RSS

Journey of Love Bab 4

31 Oct

 

 

 

 

 

 

 

 

Aziela benar-benar tidak menyangka kalau ternyata orang yang mereka tunggu adalah Axel. Dia tidak tahu kalau ternyata Axel dan tuan Fran saling mengenal, dan apa hubungan Axel dengan semua ini ?

 

“Jadi kau sudah bertemu dengan putra mu ?” tanya tuan Fran sambil melirik Aziela.

Axel mengangguk lalu kemudian duduk di kursi dekat Aziela yang membuatnya menegang. Dia benar-benar tidak siap dengan semua ini, Aziela menghindari bertemu dengannya tapi karena tuan Fran, dia akhirnya berhadapan dengan pria ini.

“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan paman ?” tanya Aziela.

Tuan Fran menghela nafas lalu kemudian menutup laptopnya, “Mulai sekarang Axel akan membantu mu mengurus perusahaan dan semua hotel peninggalan ayah mu.”

 

Ucapan tuan Fran membuat Aziela benar-benar terkejut. Dia telah berusaha menghindari Axel namun sekarang apa yang di katakan tuan Fran ? Axel akan membantunya mengurus perusahaan dan semua hotel peninggalan ayahnya ? Apa maksudnya dengan perusahaan dan semua hotel itu ? Dan kenapa harus Axel ?

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau katakan paman, dan kenapa aku harus di bantu ?” sahut Aziela tidak suka dengan rencana yang di buat tuan Fran.

“Ayah mu tidak hanya meninggalkan sebuah hotel untuk mu Aziela, dia meninggalkan perusahaan dan beberapa hotel yang tidak pernah kau ketahui ada. Kau akan mengetahui lebih lengkapnya nanti, setelah kau dan Axel menikah,” ujar tuan Fran sambil melirik Axel.

Aziela menggeleng, “Paman, kau tahu kalau aku dan dia tidak ak….”

“Kami sudah menikah,” Axel menyela ucapan Aziela, “Ketika Aziela masih berusia delapan belas tahun. Devin adalah saksi dari pernikahan kami, tapi pernikahan itu tidak terdaftar di manapun, tapi kau bisa memberitahunya paman.”

 

Aziela dan Axel memang pernah menikah dan hanya Devin yang menyaksikan dan mengetahui tentang pernikahan itu. Ketika Axel pergi, Devin ingin mengatakan pada semua orang tapi Aziela melarangnya.

Tuan Fran menggeleng, “Roland ingin aku memberitahunya setelah kalian benar-benar menikah dan pernikahan itu bukan pernikahan seperti yang kalian lakukan.” tuan Fran lalu menoleh pada Aziela, “Sebelum kau benar-benar menikah dengan Axel kau hanya bisa mengurus hotel itu. Semua orang yang bekerja di hotel itu adalah orang-orang kepercayaan ayah mu jadi kau aman di sana.”

“Apa sebenarnya yang terjadi pada ayahku ? Kenapa untuk melanjutkan mengurus bisninya aku harus menikah ?”  ujar Aziela lalu bangun, ”Aku lebih baik tidak mengurus bisninya dan mulai sekarang aku tidak mau lagi mengurus hotel itu.”

Dia lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu, mengabaikan panggilan dari tuan Fran. Aziela tidak mau melanjutkan pembicaraan ini lagi, pembicaraan ini hanya akan membuatnya terluka.

 

❄❄

 

Tanpa di sadarinya Aziela tiba di pantai tempat di mana dia mengasingkan dirinya ketika ayahnya meninggal. Saat memiliki masalah Aziela selalu kepantai itu untuk menenangkan dirinya.

Aziela keluar dari mobil kemudian melangkah menuju sebuah pohon besar yang ada di sana. Dia duduk di bawah pohon itu dan menatap ombak yang bergulung.

