RSS

Journey of Love Bab 3

29 Oct

 

 

 

 

 

 

 

 

Aziela memasukkan beberapa pakaian Azeel kedalam tas yang akan di bawanya untuk menginap hari ini. Aziela memutuskan untuk tidak ikut menginap bersama putranya di sana, setelah berpikir semalaman. Pagi tadi dia menghubungi Devin untuk menjemput putranya, nyonya Williams mungkin akan kecewa karena dia tidak ikut namun nyonya Williams pasti mengerti. Aziela tidak siap untuk bertemu dengan Axel dan calon istrinya.

 

“Kenapa mama tidak ikut ? Ajeel mau mama ikut,” rengek Azeel yang tengah memainkan mainan barunya.

“Mama tidak bisa sayang, besok mama akan mengerjakan sesuatu yang penting,” sahutnya berbohong.

Dia sudah dua kali membohongi putranya, tapi kebohongan sebelumnya terjadi karena dia tidak ingin putranya bersedih. Tapi sekarang Axel benar-benar telah kembali dan Azeel akan segera bertemu dengannya.

 

Setelah selesai memasukan pakaian Azeel ke dalam tasnya, Aziela mengajaknya menunggu Devin di teras. Aziela duduk di sofa lalu kemudian Azeel  naik kepangkuannya. Aziela tersenyum kemudian memeluknya dan mencium pipi montoknya.

Beberapa saat kemudian Devin tiba di sana, Azeel segera turun dari pangkuan Aziela dan berlari menghampiri Devin.  Aziela tersenyum melihat putranya yang begitu bersemangat ketika melihat Devin, dia bangun dan mengikuti putranya menghampiri pria itu.

 

“Paman Dev, Ajeel tidak memberitahu mama kalau hari ini paman datang ke sekolah Ajeel untuk bertemu ibu guru cantik, jadi apa Ajeel akan mendapatkan es krim ?” seru bocah kecil itu ketika Devin keluar dari mobilnya.

Devin meringis karena ucapan bocah kecil itu, “Kau sudah membongkarnya Williams.”

“Kau menyuap putra ku, Devin Williams,” geram Aziela.

“Aku tidak menyuapnya nyonya Williams, aku hanya ingin memberinya hadiah karena menjaga rahasia tapi dia sudah membongkarnya sekarang.”

“Aku bukan nyonya Williams, berhenti memanggil ku seperti itu, dan yang kau lakukan sama saja dengan menyuapnya. Jangan sampai aku mengadukan mu pada mommy karena telah berani mengajari putra ku perbuatan seperti itu, mommy pasti akan mencekik mu jika tahu apa yang kau lakukan,” omelnya.

Devin memutar matanya kemudian mengambil tas Azeel di tangan Aziela lalu memasukannya kedalam mobil. Dia mengangkat bocah kecil itu dan mendudukkannya di kursi penumpang. Devin menunduk dan mencium pipi Aziela yang membuat Azeel menjerit marah karena Devin mencium mamanya.

 

“Dia seperti papanya,” gerutu Devin, “Aku akan pergi, mommy pasti sudah menunggunya di rumah.”

“Hmm…. hati-hati Devin, dan ingat jangan coba-coba mengulangi perbuatan mu,” ujar Aziela.

Devin lagi-lagi memutar matanya lalu masuk kedalam mobil. Azeel tersenyum ceria lalu melambaikan tangan padanya.

Aziela tersenyum melihat putranya yang tampak sangat bersemangat pergi kerumah neneknya. Azeel biasanya tidak mau menginap tanpa Aziela namun kali ini putranya itu tidak merengek seperti biasa ketika Aziela mengatakan dia akan pergi sendiri.

Mungkin itu karena dia akan bertemu dengan papanya,’ batin Aziela.

Dia menghela nafas lalu kembali masuk kedalam rumah.

 

❄❄

 

Azeel duduk dengan tenang di samping Devin yang tengah mengemudi. Bocah kecil itu biasanya bertanya segala hal namun hari ini dia tampak begitu pendiam. Azeel menjadi pendiam seperti ini pasti karena kejadian tadi.

 

“Kau marah pada paman karena mencium mama mu ?” tanya Devin namun bocah kecil itu tidak menjawab.

Devin tersenyum lalu mengusap kepala Azeel. Azeel tidak pernah suka ketika seseorang menyentuh mamanya, dia akan marah jika seseorang menyentuh mamanya. Azeel Williams, benar-benar mirip seperti papanya.

 

Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah, Devin membawanya keluar. Azeel segera berlari masuk kedalam rumah mencari neneknya. Devin yakin dia akan mengadukannya pada neneknya karena mencium mamanya.

