Posted in 18+, Novel

Journey of Love Bab 2

 

 

 

 

 

 

 

Aziela tertegun mendengar ucapan putranya, dia tidak menyangka Azeel akan mengatakan hal itu, sekarang apa yang harus di katakannya ? Dia tidak mungkin mengatakan mereka tidak akan pernah bisa bertemu Axel, karena papanya itu tidak akan pernah kembali pada mereka, kebenaran itu akan menghancurkan hatinya. Aziela tidak ingin menghancurkan hatinya jadi dia memilih untuk membohonginya.

 

“Jika kau menjadi anak yang baik, kau pasti bisa bertemu dengan papa mu,” ujar Aziela berbohong.

‘Oh Tuhan rasanya sangat menyakitkan mengatakan kebohongan ini padanya,’ batinnya. Aziela tidak ingin membohonginya, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain berbohong padanya.

“Ajeel akan menjadi anak yang baik mama. Ajeel akan menuruti mama, nenek, paman Dev dan ibu guru. Ajeel juga akan menghabiskan makanan yang mama buatkan,” sahutnya polos.

 

Mendengar jawaban Azeel membuat dadaya terasa nyeri, Aziela berjanji tidak akan pernah membohonginya lagi, ini akan menjadi kebohongannya yang pertama dan terakhir. Jika saja saat itu Aziela mengatakan tentang kehamilannya pada Axel, mungkin dia dan Azeel tidak akan hidup seperti ini, Axel mungkin masih akan bersama mereka jika dia tidak melakukan kebodohan itu. Tapi akankah Axel tetap berada di sisinya jika dia mengetahui tentang kehamilannya ? Mungkinkah Axel akan menerima kehamilannya ? Dulu Axel bahkan selalu menghindarinya ketika dia membahas tentang seorang bayi. Alasan itu yang membuat Aziela tidak memberitahu Axel sebelum pernikahan mereka berlangsung.

Tiba-tiba saja Aziela merasa keputusannya untuk tidak memberitahu Axel tentang kehamilannya saat itu adalah keputusan terbaik. Mungkin jika Axel mengetahuinya lalu kemudian meninggalkannya akan terasa lebih menyakitkan lagi.

 

Aziela memejamkan matanya dan membelai rambut coklat putranya dengan sayang, “Mama sangat menyayangi mu dan mama akan berusaha menjadi seperti yang kau inginkan.”

 

❄❄

 

Sudah seminggu setelah tuan James Francos mengumumkan bahwa Aziela adalah putri tuan  Roland Joseph, pewaris hotel mewah itu dan seluruh kekayaan tuan Joseph. Aziela benar-benar bingung ketika tuan Fran mengatakan dia adalah pewaris dari semua kekayaan ayahnya. Bukankah ayahnya hanya memiliki hotel ini ? Tapi kenapa tuan Fran mengatakan dia adalah pewaris seluruh kekayaan ayahnya ? Apa itu artinya ayahnya masih memiliki aset lain ?

 

Aziela sudah bertanya arti dari kata-katanya waktu itu, namun tuan Fran mengatakan belum saatnya Aziela mengetahui semua tentang ayahnya. Ayahnya menyembunyikan banyak hal dari dirinya, pertama tentang ibunya dan sekarang apa lagi ? Aziela tidak pernah tahu tentang ibunya, setiap kali dia bertanya, ayahnya selalu menolak untuk menjawab tentang itu. Siapa sebenarnya ibunya ? Dan ayahnya ?

 

Devin masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, “Aku tidak menemukan apapun tentang siapa sebenarnya Roland Joseph,” gumamnya lalu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu, “Ayah mu tampaknya telah menduga semua ini akan terjadi.”

“Menurut mu siapa sebenarnya ayah ku ? Apa dia adalah seorang penjahat ?” tanya Aziela yang di sambut tawa oleh Devin, “Kenapa kau tertawa ?”

“Bagaimana mungkin kau berpikir seperti itu ?” Devin menggeleng, “Aku rasa bukan seperti itu, ayah mu menyembunyikan identitasnya dan kurasa ini tentang seluruh kekayaan yang di milikinya. Apa ayah mu tidak pernah mengatakan apapun tentang keluarga mu ?”

Aziela mengangguk, “Ayah ku tidak pernah mau bercerita tentang keluarga kami. Aku tidak pernah tahu tentang mereka, satu-satunya keluarga yang ku ketahui adalah ayah ku, menurut mu mengapa ayah ku melakukan semua ini ?”

“Entahlah, tapi ku rasa ayah mu melakukan semua ini untuk melindungi mu,” sahut Devin.

 

‘Untuk melindunginya ? Melindunginya dari apa ? Apa ayahnya memiliki musuh ? Tapi jika ayahnya memiliki musuh, kehidupan mereka tidak mungkin setenang ini,’ batin Aziela. Dia benar-benar bingung dengan semua ini, itu sebabnya dia  meminta Devin mencari tahu tentang ayahnya. Tapi semua yang di lakukannya sia-sia karena Devin tidak mendapatkan petunjuk apapun mengenai ayahnya. Ayahnya menyimpan rahasia ini dengan sangat rapi.

 

‘Kenapa semua ini menjadi seperti ini ?’ Aziela lagi-lagi membatin.

 

Devin berdehem lalu berdiri, “Sudah saatnya aku menjemput Azeel”

“Biar aku saja yang menjemputnya. Kau kembali bekerja saja,” ujar Aziela.

Devin mengangguk lalu kemudian mereka keluar bersama dari ruangan itu, mereka berpisah di parkiran. Devin kembali kekantornya, sedangkan Aziela pergi menjemput putranya yang biasanya di lakukan Devin. Devin dan nyonya Williams sudah terlalu banyak membantunya mengurus Azeel, sekarang dia harus belajar untuk mengurus putranya sendiri. Aziela yakin Devin dan nyonya Williams tidak akan keberatan menjaga Azeel selama dia bekerja, namun dia tidak bisa terus bergantung pada mereka. Aziela akan merawat anaknya tanpa bantuan siapapun.

 

Aziela akan memberitahukan pada nyonya Williams tentang itu nanti, mereka akan menganggapnya tidak sopan jika memutuskan semua itu tanpa memberitahu mereka.

 

❄❄

 

Azeel berteriak senang ketika melihat mamanya datang menjemputnya. Bocah kecil itu berteriak memanggil mamanya dan berlari kearah Aziela lalu kemudian memeluknya. Aziela tersenyum lalu mencium kedua pipi montoknya.

 

“Kemana paman Dev ? Kenapa mama yang menjemput Ajeel ?” tanya Azeel.

“Mulai sekarang mama yang akan mengantar dan menjemput Ajeel,” sahut Aziela, membuat bocah kecil itu berteriak senang.

Aziela sekali lagi mencium pipinya kemudian menggendongnya dan membawanya masuk kedalam mobil. Dia mengajak Azeel pulang kerumah ayahnya yang tidak pernah di tempati setelah kepergian ayahnya. Aziela meninggalkan rumah itu karena merasa bersalah pada ayahnya karena telah melangar peraturan yang di buat ayahnya.

 

Aziela sebenarnya tidak ingin kembali kerumah itu namun tuan Fran berhasil membujuknya kembali tinggal di sana. Kembali kerumah itu membuatnya kembali merasa bersalah karena melangar peraturan yang di buat ayahnya.

Semua sudah lama berlalu  namun rasa bersalah itu tak kunjung hilang. Kesalahan yang di perbuatnya sangat besar, membuatnya tak bisa melupakan semua itu, tapi Aziela tidak menyesali semua itu, karena dengan menyesali kesalahannya dia juga menyesali kehadiran Azeel. Bagaimana mungkin dia menyesali semua itu sementara dia mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar sebagai ganti dari rasa sakit yang di dapatkannya.

 

Aziela mengajak putranya masuk kedalam lalu seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka. Azeel tersenyum ketika melihat wanita itu, dia melepaskan genggaman tangannya pada mamanya dan berlari memeluk wanita itu.

“Nenek Rini, Ajeel sudah pulang sekolah,” ujarnya pada wanita itu.

Wanita itu tersenyum dan membalas pelukannya lalu mencium kedua pipinya, “Nenek merindukan mu.”

“Ajeel juga merindukan nenek Rini,” sahut Azeel ceria.

Aziela tersenyum melihat putranya yang telah mulai akrab dengan wanita yang telah membesarkannya itu. Ibu Rini sudah sangat lama ikut dengan keluarganya, dia yang mengantikan sosok ibu yang tidak pernah di kenalnya. Ibu Rini lah yang mengurus rumah itu setelah Aziela pergi. Sejujurnya dia merasa malu bertemu dengan ibu Rini setelah semua yang di lakukannya, tapi tuan Fran membuatnya harus menahan rasa itu.

 

“Ayo sekarang kita ganti pakaian mu,” ujar wanita itu lalu menggendong Azeel kemudian membawanya kedalam kamarnya. Ibu Rini merawat Azeel dengan kasih sayang, seperti ketika merawatnya dulu.

 

Setelah ibu Rini membawa Azeel kekamarnya, Aziela melangkah menuju sofa lalu membanting tubuhnya di sana. Entah mengapa hari ini dia merasa kelelahan, padahal dia tidak mengerjakan apapun hari ini.

Aziela mengambil ponselnya lalu mencari nomor telepon nyonya Williams kemudian menghubunginya. Nyonya Williams mengakat teleponnya dalam deringan ke dua.

 

“Mom,” sapa Aziela setelah nyonya Williams mengankat teleponnya.

“Ya sayang ? Di mana Azeel ?” sahutnya.

“Azeel sedang menganti pakaiannya. Hmm… mom, aku tidak ingin mommy tersinggung,” Aziela menghela nafas, “Mulai hari ini aku tidak akan menitip Azeel di sana lagi, tapi aku berjanji akan mengajaknya menginap di sana setiap akhir pekan,” ujarnya agar nyonya Williams tidak tersinggung dengan keputusan yang di ambilnya.

“Kau marah pada mommy ? Apa kar….”

“Tidak mom, aku tidak marah, aku hanya ingin menjadi ibu yang baik untuknya, aku ingin selalu ada untuknya ketika dia membutuhkan ku,” selanya.

Aziela mendengar nyonya Williams menghela nafas, “Baiklah, tapi kau harus janji membawanya menginap setiap akhir pekan.”

“Aku berjanji mom, baiklah aku akan mengurusnya dulu. Aku menyayangi mu mom,” ujarnya sebelum mengakhiri telepon itu.

Setelah mengakhiri pembicaraan itu, Aziela menyusul Azeel dan ibu Rini di kamar Azeel.

 

❄❄

 

“Maafkan aku Rico, aku benar-benar tidak bisa, aku tidak mungkin meninggalkan putra ku sendiri di rumah,” ujar Aziela pada Rico yang terus saja memaksanya untuk makan malam di luar.

Setelah pertemuan mereka waktu itu, Rico selalu menghubunginya dan mengajaknya makan di luar, namun Aziela selalu menolaknya. Pria itu tidak pernah menyerah mengajaknya keluar.

“Kau bisa membawanya bersama mu, ayolah Aziela, ku mohon,” pintanya.

“Tidak bisa Rico, Azeel tidak akan mau keluar bersama orang lain selain Devin dan nyonya Williams.” Aziela masih berusaha menolaknya.

“Dia belum pernah bertemu dengan ku, jadi siapa yang tahu,” Rico terus berusaha membujuk Aziela meski dia tahu hasilnya akan selalu sama.

“Azeel tidak seperti anak-anak lain yang akan mudah luluh hanya dengan sebuah permen. Sekali lagi aku minta maaf,” ujar Aziela lalu mengakhiri telepon itu.

 

Apa yang Aziela lakukan memang tidak sopan, namun Rico tidak akan berhenti  membujuknya hingga dia memenuhi ajakannya untuk makan malam bersamanya. Sekeras apapun Rico berusaha, Aziela tidak akan pernah mau keluar bersama dengannya.

 

Aziela meletakan ponselnya di atas nakas lalu kemudian menyusul Azeel dan ibu Rini yang tengah bermain di ruang keluarga.

“Paman Dev liat ini,” jerit Azeel dengan bersemangat.

“Wow… kau memang benar-benar cerdas,” puji Devin.

Aziela tersenyum mendengar suara pria itu, seharian ini Devin belum bertemu dengan Azeel jadi dia datang ke sana untuk bertemu dengan keponakan kesayangannya itu. Ketika tiba di tempat itu, Aziela melihat Azeel masih belajar mewarnai dengan di bantu oleh Devin.

 

“Dev, kau di sini ?” ujar Aziela.

Pria itu menoleh padanya dan tersenyum, ”Seperti yang kau lihat. Mom memberitahu ku kalau kau tidak akan menitipkannya di rumah lagi.”

“Jadi karena itu kau datang kemari ?” Aziela menatapnya curiga.

“Tidak, hari ini aku tidak bertemu dengannya yang membuat ku sangat merindukannya dan aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu,” ujar Devin sambil melirik Azeel yang tengah sibuk mewarnai.

 

Aziela tersenyum kemudian melangkah mendekati mereka, dia lalu duduk di samping putranya dan melirik gambar yang tengah di warnainya. Aziela mengusap kepala putranya dengan sayang.

“Mom juga memberitahu ku kalau kau akan mengajaknya menginap setiap akhir pekan. Apa kau yakin dengan rencana mu itu ?” tanya Devin.

“Tentu saja, ada apa Devin ? Kau terlihat khawatir ?” ujar Aziela bingung melihat raut wajah Devin yang tampak khawatir.

Devin menatapnya lekat kemudian menghela nafas, “Aziela, Axel kembali.” Ucapan Devin membuat Aziela tertegun, “Tapi dia tidak sendiri, Axel kembali bersama calon istrinya.”

 

❄❄

 

‘Axel kembali bersama calon istrinya.’ kata-kata Devin terus menggema di dalam benaknya.

Dia menanti Axel begitu lama tapi sekaran apa yang terjadi ? Axel kembali membawa calon istrinya. Rasanya sangat menyakitkan ketika Devin memberitahukannya tentang semua itu. Aziela memang sudah lama berhenti menantinya, namun rasa saki itu masih terasa begitu menyakitkan.

 

 

Aziela telah berjanji pada nyonya Williams untuk mengajak Azeel menginap setiap akhir pekan di sana, tapi sekarang Axel ada di rumah itu bersama calon istrinya. Bagaimana dia bisa menghadapi Axel dan calon istrinya jika nanti Aziela membawa putranya ke sana ? Dia belum siap untuk bertemu dengan mereka, tapi bagaimana mungkin dia mengingkari janjinya pada nyonya Williams.

‘Oh Tuhan apa yang harus ku lakukan sekarang ?’ gumam Aziela dalam hati.

 

Aziela mengusap kepala putranya yang telah terlelap di sampingnya. Azeel sangat ingin bertemu dengan papanya dan harapannya itu akan segera terwujud. Dia akan segera bertemu dengan papanya. Tapi akankah Axel menerimanya ? Aziela takut Azeel akan mendapatkan penolakan dari Axel jika mereka bertemu nanti. Dia tidak akan pernah sanggup melihat anaknya kecewa jika Axel benar-benar menolaknya.

 

Aziela menggeleng menepis pikiran buruk yang mulai merasuki otaknya. Azeel tidak akan pernah mendapatkan penolakan dari siapapun, dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Aziela mencium dahi putranya lalu kemudian bangun dan menyelimutinya. Dia keluar dari kamar itu dan melangkah menuju dapur.

 

Saat tiba di dapur Aziela melihat ibu Rini tengah membersihkan dapur.

“Kenapa ibu masih di sini ?” tanya Aziela.

Wanita itu menolah padanya dan tersenyum, “Ibu belum mengantuk. Dia sudah tidur ?”

“Ya, setelah tiga buku cerita akhirnya dia tidur juga,” sahut Aziela lalu kemudian membuka kulkas dan menuang air di dalam gelas.

“Ibu mendengar pembicaraan mu dengan tuan Devin,” ujar ibu Rini dengan hati hati, “Bagaimana perasaan mu setelah mengetahui dia kembali lagi ?”

Aziela meletakan gelas kosong itu di atas meja kemudian bersandar di dinding, “Sakit,” gumamnya jujur, “Aku sudah bisa melupakannya, tapi ketika Devin memberitahu ku dia kembali bersama calon istrinya rasanya sangat menyakitkan. Rasanya seperti seseorang menusukkan pisau ke jantung ku lalu memutarnya.”

Ibu Rini mendekatinya lalu mengusap lengannya dengan lembut, membuat Aziela merasa nyaman. Aziela tidak pernah bisa berbohong padanya, ibu Rini akan tahu ketika dia berbohong.

 

“Kau sudah berjanji pada nyonya Williams untuk mengajak Azeel menginap setiap akhir pekan di sana, apa kau akan tetap membawa Azeel menginap di sana ?” tanya ibu Rini.

“Aku tidak bisa mengingkari janji ku padanya, nyonya Williams sudah seperti ibu ku sendiri. Dia akan kecewa pada ku jika aku mengingkari janji yang telah ku buat,” sahut Aziela.

“Kalau begitu kau harus menguatkan hati mu.” ibu Rini terus mengusap lengannya.

 

Aziela mengangguk namun dia tak yakin bisa melakukannya. Besok dia akan mengajak Azeel menginap di rumah nyonya Williams. Apakah Axel mengajak calon istrinya tinggal di rumah itu ? Nyonya Williams tidak akan membiarkan Axel tidur di hotel sementara mereka sudah sangat lama tidak bertemu. Devin tidak memberitahunya Axel tinggal di mana selama dia di sini jadi Aziela yakin pria itu tinggal di rumah nyonya Williams.

Bisakah dia menghadapi semua yang akan terjadi ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s