 

Aziela benar-benar tidak menyangka untuk mendapatkan semua itu ayahnya ingin dia menikah dengan Axel. Pria itu meninggalkannya dua hari sebelum pernikahan mereka dan sekarang kembali membawa calon istrinya lalu bagaiman mungkin dia menikah dengan pria yang telah memiliki ikatan ? Apa ayahnya ingin dia menjadi istri kedua Axel ?

 

‘Kenapa semua ini terjadi padaku ?’ erangnya dalam hati.

Setelah semua yang terjadi bagaimana mungkin Aziela menikah dengannya ? Jika tuan Fran memberitahunya semua ini beberapa tahun yang lalu mungkin dia akan dengan senang hati menerimanya. Aziela dulu begitu sangat mencintai Axel hingga dia buta dengan kesalahan yang di buat pria itu. Axel pernah menghianatinya namun Aziela dengan kebodohannya memaafkan pria itu. Tapi sekarang Aziela berbeda dengan Aziela beberapa tahun yang lalu. Dia bukan lagi Aziela yang bodoh, Aziela yang di butakan oleh cinta hingga membiarkan dirinya tersakiti.

 

“Kenapa kau tidak mau menikah dengan ku Aziela ?” ujar suara berat di belakang Aziela.

Aziela tertegun mendengar suara itu, dia menoleh kearah sumber suara dan mendapati Axel berdiri beberapa langkah darinya.

“Kenapa kau mengikuti ku ?” gumamnya mengabaikan pertanyaan Axel.

“Aku khawatir pada mu,” sahut Axel.

Aziela memalinkan wajahnya dari Axel, dia kembali menatap ombak, “Kau tidak perlu menghawatirkan ku, aku akan baik-baik saja jadi pergilah.”

“Aziela, aku ke…”

“Baiklah aku yang akan pergi dari sini,” gumam Aziela memotong perkataan Axel

Aziela berdiri lalu kemudian melangkah menuju mobilnya, namun ketika dia melangkah melewati Axel, pria itu menahannya.

“Aziela, tolong bica….”

“Aku tidak ingin bicara dengan mu. Tolong singkirkan tangan mu dari ku tuan Williams, agar aku bisa menjauh dari mu,” ujarnya kasar.

Aziela merasakan Axel menegang karena ucapannya. Dia menyentak tangannya dari genggaman Axel lalu melangkah meninggalkan pria itu. Aziela masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu.

 

❄❄

 

Setelah Aziela pergi, Axel meninggalkan pantai itu, dia kembali kerumah dan menemukan Selly tengah menunggunya di teras rumah. Axel meringis saat melihat perempuan itu sudah berada di rumahnya. Dia sedang tidak ingin berhadapan dengan perempuan itu sekarang.

 

“Sayang,” ujar perempuan itu ketika Axel keluar dari mobilnya.

Axel mengabaikannya, dia melangkah masuk kedalam rumah. Azeel berlari menghampirinya ketika melihatnya berjalan masuk kedalam.

“Papa…” jerit bocah kecil itu saat melihatnya.

Axel tersenyum padanya lalu mengakatnya dan membawanya ke dalam kamar. Dia mendudukkan Azeel di ranjang lalu kemudian dia pergi kekamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Ketika keluar dari kamar mandi Selly sudah berada di dalam kamarnya, perempuan itu duduk di sofa dekat pintu sambil menatap Azeel yang bersembunyi di balik selimut. Perempuan itu menatap Azeel dengan tatapan kebencian.

 

“Apa yang kau lakukan di sini ?” geram Axel yang membuat perempuan itu tersentak.

Selly menolah pada Axel dan memasang senyum menggodanya yang tak pernah mempan pada Axel.

Selly berdiri, “Aku ingin mengajak mu makan bersama.”

“Tidak bisa Selly, aku harus menemani putra ku jadi pergi saja sendiri,” gumam Axel kemudian melangkah mendekati putranya yang tempaknya tengah bersembunyi di balik selimut. Azeel takut pada Selly.

 

Saat Axel duduk di tepi ranjang, Azeel segera keluar dari balik selimut kemudian memeluknya erat, Selly tampak tak suka melihat semua itu.

“Kau harus menemaniku Axel, kau tunaganku jadi kau harus menemani kemana pun aku pergi,” ujar perempuan itu kesal.

Axel menoleh padanya dan menatapnya tajam, “Aku sudah muak menjadi tunangan mu, mulai sekarang aku memutuskan pertunangan kita, jadi kembalilah kenegara mu.”

“Axel tega sekali kau, kakek akan sangat marah jika kau berkata seperti ini pada ku.”

“Aku benar-benar tidak peduli dengan kakek tua itu, dia sudah terlalu tua untuk mengancam ku. Berhentilah mengganggu ku dan kembali kenegara mu,” gumam Axel lalu kemudian bangun dan membawa Azeel keluar dari kamar itu.

Selly memanggil-manggilnya namun Axel tidak mempedulikannya. Dia sudah sangat muak pada perempuan itu. Kakeknya, Arthur Williams memaksanya bertunangan dengan perempuan itu dan mengancam akan mencelakai ibunya dan Devin jika dia menolak. Saat itu Axel tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak berada di sisi ibu dan adiknya, tapi sekarang dia bersama keluarganya dan kakek tua itu tidak akan bisa berbuat sesuatu pada keluarganya selama dia bersama mereka.

 

❄❄

 

Aziela tengah membaca buku di kamarnya ketika mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya, lalu seseorang menggedor pintu kamarnya sambil berteriak.

“Mama, Ajeel pulang,” jerit Azeel sambil menggedor pintu.

Aziela meletakan buku di atas meja kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya. Azeel berdiri di depan pintu dengan senyum lebar mengembang di bibirnya. Putranya tampak sangat bahagia.

 

Azeel menggenggam tangannya lalu menariknya, “Mama ayo liat mainan Ajeel. Papa membelikan Ajeel banyak mainan.”

Aziela mengikuti kemana putranya menariknya. Azeel menariknya keruang tamu dimana mainannya berada dan seorang pria tengah menatap foto dirinya dan putranya yang tergantung di dinding, Axel.

“Papa,” Azeel melepaskan tangan Aziela kemudian berlari mendekati Axel. Bocah kecil itu kali ini menarik tangan Axe dan menariknya agar mengikutinya, “Papa duduk di sini.” Azeel memerintahkan Axel untuk duduk di sofa panjang kemudian mendekati Aziela dan memerintahkannya duduk di samping Axel.

“Sayang, mama duduk di sini saja ?” ujar Aziela menolak dan menunjuk sofa lain, namun Azeel menggeleng dan tetep memaksanya untuk duduk di dekat Axel.

“Mama duduk di dekat papa,” rengeknya yang membuat Aziela tidak bisa menolak. Dengan terpaksa dia duduk di samping Axel. Aziela tidak pernah bisa menolak keinginan putranya.

 

 

Axel tersenyum karena ketidak berdayaan Aziela untuk menolak putra mereka. Azeel lalu duduk di atas karpet dan mengeluarkan semua mainan yang Axel belikan, bocah kecil itu menunjukan mainan itu pada Aziela yang tampak tak nyaman berada di dekatnya.

Axel bergeser lebih dekat, membuat Aziela langsung menolah marah padanya, namun Axel tidak memperdulikan kemarahan itu.

“Aku tahu kau marah pada ku karena meninggalkan mu. Tapi kau harus tahu kalau aku pergi demi keselamatan mu dan semua itu ayah mu yang meminta ku melakukannya,” bisik Axel agar Azeel tidak mendengar ucapannya.

Aziela tampak terkejut karena ucapannaya, “Apa maksud mu ?”

“Sesuatu telah terjadi pada keluagra mu dan aku harus mengorbankan perasaan ku demi keselamatan mu. Surat yang di tinggalkan di kamar ku untuk mu bukan aku yang menulisnya tapi ayah mu, dia tahu aku tidak akan pernah sanggup menulis semua itu untuk mu jadi dia yang mewakili ku melakukannya. Ayah mu bisa menirukan tulisan ku jadi dia melakukannya dengan mudah.”

“Apa sebenarnya yang terjadi Axel ? Kenapa kalian merahasiakan semua ini pada ku ?” tanya Aziela tampak ingin tahu.

“Belum saatnya kau mengetahuinya, Aziela, jika kau ingin mengetahui semuanya maka menikahlah dengan ku.”

“Tidak, aku tidak bisa menikah dengan mu Axel. Aku tidak mau menjadi istri kedua mu,” gumam Aziela.

Axel menggeleng lalu memegang pipi Aziela, “Kau akan menjadi satu-satunya Aziela. Selly bukan siapa-siapa bagi ku, aku terpaksa bertunangan dengan perempuan itu karena kakek ku, Arthur Williams mengancam akan menyakiti mommy dan Devin ketika aku tidak bersama mereka. Sekarang aku berada di sini, bersama kalian jadi tidak akan ada yang bisa menyakiti kalian selama aku bersama kalian.”

 

Aziela tampak sangat terkejut mendengar ucapannya. Axel tidak seharusnya mengatakan semua itu pada Aziela, namun dia tidak bisa menerima kebencian tak beralasan Aziela jadi dia terpaksa mengatakan semua itu. Tuan Fran pasti mengerti mengapa dia mengatakan semua itu pada Aziela.

 

Aziela hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun Azeel berlari mendekati mereka dan duduk di antara mereka. Aziela tampak masih ingin bertanya tapi mungkin karena Azeel, dia menahan dirinya untuk bertanya.

 

❄❄

 

Setelah Axel pergi, Aziela merapikan mainan Azeel di dalam kamarnya. Dia memikirkan semua yang Axel katakan tadi, hingga  tanpa sengaja dia menjatuhkan mainan itu kelantai.

“Mama, mainan Ajeel rusak,” teriak Azeel membuat Aziela tersadar dengan apa yang di lakukannya.

“Oh astaga, mama tidak sengaja sayang,” ujar Aziela kemudian menunduk dan mengambil mainan itu di lantai, “Besok mama akan mengantinya.”

Azeel menggeleng lalu naik keatas ranjang, “Ajeel sudah punya banyak mainan, mama.”

 

Bocah kecil itu lalu memeluk boneka beruang kesayanganya, beberapa saat kemudian dia terlelap tanpa harus di bacakan buku cerita. Aziela tertegun mendengar penolakan Azeel yang tidak biasa. Azeel tidak pernah menolak untuk sebuah mainan baru namun kali ini dia menolak begitu saja.

‘Apa itu karena Axel ?’ Aziela membatin lalu kemudian melangkah mendekatinya. Dia mengusap kepala putranya dengan sayang lalu mencium dahinya. Aziela lalu menyelimutinya kemudian keluar dari kamar Azeel. Aziela  lalu melangkah menuju kamarnya.

Aziela duduk di atas ranjang masih saja memikirkan semua yang di katakan Axel. Dia tidak bisa berhenti memikirkan perkataan pria itu.

Benarkah yang di katakan Axel ? Benarkah ayahnya yang mengatur semuanya dan meminta Axel meninggalkannya ? Tapi kenapa ? Kenapa mereka tidak mau mengatakan apa sebenarnya yang terjadi ?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di dalam benak Aziela. Jika saja tadi Azeel tidak mendekat, Aziela pasti sudah mendesak Axel untuk mengatakan semuanya. Axel pasti akan mengatakan semuanya jika Aziela mendesaknya. Aziela sangat ingin menghubung Axel untuk mencari tahu kebenaran itu tapi dia menahannya.

Apa yang akan di katakan Axel jika dia menghubunginya ? Tadi Aziela begitu kasar padanya saat di pantai. Dia lebih baik mencari tahu semua itu besok ketika Axel menjemput Azeel untuk mengantarnya kesekolah.

 

 

Aziela akan mengajak Axel bertemu setelah dia mengantar putra mereka sekolah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 31 Oct 2016 in 18+, Novel

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: