Posted in 18+, Novel

Journey of Love Bab 1

 

 

 

 

 

 

 

Sudah empat tahun setelah Axel meninggalkannya dalam rasa sakit yang tak tertahankan. Aziela melalui tahun demi tahun dalam sebuah penantian, berharap Axel akan kembali dan menjelaskan semua yang terjadi, meski di dalam surat yang di tulis untuknya jelas mengatakan dia tidak akan pernah kembali lagi. Dalam surat itu Axel jelas mengatakan untuk tidak pernah menunggunya karena dia tidak akan pernah kembali lalu kemudian dia mengakhiri suratnya dengan permintaan maaf, tidak ada penjelasan mengapa dia pergi.

 

Bertahun-tahun Aziela hidup dengan keyakinan bahwa Axel akan kembali suatu hari nanti, tapi sekarang keyakinan itu telah musnah. Aziela telah memutuskan bahwa Axel tidak akan pernah kembali seperti yang di tulisnya dalam surat, dan putranya yang kini telah berusia tiga tahun tidak akan pernah mengetahui siapa papanya.

 

 

Aziela kini telah memulai hidup barunya bersama putranya, Azeel Williams.

“Mamaaaaaaa…..” Azeel berteriak dari dalam rumah kemudian berlari keluar.

Aziela tersenyum lembut ketika melihat putra kecilnya itu berlari keluar menyambut kedatangannya. Aziela menghampirnya lalu mengakatnya dan mencium kedua pipi montoknya.

“Bagaimana hari pertama mu masuk sekolah ?” tanyanya.

“Menyenangkan, Ajeel memiliki banyak teman,” sahutnya dengan riang, “Dan ibu guru cantik mengajari kami mewarnai.”

“Wow itu pasti sangat menyenagkan. Apa besok kau mau pergi sekolah lagi ? ” ujarnya yang di jawab Azeel dengan anggukan riang. Aziela kembali mencium pipinya, “Kalau begitu mari kita pulang, tapi sebelumnya kita berpamitan pada nenek.”

 

Azeel merosot turun dari gendongan mamanya kemudian kembali berlari masuk kedalam rumah untuk mencari neneknya, nyonya Williams. Aziela masih berhubungan baik dengan keluarga Williams. Hanya mereka yang di miliki Aziela setelah ayahnya meninggal, hampir empat tahun yang lalu. Ayahnya meninggal setelah dua minggu kepergian Axel.

 

“Kau sudah pulang, sayang ?” ujar nyonya Williams ketika Aziela melangkah masuk kedalam ruangan di mana mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Aziela mengangguk kemudian duduk di samping nyonya Williams.

“Ya, hari ini terasa sangat melelahkan,” keluhnya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu nyonya Williams.

Nyonya Williams tersenyum lalu mengusap punggung Aziela dengan lembut, membuatnya merasa nyaman. Aziela memejamkan mata menikmati belaian lembut dari seorang wanita yang sudah di anggapnya seperti ibunya sendiri.

 

“Kau ingin makan sesuatu ?” tanya nyonya Williams.

Aziela menggeleng, “Kami akan segera pulang mom.”

“Kenapa kalian tidak menginap saja ?”

“Mungkin lain kali mom, besok aku harus mengurus banyak hal di restoran,” sahut Aziela yang membuat nyonya Williams kecewa. Aziela sungguh tidak ingin membuatnya kecewa tapi dia harus mengurus banyak hal di restoran yang membuatnya harus tiba di sana pagi-pagi sekali. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk mengurus restorannya yang hampir bangkrut karena pengunjung restoran mulai sepi.

 

“Sebaiknya kami pulang sekarang,” ujar Aziela lalu berdiri, “Tolong katakan pada Dev untuk menjemputnya lebih pagi, dan ucapan terimakasih ku untuknya.”

Nyonya Williams kembali tersenyum dan mengangguk, Azeel mendekatinya dan memberikan ciuman di pipinya sebelum akhirnya mereka pulang.

 

❄❄

 

Aziela bagun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk Azeel. Setelah selesai membuat makanan kesukaan Azeel, dia pergi kekamar putranya untuk membangunkannya. Dia harus mempersiapkan putranya lebih awal pagi ini karena harus mengurus sesuatu di restorannya.

 

“Bagun sayang, mama sudah membuatkan makanan kesukaan mu dan paman Dev sebentar lagi akan tiba di sini,” ujarnya dengan lembut.

Azeel bergerak namun bocah kecil itu tidak membuka matanya. Aziela tersenyum lalu memberikan kecupan di kedua pipi montoknya.

“Mama,” rengeknya karena tidurnya terganggu.

“Ayo bangun sayang, kemarin kau mengatakan ingin pergi sekolah lagi kan,” bujuk Aziela.

Azeel membuka matanya lalu melingkarkan tangannya di leher Aziela. Aziela mencium kepalanya kemudian mengangkatnya dan membawanya kedalam kamar mandi. Dia menurunkan Azeel di atas lantai kamar mandi yang dingin itu, membuatnya menjerit kedinginan. Aziela terkekeh karena tingkah putranya lalu berlutut di hadapannya.

 

“Kau merengek seperti gadis kecil,” godanya yang membuat Azeel cemberut.

Aziela melepas piamanya lalu mengangkatnya dan menurunkannya didalam bathup yang telah terisi air hangat. Aziela memandikan Azeel dan membantunya menggosok gigi.

 

Setelah selesai memandikan Azeel, Aziela membantunya bersiap-siap lalu setelah itu dia mengajak putranya sarapan. Bocah kecil itu memakan makanannya dengan lahap.

“Paman Devin akan menjemput mu lebih awal pagi ini,” ujar Aziela.

“Ajeel akan meminta mainan baru pada paman Dev,” jeritnya senang.

Aziela terkekeh karena ucapan putranya, Azeel selalu meminta mainan baru pada Devin setiap kali mereka keluar bersama, dan Devin tidak akan pernah mampu menolak keinginan keponakan kesayangannya ini.

 

 

Beberapa menit kemudian Devin tiba di sana, dan Azeel segera berlari menemui pamannya. Aziela menyusul putranya dan Devin di teras.

“Kenapa kau tidak memberitahu ku tentang restoran mu ?” ujar Devin saat Aziela melangkah mendekati mereka.

“Tidak ada hal yang serius Dev, kami hanya menghadapi masalah kecil,” sahut Aziela berbohong.

“Bagaimana mungkin kau mengatakan itu hanya masalah kecil ? Restoran mu hampir bangkrut dan kau mengatakan kau hanya menghadapi masalah kecil ? Apa sebenarnya yang terjadi pada mu Aziela ?” geram Devin.

“Aku sudah berusaha agar menarik banyak pengunjung tapi semua yang ku lakukan sia-sia. Tidak ada yang bisa ku lakukan Dev, mungkin aku tidak cocok di bidang ini,” ujarnya.

Devin meringis melihat Aziela yang tampak begitu tenang menghadapi masalahnya, “Kau masih bisa terlihat tenang dalam keadaan seperti ini, aku benar-benar tidak bisa mengerti diri mu.”

“Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini,” sahutnya lalu berlutut di hadapan putraya yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraannya dan Devin, “Jangan nakal dan habiskan bekal mu,” ujarnya pada putranya.

Azeel mengangguk lalu mencium kedua pipinya bergantian. Aziela tersenyum lalu gentian dia yang mencium pipi putranya, dia kembali menatap Devin.

 

“Cepat bawa dia,” perintahnya pada Devin, “Dan jangan lupa menjemputnya.”

Devin memutar matanya karena ucapan Aziela.

“Itu tidak sopan Devin Alexander Williams,” ujar Aziela.

Devin mengabaikannya lalu membawa keponakannya pergi dan Aziela kembali masuk kedalam rumah untuk bersiap-siap pergi ke restoran.

 

❄❄

 

“Apa kau yakin akan menjualnya ?” tanya Rico, teman Aziela saat di kampus dulu.

Dulu Aziela begitu akrab dengannya, namun ketika Rico mengungkapkan perasaannya Aziela menjauh. Aziela takut Rico semakin berharap padanya, sementara saat itu dia tengah menjalin hubungan dengan Axel. Setelah Aziela menjauh, Rico menghilang dari kampus, teman-temannya mengatakan dia pindah keluar negeri. Aziela tidak pernah lagi bertemu dengannya hingga beberapa bulan yang lalu, Aziela tak sengaja menabraknya ketika dia tengah membeli obat untuk nyonya Williams di apotik. Entah bagaimana hingga dia kembali berhubungan dengannya dan kini dia menjual restorannya pada Rico.

 

“Tentu saja, tidak ada yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan restoran ini,” sahut Aziela sedih karena harus menjual restoran yang tiga tahun ini di kelolanya.

“Aku bisa membantu mu membangkitkannya kembali,” tawarnya..

Aziela menggeleng, “Terima kasih Rico, tapi itu tidak perlu, aku tidak mau merepotkan mu.”

“Baiklah,” ujar Rico.

“Aku akan segera mengurus semuanya dan dalam beberapa hari restoran ini menjadi milik mu,” Aziela menghela nafas lalu berdiri, “Kalau begitu aku akan pergi, terima kasih kau sudah mau membantu ku.”

“Kau teman ku jadi aku akan selalu membantu mu, Aziela,” sahut Rico lalu ikut berdiri, “Ku harap besok kita bisa bertemu lagi.”

Aziela hanya tersenyum menanggapi ucapan pria itu, dia mengambil tasnya di atas meja lalu melangkah pergi meninggalkan restoran itu.

 

Untuk berikutnya Aziela akan melakukan sesuatu yang benar-benar bisa di lakukannya. Dia tidak ingin gagal lagi seperti sebelumnya, sebelum membuka usaha restoran dia pernah mencoba usaha lain namun hasilnya selalu gagal. Dari semua usaha yang pernah di rintisnya, restoran itu yang bertahan paling lama. Dia tidak tahu usaha apa yang harus di rintisnya agar bisa bertahan.

Aziela mungkin harus mengurus hotel peninggalan ayahnya. Tapi jika dia mengurus hotel itu bisakah dia menghabiskan banyak waktu bersama putranya ? Dia tidak ingin pekerjaan menyita waktunya bersama putranya, tapi dia bisa meminta bantuan Devin untuk mengurusnya bukan ? Devin pasti mau membantunya.

 

❄❄

 

Aziela menemui tuan Fran, orang kepercayaan ayahnya yang selama ini mengurus hotel miliknya. Aziela memberitahukannya tentang kesiapannya untuk mengambil kendali atas hotel itu, setelah semua beres, Aziela membeli makanan untuk Azeel kemudian menjeputnya di rumah nyonya Williams. Aziela selalu menitipkan putranya di rumah nyonya Williams selama dia bekerja.

 

Aziela tiba di rumah nyonya Williams setelah hampir tiga puluh menit. Azeel tidak berlari keluar seperti biasa ketika dia tiba di sana. Aziela keluar dari mobil kemudian melangkah memasuki rumah.

 

“Ajeel,” panggil Aziela ketika melangkah masuk.

Nyonya Williams muncul dari dalam ruangan keluarga, wanita paruh baya itu lalu memberikannya isyarat agar dia diam.

“Dia tertidur setelah kelelahan bermain,” bisik nyonya Williams.

Aziela tersenyum dan mengangguk, dia melangkah masuk kedalam ruangan itu dan melihat putra kecilnya tengah terlelap. Aziela duduk di sampingnya kemudian meletakan makanan itu di sampingnya dan mengecup dahinya.

 

“Apa restoran mu baik-baik saja, sayang ?” tanya nyonya Williams pelan.

Aziela menggeleng, “Beberapa bulan ini restoran sepi, kami tidak memiliki pelangan satupun. Kami sudah melakukan banyak cara agar restoran kembali rame tapi itu sia-sia, jadi aku memutuskan untuk menjualnya dan akan mengurus hotel.”

“Itu adalah berita yang menyenangkan, mommy senang mendengarnya,” ujar nyonya Williams.

Aziela tersenyum karena ucapan nyonya Williams, dia menatap putranya dan kembali mencium dahinya.

“Dia benar-benar seperti Axel saat masih kecil,” gumam nyonya Willams sambil menatap cucunya.

“Hmm… aku iri padanya karena Azeel lebih mirip dia dari pada aku,” sahutnya tak membantah.

 

Aziela tak membantah karena itu memang benar, Azeel memang sangat mirip dengannya, dia memiliki mata biru terang Axel dan wajahnya pun begitu mirip. Aziela bisa melihat Axel dalam diri putranya, mungkin saat Azeel dewasa nanti, dia akan menjadi seperti papanya.

 

“Kenapa kau tidak menikah Aziela ?” tanya nyonya Williams tiba-tiba yang membuat Aziela terkejut.

Setelah Axel meninggalkannya, Aziela tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan special dengan seorang pria. Selama ini dia hanya berpikir tentang bagaimana membuat putranya bahagia.

“Menikah..” ujarnya mengulangi ucapan nyonya Williams.

“Ya, agar Azeel memiliki ayah,” sahut nyonya Williams.

“Aku tidak pernah berpikir tentang itu.”

“Kau tidak pernah berpikir atau kau memang tidak ingin memikirkannya ?”

“Aku tidak pernah berpikir dan tidak ingin memikirkannya,” gumam Aziela.

“Apa itu karena Axel, Aziela ?” nyonya Williams menatap Aziela dengan hati-hati.

 

Aziela tahu tanpa dia menjawabpun, nyonya Williams tahu jawaban apa yang akan di berikan. Hanya ada dua pria di dalam hatinya dan akan seperti itu selamanya, hanya akan ada Axel dan putranya, tidak akan pernah ada yang lain.

 

❄❄

 

Aziela pulang kerumahnya setelah Azeel terbangun, namun bocah kecil itu kembali tertidur dalam perjalanan pulang. Aziela keluar dari mobil kemudian turun dan berlari ke sisi penumpang untuk membawa putranya keluar. Dengan hati-hati Aziela mengakat Azeel agar tidurnya tak terganggu, dia menutup pintu mobil kemudian mambawanya masuk.

 

Bocah kecil itu terbangun ketika Aziela membawanya masuk.

“Mama…” rengeknya.

“Kau sudah bangun sayang ?” ujar Aziela.

“Haus,” gumamnya.

Aziela tersenyum lalu kemudian membawanya ke sofa dan mendudukkannya di sana, “Tunggu di sini, mama akan mengambilkan mu minuman.”

Azeel mengangguk lalu berbaring di sofa. Aziela tersenyum dan mencium dahinya kemudian melangkah kedapur untuk mengambilkan putra kecilnya itu minuman.

 

Aziela mengambil jus di dalam kulkas kemudian menuangkannya di dalam gelas, setelah itu dia kembali ketempat di mana putranya berada. Azeel duduk kemudian mengambil jus itu dari tangan mamanya dan meminumnya. Dalam satu kali tegukan, Azeel menghabiskan jus itu.

“Kau pasti sangat haus,” ujar Aziela lalu duduk di sampingnya.

Azeel kembali berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya, “Ajeel ingin bertemu papa.”

 

 

 

 

 

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s