 

Devin menyusulnya masuk kedalam rumah, dia bertemu dengan Axel ketika melangkah masuk. Axel tampak bingung saat Devin masuk dengan membawa tas anak-anak di tangannya.

“Tas siapa yang kau bawa ?” tanya Axel.

Devin tidak menjawab, dia melangkah mendekati Axel dan menyerahkan tas itu padanya.

“Azeel malam ini kau bisa tidur bersama papa mu,” teriak Devin sebagai jawaban dari pertanyaan Axel. Devin lalu melangkah meninggalkannya yang tampak tertegun karena ucapannya.

Axel belum mengetahui tentang Azeel, Devin tidak memberitahunya karena ibunya melarangnya untuk memberitahunya. Nyonya Williams ingin Axel langsung bertemu dengan Azeel.

 

❄❄

 

Axel masih tertegun mendengar ucapan adiknya itu. Siapa Azeel ? Kenapa Devin mengatakan Axel adalah papanya ? Axel lalu mendengar suara seorang anak merengek dari dalam ruang keluarga. Axel meletakan tas itu di atas sofa lalu kemudian melangkah kearah sumber suara.

 

“Nenek harus menarik telinga paman Dev,” rengek seorang bocah laki-laki pada ibunya.

Bocah kecil itu berdiri di hadapan ibunya sambil menghentak-hentakan kakinya di karpet. Cara bocah kecil itu merengek persis seperti Aziela ketika gadis itu menginginkan sesuatu darinya.

Aziela ? Dia belum bertemu dengan gadis itu, Axel berencana akan menemuinya besok dan menjelaskan semua yang teradi, tapi tuan Franco menghubunginya semalam dan memintanya membantu Aziela mengurus hotel dan semua aset peninggalan tuan Joseph. Lelaki tua itu juga memintanya untuk tetap merahasiakan semua yang terjadi sampai saatnya tiba untuk Axel memberitahunya.

 

“Mom,” panggil Axel yang membuat bocah kecil itu menoleh padanya.

Axel tertegun ketika bocah kecil itu menolah padanya, dia seperti melihat bayangan dirinya saat masih kecil. Bocah kecil itu segera duduk di pangkuan nyonya Williams kemudian menenggelamkan wajahnya di leher wanita itu. Nyonya Williams tersenyum kemudian mengusap lengan bocah kecil itu dengan lembut.

 

“Hai ada apa Ajeel ? Apa kau malu hmm ?” ujar nyonya Williams pada bocah kecil itu.

“Aku tidak tahu kalau seorang Azeel Joseph Williams bisa malu,” gumam Devin di balekang Axel. Pria itu melangkah masuk kedalam ruangan dengan es krim dan mainan di tangannya, dia kemudian duduk di samping ibunya, “Hai bocah tengik…”

“Devin, berani sekali kau memanggil cucu ku seperti itu,” seru nyonya Williams.

Devin tersenyum tanpa dosa lalu kemudian mencium pipi ibunya, “Maafkan aku nyonya.”

Nyonya Williams memelototinya lalu kemudian menoleh pada Axel yang masih berdiri di depan pintu. Wanita itu memberikan isyarat pada putranya untuk masuk kedalam dan duduk di sampingnya.

Tanpa mengatakan apapun Axel mengikuti isyarat yang di berika ibunya. Dia masuk kedalam dan duduk di sisi yang lain.

 

“Ajeel papa mu ada di sini sekarang, bukankah kau ingin bertemu dengan papa mu ?” bujuk nyonya Williams.

“Mom,” ujar Axel meminta penjelasan.

“Dia putra mu yang kau tinggalkan ketika dia masih dua bulan berada di dalam kandungan Aziela,” sela Devin tajam.

“Devin,” seru nyonya Williams memperingatkan Devin untuk tidak bersikap kasar pada Axel.

Devin mendengus lalu kembali membujuk Azeel agar mau memaafkannya. Devin menujukkan mainan dan es krim di tangannya membuat bocah kecil itu tersenyum senang.

 

Axel masih terkejut mendengar ucapan Devin. Bocah kecil itu putranya dan dia tahu kalau selama ini dia memiliki seorang putra. Aziela tidak pernah mengatakan apapun tentang kehamilannya. Jika saja Aziela memberitahunya mungkin semua ini tidak akan menjadi seperti ini.

 

Axel melirik bocah kecil yang kini tengah sibuk bermain dengan mainan yang Devin berikan.

‘Azeel Joseph Williams,’ Axel menyebut nama putranya dalam hati. Azeel begitu mirip dengan dirinya dan sedikit Aziela dalam dirinya.

“Ajeel mau es krim,” ujar bocah kecil itu lalu merebut es krim dari tangan Devin.

Dia duduk di karpet lalu meletakan mainannya di sampingnya kemudian memakan es krim itu dengan lahap. Caranya memakan es krim, persis seperti Aziela.

 

“Azeel sering menanyakan mu,” ujar ibunya ketika dia tengah memperhatikan bocah kecil itu makan, “Dia tidak mudah dekat dengan seseorang jadi mulailah mendekatinya.”

Axel mengangguk lalu kemudian tersenyum ketika Azeel mengelap mulutnya dengan kemeja Devin. Devin hanya bisa mengerang karena perbuatan bocah kecil itu, Devin tidak bisa berbuat apa-apa. Axel tidak menyangka seorang Devin Alexander Williams yang begitu keras kepala dan pemarah bisa begitu sabar menghadapi seorang anak kecil.

 

“Sayang…”

Suara itu menyadarkannya dari lamunannya. Sontak semua orang dalam ruangan itu menolah pada seorang perempuan cantik yang tengah berdiri di depan pintu.

“Paman, apa itu penyihir ?” bisik Azeel pada Devin yang membuat pria itu tertawa terbahak.

Perempuan itu menggunakan pakaian minim dan make up tebal, mungkin itu sebabnya Azeel bertanya seperti itu pada Devin.

 

Perempuan itu menatap Devin yang tiba-tiba tertawa lalu kemudian memutar matanya dan melangkah kedalam ruangan itu. Axel melirik ibunya yang tampak tak senang dengan penampilan Selly, tunangannya. Ketika perempuan itu duduk Axel berdiri kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu, membuat perempuan itu jengkel.

 

Axel benar-benar tidak mengharapkan perempuan itu muncul di saat seperti ini. Jika saja dia bisa menolak ketika lelaki tua itu memintanya bertunagan dengan Selly, mungkin sekarang perempuan sialan itu masih ada di negaranya. Semenjak pertunangan itu, Selly selalu mengikuti kemanapun dia pergi, Axel benar-benar tidak senang dengan yang di lakukan perempuan itu.

 

“Papa, Ajeel ikut,” ujar Azeel, membuat Axel tertegun. Bocah kecil itu berlari mendekatinya dan menggenggam tangannya, “Papa, Ajeel mau mainan yang banyak.”

Ucapan bocah kecil itu membuatnya menolah pada Devin yang kini tengah sibuk membaca koran di tangannya. Dia lalu melirik Selly yang tampak terkejut, dan ibunya hanya tersenyum. Axel kembali menatap putranya yang kini tengah menatapnya dengan mata birunya.

“Ya, kau akan mendapatkan mainan yang banyak,” sahut Axel, membuat mata putranya berbinar.

Dia lalu mengajak Azeel pergi ke mall untuk membeli mainan.

 

❄❄

 

Axel mengajak Azeel berkeliling di mall untuk mencari mainan yang belum di miliki Azeel. Seseorang menghubungi Axel ketika dia tengah sibuk mencari mainan untuk putranya. Axel menarik keluar ponselnya di dalam saku celananya dan melihat nama Selly di sana, dengan malas dia menjawab telepon itu.

 

“Axel, jelaskan pada ku apa maksud semua itu ?” serunya setelah Axel menjawab teleponnya.

“Apa yang harus ku jelaskan ? Bukankah semua sudah jelas ?” gumam Axel malas.

“Jadi benar dia anak mu ?”

“Dia memanggil ku papa, apa itu tidak cukup jelas untuk mu ?”  Axel tidak pernah bisa berpura-pura pada perempuan ini. Axel berharap dengan Selly mengetahui semua ini, dia bisa membuatnya menjauh dari dirinya.

“Kenapa kau menyembunyikan semua ini dari ku ?” Selly mengeram.

“Tidak ada gunanya aku memberitahu mu,” ujar Axel.

“Axel, aku tuna…..”

 

Axel mengakhiri panggilan itu sebelun Selly menyelesaikan ucapannya. Dia benar-benar tidak suka mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Selly. Axel melanjutkan kegiatannya memilih mainan bersama putra kecilnya itu.

“Papa, Ajeel mau yang itu, motor badman,” ujarnya saat melihat sebuah motor persis seperti yang di gunakan batman di dalam film. Bocah kecil itu berlari mendekati motor itu lalu naik ke atasnya. Azeel ternyata begitu menggemari tokoh film yang satu itu.

Axel tersenyum dan melangkah mendekatinya, “Ayo kita membayarnya.”

“Papa akan membeli motor ini untuk Ajeel ?” tanyanya riang.

Axel mengangguk, membuat putranya itu menjerit senang. Axel lalu mengajaknya membayar semua mainan yang di belinya juga motor yang di inginkan Azeel. Setelah itu Axel mengajaknya makan.

 

Axel memesan makanan untuk mereka, dan semua makanan yang ingin Azeel makan adalah makanan favorit Aziela. Ketika makanan pesanan mereka tiba, Azeel memakan makanannya dengan lahap. Setelah Azeel menghabiskan makananya mereka pulang kerumah.

 

Nyonya Williams benar-benar terkejut melihat banyaknya mainan yang di beli Axel untuk putranya.

“Papa kapan motor Ajeel di antar ?” tanya Azeel ketika mereka masuk kedalam.

“Besok, jadi sekarang cepatlah tidur agar kau bisa segera melihatnya,” sahut Axel.

“Ajeel mau tidur bersama papa,” ujarnya yang membuat nyonya Williams tersenyum.

Axel mengangguk, Azeel lalu berlari kelantai atas di mana kamar papanya berada.

“Dia tampak begitu bahagia, mommy tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya,” gumam nyonya Williams sambil menatap cucunya yang tengah menaiki tangga, dia lalu menoleh pada putranya, “Dia tidak pernah bersikap seperti itu pada siapapun. Devin hanya mengatakan kau akan memberikanya banyak mainan jika dia pergi dengan mu, lalu dia bangun dan mengejar mu. Dulu Devin pernah memintanya menjemputnya di restoran Aziela namun dia menolak pergi bersama supir itu meski Devin menjanjikan akan membeli seluruh mainan di toko mainan.”

“Aku adalah papanya,” gumam Axel lalu menyusul Azeel di kamarnya.

 

❄❄

 

Aziela hanya diam di rumah membantu ibu Rini membersihkan rumah. Biasanya dia akan keluar bersama Azeel namun hari ini putranya tidak ada di rumah. Azeel pasti tengah bersenang-senang bersama papanya dan calon ibu barunya ?

Ponsel Aziela berdering ketika dia tengah merapikan kamarnya, dia mengambil ponselnya yang ada di nakas lalu melihat siapa yang menghubunginya. Itu dari tuan Franco, Aziela segera menjawab telepon itu.

 

“Aziela, ada yang harus kita bicarakan jadi tolong temui paman,” ujar tuan Fran ketika Aziela menjawab telepon itu.

“Di mana paman ?” tanyanya.

“Paman akan memberitahu tempatnya melalui pesan,” sahut lelaki paru baya itu.

“Baiklah,” ujar Aziela lalu mengakhiri telepon itu.

Aziela lalu segera menganti pakaiannya dan setelah itu dia segera pergi ketempat di mana tuan Fran mengajaknya bertemu. Aziela tiba di sana dalam waktu tiga puluh menit, dia memarkirkan mobilnya lalu kemudian masuk kedalam restoran itu.

 

Seorang pelayan membawanya ketempat yang sangat tertutup. Tuan Fran memilih tempat itu pasti karena ingin membicarakan hal penting dengannya. Pelayan itu membuka pintu untuknya dan menemukan tuan Fran sudah menunggu di sana.

 

“Ada apa paman ?” tanya Aziela ketika melangkah masuk.

“Duduklah Aziela,” ujar tuan Fran mempersilahkan Aziela duduk di kursi yang ada di hadapannya, “Kita akan membicarakannya setelah seseorang tiba. Kau bisa memesan apapun sementara menunggunya datang.”

“Aku sudah makan paman,” sahut Aziela.

Tuan Fran mengangguk lalu kemudian sibuk dengan laptopnya. Entah mengapa Aziela merasa ada sesuatu yang penting yang ingin di sampaikan tuan Fran. Aziela sangat ingin bertanya namun dia tahu tuan Fran tidak akan menjelaskan apapun sebelum orang yang tengah di tunggu datang, jadi dia membiarkan rasa penasaran menguasainya.

 

Beberapa saat kemduain seorang pelayan membuka pintu dan seorang pria masuk kedalam. Aziela benar-benar terkejut saat mengetahui siapa orang yang mereka tunggu. Tuan Fran mengalihkan perhatiannya dari laptop dan menoleh pada pria yang tengah melangkah menghampiri mereka. Tuan Fran berdiri untuk menyambut kedatangannya.

 

“Maaf terlamba, putra ku tidak ingin ku tinggalkan jadi aku harus membujuknya terlebih dahulu,” ujar pria itu saat menjabat tangan tuan Fran. Dia lalu menoleh pada Aziela yang masih terkejut dengan kehadirannya.

“Axel….”

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 29 Oct 2016 in 18+, Novel

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: