidak melakukan apapun selain menatapnya.

“Aku akan meninggalkan kalian. Jika dia menagis aku ada di luar bersama Ken,” ujar Sheline.

Dennis mengangguk lalu Sheline meninggalkan ruangan itu. Setelah pintu ruangan itu di tutup, dia kembali berbicara pada istrinya. “Lihatlah sayang putra kita ada di sini. Dan ternyata benar yang mereka katakan, Kyle sangat mirip denganku.”

 

Dennis terus mengajak Keyra berbicara seolah-olah istrinya itu bisa mendengar apapun yang di katakannya.

 

***

 

Ken hanya bisa melihat adiknya dari dinding kaca yang memisahkan mereka. Ken tidak bisa masuk kedalam karena dokter tidak mengijinkan dua orang menunggunya di dalam. Sebenarnya tidak boleh ada seorang yang menunggu di dalam, hanya Dennis memaksa dokter untuk mengijinkannya selalu berada di samping Keyra. Dennis adalah pemilik rumah sakit itu jadi dokter tidak bisa mencegahnya untuk tetap tinggal di sana. Ken juga berpikir dengan Dennis berada di sisi Keyra, dia bisa segera terbangun dari tidurnya yang mengerikan.

 

Beberapa saat kemudian Sheline keluar dari dalam ruangan itu. Ken melihat istrinya itu mengusap air mata di pipinya. Sebelumnya Sheline tidak pernah menagis di hadapan dirinya atau siapapun. Sheline hanya menagis saat tidak ada orang di sekitarnya.

“Selama aku menjadi dokter aku tidak pernah melihat kejadian seperti ini,” ujar Sheline kamudian memeluk pinggang Ken. Dia lalu melihat kedalam ruangan itu. “Dennis tampaknya sangat mencintai Keyra.”

Ken tidak pernah meragukan cinta Dennis untuk Keyra. Di hari ulang tahun Keyra Dennis memberinya tatapan peringatan kalau Keyra adalah miliknya dan tidak ada orang yang bisa mendapatkannya.

Ken mendekap istrinya kemudian mencium kepalanya. “Dari semenjak pertama kali kami bertemu secara langsung aku tahu kalau cinta Dennis begitu besar untuk adikku. Tatapannya pada Keyra adalah tatapan cinta dan pemujaan. Dennis adalah pria yang tepat untuknya, itulah mengapa aku tidak pernah melarang Dennis memperjuangkan cintanya. ”

 

Ken seharunya marah pada Dennis ketika Keyra pada akhirnya mengakui kenapa dia meninggalkan rumah pria itu, tapi dia tidak marah. Ken tahu Dennis tidak akan melakukan kesalahan bodoh yang akan menghancurkan pernikahan mereka. Keyra hanya tengah emosi saat itu jadi dia berpikir seperti itu tentang suaminya.

 

Ken lalu memejamkan mata kemudian berdoa dalam hati. ‘Tuhan tolong jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada adikku. Aku baru saja bertemu dengannya dan ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengannya.’

Ken membuka matanya dan melihat Dennis berdiri dan sedikit menguncang tubuh Keyra. Sheline melepaskan pelukannya dan segera masuk kedalam, Ken juga ikut masuk kedalam.

 

“Dennis,” panggil Sheline ketika mereka tiba di salam.

Dennis menoleh padanya. “Dia, Keyra, aku mendengarnya menggumamkan nama Kyle.”

“Sayang, tolong panggilkan dokter Canet,” ujar Sheline padanya.

Ken mengangguk lalu segera meninggalkan ruangan itu. Dia sedikit berlari agar cepat tiba di ruangan dokter Sean Canet. Ken memberitahu dokter itu apa yang terjadi lalu lelaki paruh baya itu bergegas menuju kamar tempat Keyra di rawat.

 

***

 

Sudah beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, dan Keyra masih belum sadar. Tapi Keyra sering mengigau menyebut nama Kyle atau Dennis. Dokter Canet mengatakan itu adalah kemajuan yang baik tapi hingga saat ini Keyra masih belum sadar, dan keadaannya masih belum stabil.

 

Pagi itu Dennis masih tertidur ketika dia merasakan seseorang menyentuh kepalanya. Dennis tersentak ketika merasakan sentuhan yang sangat familiar itu. Dia mengangat kepalanya dan bertemu dengan tatapan itu. Tatapan lembut yang beberapa hari ini sangat di rindukannya.

“Sayang, kau sudah sadar,” ujar Dennis serak karena baru terbangun dari tidurnya.

“Ky….” Keyra berdehem untuk mendapatkan suaranya. “Kyle,” bisiknya.

Dennis menggenggam tangannya kemudian menciumnya dengan penuh rasa syukur. “Dia baik-baik saja. Kyle setiap hari datang kemari untuk bertemu denganmu.” Dennis berdiri dan mencium dahinya. “Aku akan memanggil perawat.”

 

Dennis lalu menekan tombil di samping tempat tidur dan seorang perawat masuk kedalam ruangan itu.

“Anda sudah sadar nyonya Wayne ?” ujar perawat itu lalu memeriksa keadaan Keyra.

 

Sementara perawat itu memeriksa Keyra, Dennis meninggalkan ruangan itu dan ketika dia membuka pintu dia melihat Ken masih tertidur di sofa. Dennis ingin membangunkannya, tapi Ken tampaknya kelelahan setelah segala hal yang di laluinya. Ken pergi kekantor untuk mengerjakan pekerjaannya lalu datang ke rumah sakit untuk menjaga Keyra. Tapi sesekali dia pulang kerumah untuk menganti pakaiannya. Ken selalu tampak rapi, tidak seperti dirinya yang tampak sangat kacau. Dia tidak bercukur dan hanya beberapa kali menganti pakaiannya.

Dennis terlalu focus pada Keyra untuk memikirkan tentang penampilannya. Dia benar-benar tidak peduli bagaimana dia terlihat saat ini. Dennis pergi menuju kamar bayi, dan berbicara kepada perawat agar mengijinkannya membawa putranya keruang perawatan Keyra.

 

“Tentu saja tuan,” sahut perawat itu kemudian masuk kedalam ruangan bayi dan beberapa saat kemudian perawat itu kembali dengan Kyle dalam gendongannya. “Baby Kyle sudah bangun dan siap untuk bertemu dengan mamanya,” ujar perawat itu lalu dengan hati-hati perawat itu menyerahkan Kyle pada Dennis.

Dennis sebenarnya tidak berani melakukan semua ini, tapi karena semua ini demi Keyra dia memberanikan diri melakukannya.

“Hmm… teriama kasih,” ucapn Dennis kemudian membawa Kyle ketempat Keyra. Bayi mungil itu membuka matanya dan menatapnya dengan mata hijau besarnya kemudian dia menagis dengan sangat keras. “Hai hai kau tidak boleh menagis. Kau akan bertemu dengan mama.”

Dennis masuk kedalam ruangan dan tangis Kyle membuat Ken terbangun. Pria itu menatapnya dengan jengkek. “Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau membawanya kemari dalam keadaan seperti itu.”

“Aku ingin ibunya segera melihatnya,” sahutnya kemudian membawanya masuk kedalam ruangan Keyra. Perawat itu terkejut melihat Dennis membawa Kyle keruangan itu.

“Tuan Wayne, seharusnya anda tidak membawanya sekarang. Nonya Wayne membutuhkan istirahat,” ujar perawat itu dengan jengkel.

“Aku ingin melihatnya,” Keyra mengulurkan tangannya pada Dennis. Istrinya itu masih tampak lemah.

Dennis tersenyum lalu mendekatinya, dan duduk di sampingnya. Keyra menyentuh pipi Kyle yang tengah menagis itu. Keyra tersenyum dan air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.

Sedangkan Ken hanya berdiri di ambang pintu sambil menonton adiknya yang tengah mengagumi putra kecilnya itu.

 

“Aku ingin menyusuinya,” ujar Keyra pada perawat yang masih berdiri di sana.

“Tidak sekarang nyonya Wayne. Biarkan dokter Canet memeriksa anda dulu,” sahut perawat itu.

“Baiklah, tapi bisakah anda memberikan putra saya susu agar dia tidak menagis lagi ?” tanya Keyra.

Perewat itu mengangguk kemudian meninggalkan ruangan itu. Ken lalu melangkah masuk kedalam dan duduk di kursi samping ranjang.

“Bagaimana perasaanmu ?” Ken bertanya.

Keyra tersenyum lemah pada kakaknya itu kemudian berkata. “Baik, dimana Sheline ?”

“Di rumah, sebentar lagi dia akan datang.”

“Kenapa dia tidak datang bersamamu ?”

“Ken menginap di sini, dia hanya pulang untuk menganti pakaiannya. Aku sudah mengatakan padanya untuk pulang tapi dia tidak mau mendengarkanku. Dia bena-benar kejam membiarkan istrinya yang sedang hamil tinggal di rumah bersama pelayan,” sela Dennis.

“Kau tidak boleh melakukan hal itu pada Sheline. Kau harus menjadi suami yang baik ketika istrimu sedang hamil, seperti Dennis,” gumam Keyra jengkel.

 

Ken meringis karena ucapan Keyra. Pria itu pasti tidak setuju dengan ucapan Keyra yang mengatakan dia adalah suami yang baik. Meski dia telah melakukan begitu banyak kesalahan Keyra masih menganggapnya sebagai suami yang baik. Dennis sebenarnya tidak setuju dengan ucapan keyra tapi karena Ken ada di sini tentu saja dia tidak membantah. Dennis benar-benar senang melihat Ken kesal.

 

***

 

Setelah keadaan Keyra membaik dokter mengijinkannya menyusui putranya. Kini dokter telah memindahkan ruangannya sehingga siapapun bisa mengunjunginya. Ibu beserta kakek dan nenek Dennis kini tengah berada di sana. Mereka juga membawa Ellen bersama mereka. Keyra benar-benar senang saat melihat gadis kecil itu. Ellen kini tengah duduk di sampingnya sambil menatap adiknya yang tengah terlelap dalam dekapan Keyra, dan sesekali dia akan mencium tangan atau kepala adiknya.

 

“Dia sangat mirip denganmu,” gumam Keyra pada gadis kecil itu.

Ellen tersenyum senang karena ucapan Keyra kemudian mengusap pipi montok adiknya.

“Ibunya ingin membunuhmu tapi kau masih saja mau merawatnya,” nyonya Wayne berkata dengan nada tidak senang.

Kejadian malam itu membuat nyonya Wayne kembali menjauh dari Ellen. Nenek Wayne mengatakan nyonya Wayne tidak mau lagi mengurus Ellen setelah malam itu, jadi selama dia di rumah sakit nenek Wayne lah yang mengurus Ellen.

“Evellen tidak melakukan kesalahan jadi aku tidak mungkin berhenti merawatnya. Dia adalah putri Dennis, putriku juga,” sahut Keyra yang membuat nyonya Wayne menggeleng tidak senang.

 

Helen, Keyra belum bertanya pada Dennis apa yang terjadi pada perempuan itu. Tapi sepertinya dia tidak harus berbicara tentangnya melihat bagaimana sikap Dennis selama ini. Perempuan itu mungkin sudah mendapatkan balasan atas apa yang di lakukannya. Dennis tidak mungkin setenang itu jika perempuan itu masih bebas di luar sana.

“Kapan Dennis akan kembali ?” tanya kakek Wayne.

“Mungkin nanti malam. Aku memintanya pulang untuk beristirahat. Ken mengatakan selama beberapa hari ini dia selalu menungguku di sini dan jarang beristirahat, dan dia tampak begitu mengerikan,” sahutnya dengan senyum lembut di bibirnya.

“Beberapa hari ini dia memang benar-benar mengerikan. Dennis seperti mayat hidup,” komentar nenek Wayne. “Nenek tidak menyangka seorang Dennis Thomas Wayne bisa menjadi begitu mengerikan,” sambungnya dengan nada geli.

“Apa menurutmu itu lucu nenek tua ?” seru Dennis dengan tidak sopan.

 

Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menolah pada Dennis yang baru tiba kecuali Ellen tentunya. Gadis kecil itu tengah sibuk dengan adiknya.

“Kau tidak sopan pada nenek,” geram Keyra namun Dennis hanya tersenyum tanpa rasa bersalah. Pria itu melangkah mendekatinya kemudian duduk di sampingnya dan mencium dahinya. “Bukankah aku mengatakan agar kau beristirahat di rumah ? Tapi kenapa sekarang kau sudah ada di sini ?”

“Tentu saja karena dia tidak tahan berada jauh darimu,” nenek Wayne mencemooh Dennis. “Dia juga sepertinya tropsesi padamu jadi sebaiknya kau berhati-hati dengannya.”

Senyum Dennis semakin lebar. Pria itu mengedipkan sebelah matanya pada neneknya, dan mengeratkan pelukannya pada Keyra.

“Benar, kau harus berhati-hati padaku karena jika keadaanmu sudah jauh lebih baik aku akan membuatmu terkunci di dalam kamar bersamaku dan tidak akan pernah bisa keluar lagi,” gurau Dennis yang membuat kedua pipi Keyra memerah.

“Oh Tuhan, aku tidak menyangka cucumu semesum dirimu,” gerutu nenek Wayne pada suaminya.

 

Dennis tertawa karena ucapan neneknya, begitu juga dengan Keyra bahkan nyonya Wayne yang dari tadi hanya diam ikut tertawa. Suasana ruangan itu menjadi lebih santai dari sebelumnya. Kyle yang tertidur pulas terbangun karena tawa mereka. Bayi mungil menagis dengan keras.

“Berikan pada ibu, dari tadi ibu belum menggendongnya karena nenek dan kakek menguasainya,” ujar nyonya Wayne kemudian berdiri dan mengambil Kyle dari dekapan Keyra.

Nyonya Wayne mencium dahi cucunya itu dengan sayang kemudian menimangnya, membuatnya terdiam. Nyonya Wayne tampak bahagia menerima Kyle dalam pelukannya. Sedangkan Ellen cemberut karena kehilangan adiknya.

Keyra tersenyum padanya kemudian memeluknya dan mencium dahinya. Ellen memang putri Helen tapi gadis kecil ini tidak tahu apa yang terjadi, dan dia tidak bisa membencinya hanya karena kesalahan yang di perbuat ibunya. Lagipula Ellen mengetahui Keyra lah ibunya bukan Helen.

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku ?” ujar Keyra pada suaminya.

Sekali lagi Dennis mencium dahinya. “Aku tidak bisa tidur jadi dari pada di rumah aku lebih baik menemanimu di sini. Hmm… rumah itu,“ Dennis tampak berpikir kemudian berbicara. “Apa sebaiknya kita menjualnya dan membeli yang baru ?”

“Kenapa kau harus menjualnya ?” tanyanya bingung.

“Karena aku hampir kehilanganmu di sana,” sahut Dennis.

“Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta pada rumah itu. Dan kita bisa menutup kenangan buruk itu dengan menciptakan banyak kenagan indah di sana. Aku ingin tinggal di sana Dennis, dan membesarkan anak-anak kita di sana.”

 

Rumah itu adalah rumah yang sempura dan dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Dennis di sana. Dennis telah membeli rumah itu dan membuat semuanya terlihat sempurna untuk dirinya jadi dia tidak mau menjual rumah itu hanya karena sebuah kejadian yang menurut Dennis mengerikan. Kejadian itu memang mengerikan tapi tidak berarti mereka harus menjual rumah itu karena kejadian itu.

 

***

 

Sore itu Dennis keluar membeli buah untuk Keyra karena istrinya itu tiba-tiba ingin memakan buah. Dennis pergi ke supermarket yang letaknya tak begitu jauh dari rumah sakit. Dia membeli beberapa buah yang di inginkan Keyra kemudian membayarnya di kasir. Pengunjung di supermarket sore itu tengah ramai yang membuat Dennis harus mengantri.

 

“Dennis,” ujar suara lembut yang berasal dari belakangnya. Dennis menoleh dan mendapati seorang perempuan cantik berdiri tepat di belakangnya. Dia terkejut melihat perempuan yang sudah cukup lama tidak di temuinya berada di supermarket itu. “Kau Dennis Wayne kan ?”

“Hmm… Alexa,” ujar Dennis pada perempuan cantik itu. Dia sudah sangat lama tidak bertemu dengannya, tapi dia masih mengingatnya karena Alexa tidak pernah berubah. Dia masih cantik seperti terakhir kali dia melihatnya, dua belas tahun yang lalu.

Perempuan itu tersenyum manis. “Hai kau mengingatku ? Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu Dennis ?”

“Tentu saja, kau tidak berubah, masih tampak cantik seperti dua belas tahun yang lalu,” sahutnya dan tersenyum pada perempuan yang pernah di cintainya itu. “Kabarku, seperti yang kau lihat. Lalu kau, bagaiman kabarmu ? Dan apa yang kau lakukan di sini ? Bukankah kau sudah pindah ke Italia ?”

“Sangat baik. Aku memang pindah kesana tapi aku merindukan tempat ini jadi aku kembali,” jelasnya kemudian melihat jam di tangannya. “Masih banyak waktu sebelum bertemu dengan sepupuku.“ gumamnya dan kembali menatap Dennis. “Setelah ini maukah kau makan bersamaku ? Aku masih ingin berbicara denganmu.”

Dennis mengangguk, entah mengapa dia masih saja tidak bisa menolak perempuan ini. Setelah membayar buah itu dia pergi ke café bersama perempuan itu.

 

Alexa Johnson adalah cinta pertama Dennis, mereka pernah menjadi sepasang kekasih saat masih kuliah dulu . Hubungan mereka hanya berlangsung selama beberapa tahun. Mereka berpisah karena Alexa dan keluarganya pindah ke Italia. Dennis sempat terpukul karena kepergian Alexa namun semua itu tidak berlangsung lama karena Dennis menemukan sesuatu yang membuatnya melupakan Alexa.

Alexa kembali kenegara ini setelah bertahun-tahun pergi, dan perempuan itu bahkan tidak berubah. Dia masih secantik dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s