Posted in 18+, Novel

Journey of Love Bab 6

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga hari setelah pernikahan itu tuan Fran mengumumkan tentang Aziela. Sekarang orang-orang  telah mengetahui siapa Aziela sebenarnya, dan Axel membuatnya seperti tawanan setelah itu. Axel mengajak Aziela dan Azeel tinggal di rumah yang seharusnya mereka tempati dari beberapa tahun yang lalu. Axel memerintahkan kepala penjaganya untuk memperketat penjagaan di rumah itu, dan dia juga memerintahkan tiga orang untuk mengawal Azeel kesekolah. Aziela merasa Axel sangat berlebihan melakukan semua itu tapi dia tidak mengatakan apapun. Axel melakukan semua itu karena menghawatirkan dirinya dan putra mereka jadi dia membiarkan saja semua yang di lakukannya. Axel tidak hanya menghawatirkan lelaki itu yang akan melukai mereka, dia juga menghawatirkan kakeknya akan melukai mereka. Tuan Arthur Williams pernah mencoba menyingkirkan nyonya Williams agar putranya, Alexander Williams kembali padanya namun sayang yang di lakukannya membuatnya terusir dari Negara itu dan tidak di perbolehkan kembali lagi setelah itu. Saat ini mereka tidak hanya memiliki satu musuh jadi Axel lebih berhati-hati dengan keselamatan mereka.

 

Sudah seminggu mereka tinggal di sana dan selama itu Aziela tidak pernah keluar dari rumah. Axel melarangnya keluar rumah kecuali bersamanya atau ada urusan yang tidak bisa di tinggalkannya. Aziela menyerahkan perusahaan dan hotel itu pada Axel untuk mengurusnya, jadi tidak akan ada yang di urusnya di luar sana.

 

“Nyonya ada telepon,” ujar seorang pelayang.

“Dari siapa ?” tanya Aziela yang tengah sibuk dengan masakannya.

“Saya tidak tahu, tapi orang itu mengatakan ingin berbicara dengan anda.” Sahut pelayan itu.

Aziela mengerutkan dahinya, kemudian menyerahkan pekerjaannya pada pelayan dan mengambil telepon dari pelayan itu. Aziela lalu meninggalkan dapur .

 

“Siapa ?” tanya Aziela setelah berada di ruang tamu.

“Rico, aku menghubungi ponsel mu tapi suami mu yang menjawab telepon ku dan memberikan nomor ini pada ku. Aziela, kenapa kau tidak mengatakan kalau kau sudah menikah ?” ujar pria itu.

“Maafkan aku Rico, pernikahan ini terburu-buru jadi aku tidak bisa memberitahu siapapun,” sahut Aziela menyesal karena tidak memberitahunya. Axel membawa ponselnya yang membuatnya tidak bisa menghubungi siapapun untuk memberitahunya. Seseorang telah mengirim pesan ancaman padanya jadi Axel membawa ponselnya untuk melacak siapa yang telah mengirim pesan itu padanya.

“Jadi kau menikah dengan pria yang telah meninggalkan mu begitu saja ?” tanya Rico dengan nada kecewa.

“Axel tidak meninggalkan ku Rico, dia han…”

“Dia pergi dua hari sebelum pernikahan kalian, dan dia pergi ketika kau tengah mengandung anaknya. Dia begitu kejam pada mu tapi kau memaafkannya begitu saja ? Aku tidak percaya kau masih menerima pria kejam itu setelah semua yang di lakukannya pada mu,” ujar Rico memotong ucapan Aziela.

Aziela tidak senang Rico berkata seperti itu tentang Axel. Rico tidak tahu apa yang terjadi, jadi dia tidak berhak berkata seperti itu tentang suaminya.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang Axel jadi kau tidak berhak berbicara seperti itu tentang suami ku. Axel memiliki alasan melakukan semua itu,” geram Aziela membela suaminya yang memang tidak bersalah.

Aziela menutup telepon itu kemudian meletakkannya di tempatnya. Dia berbalik dan hendak kembali kedapur namun langkahnya terhenti ketika melihat Axel bersandar di ambang pintu dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya dan senyum menawan terukir di bibirnya.

 

“Kau sudah pulang ?” tanya Aziela yang di jawab anggukan oleh Axel, “Azeel bersama mu ?” Lagi-lagi Axel hanya mengangguk, Aziela menggeleng melihat tingkah Axel yang tidak biasa itu,” Aku akan membantunya menganti pakaian,” ujarnya lalu melangkah menuju kamar putranya.

 

❄❄

 

Setelah menjemput putranya dari sekolah Axel tidak kembali kekantor. Axel sudah mulai mengambil alih kendali perusahaan dari Devin dan adiknya itu kini kembali mengelola bisnis yang di bangunnya dari beberapa tahun yang lalu. Devin sebenarnya tidak mau mengurus perusahaan peninggalan ayah mereka tapi setelah Axel pergi, tidak ada yang mengurus perusahaan itu yang membuatnya harus mengurus bisnisnya dan perusahaan itu bersamaan.

 

“Kau tidak kembali kekantor ?” tanya Aziela saat mengantarkan makanan untuknya dan Azeel di ruang keluarga.

“Semua urusan ku sudah beres, aku hanya akan menandatangani beberapa dokumen tapi itu bisa di lakukan di rumah. Besok aku akan sedikit sibuk di perusahaan mu jadi besok kau yang akan menjemput Azeel,” jelas Axel.

Azeel tidak mau pulang bersama supir atau pengawal yang mengawalinya, dia hanya mau pulang jika Axel, Aziela atau Devin yang menjemputnya.

 

“Kenapa kau tidak menyatukan saja perusahaan itu dengan perusahaan mu ? Dengan begitu waktu mu tidak akan banyak tebuang.”

“Kau yakin dengan itu ?” tanya Axel yang di jawab Aziela dengan anggukan, “Kau percaya pada ku ?”

“Jika aku tidak percaya aku tidak akan mau meresmikan pernikahan kita,” sahut Aziela.

Axel tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia meletakan koran yang tengah di bacanya di atas meja kemudian bergeser mendekati Aziela. Axel melingkarkan sebelah tangannya di pinggang istrinya.

 

“Jadi kau sudah memaafkan ku ?” bisik Axel agar Azeel tidak mendengarnya.

“Aku tidak pernah marah pada mu Axel.” Aziela ikut berbisik.

Azeel akan bertanya jika mendengarnya, bocah kecil itu selalu ingin tahu segala hal.

“Tapi saat aku mencium mu waktu itu kau marah pada ku.”

“Waktu itu aku belum siap dan kau menyerang ku secara tiba-tiba. Aku terkejut dengan yang kau lakukan.”

“Jadi sekarang kau sudah siap dan mengijinkan ku menyentuh mu ?” goda Axel yang membuat kedua pipi Aziela memerah, “Diam berarti ya.”

Axel melirik Azeel yang masih sibuk mewarnai lalu kembali menoleh pada istrinya. Axel tersenyum dan memegang kedua pipi Aziela lalu menunduk dan mencium bibirnya.

 

“Axel, Azeel bisa melihatnya,” bisik Aziela di sela ciuman mereka.

“Dia sedang sibuk mewarnai,” balas Axel.

Aziela menggeleng lalu mendrongnya menjauh, “Tidak, tidak di depan putra mu Axel.” Tolak Aziela lalu bangun dan meninggalkannya di sana bersama putra mereka.

Axel mendengus kemudia mengambil koran yang di letakannya di atas meja. Seminggu ini, Axel benar-benar tersiksa menahan gairahnya. Axel tidak pernah merasa sebergairah ini ketika bersama perempuan lain. Hanya Aziela yang membuatnya gila karena menahan gairahnya. Aziela berada di sisinya tapi dia tidak bisa menyentuhnya, Axel takut istrinya itu akan marah jika meyentuhnya seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.

 

Axel tidak bisa jika harus menahan semua ini lebih lama lagi, malam ini dia harus bisa membuat Aziela menyerah pada dirinya.

 

❄❄

 

Aziela baru saja selesai mandi ketika Axel masuk kedalam kamar. Axel tersenyum lalu menutup pintu kamar dan menguncinya. Jantung Aziela berdegup kencang saat Axel melangkah mendekatinya.

 

Pria itu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Aziela dan tangan yang lain di gunakannya untuk mengusap pipinya dengan lembut.

“Aku sangat merindukan mu Aziela jadi ku mohon ijinkan aku untuk memiliki mu malam ini,” pinta Axel dengan suara serak.

Permintaan itu membuat jantung Aziela berdegup semakin kencang. Ini bukan pertama kalinya Axel menyentuhnya tapi kenapa dia merasa segugup ini ? Dulu saat Axel menyentuhnya untuk pertama kali dia tidak merasa segugup ini. Aziela menelan gumpalan di tenggorokannya lalu mengangguk.

 

Setelah mendapatkan ijin  Axel langsung mencium bibir Aziela. Ciuman itu pada awalnya lembut namun lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Aziela melingkarkan tangannya di leher Axel dan membalas ciumannya. Sejujurnya dia sangat merindukan sentuhan Axel, tapi dia tidak mungkin mengakuinya. Aziela menolak Axel dengan sangat kasar malam itu jadi tidak mungkin dia mengakui merindukan sentuhannya.

 

“Hmm…” Aziela mengerang di sela ciuman mereka, membuat Axel semakin bergairah.

Axel melepaskan ciumannya kemudian melepas jubah mandi yang di kenakan Aziela. Aziela tidak mengenakan apapun di balik jubah mandi itu yang membuat Axel terpesona melihat keindahan tubuhnya. Kedua pipi Aziela memerah karena tatapan Axel di tubuhnya. Aziela hendak menutupi tubuhnya dengan tangannya namun Axel mencegahnya, pria itu menggeleng dan kembali mencium bibir Aziela. Tanpa melepas ciumannya, Axel mengakat Aziela kemudian membaringkannya di atas ranjang.

 

Ciuman Axel berpindah kelehernya, Axel mencium dan menggigit kecil lehernya hingga menimbulkan jejak panas di sana. Aziela merasa seluruh tubuhnya terbakar karena perbuatan Axel. Ciuman Axel turun kedadanya, dia mencium puting payudara Aziela yang menegang lalu memainkannya dengan lidahnya.

 

“Ahhh Axel…” Aziela mengerang ketika Axel menghisap putingnya keras.

Setelah puas bermain-main dengan putingnya, Axel memindahkan ciumannya keperutnya lalu turun kebawah dan berhenti di antara pahanya. Axel membuka kedua paha Aziela lebar dan tersenyum ketika menemukan Aziela sudah sangat basah. Axel hendak menenggelamkan wajahnya di sana namun Aziela sontak  merapatkan kedua pahanya.

 

“Axel ku mohon lakukan sekarang,” pinta Aziela

“Kau sudah tak tahan hmm ?” goda Axel lalu berdiri dan melepaskan semua pakaiannya, setelah melepas semua pakaiannya Axel kembali menindih Aziela dan mencium bibirnya. Axel melepaskan ciumannya kemudian berlutut di antara paha Aziela, Axel menggenggam miliknya yang sudah sangat mengeras kemudian mencoba menyatukan tubuh mereka. Milik Aziela sangat sempit, membuat Axel kesulitan untuk menyatukan tubuh mereka.

“Kau sangat sempit, rasanya seperti saat pertama kali,” ujar Axel lalu mendorongnya hingga mereka menyatu sepenuhnya, Aziela sontak melingkarkan kakinya dipaha Axel, “Apakah itu sakit ?”

Aziela menggeleng lalu menarik Axel dan mencium bibirnya, mereka berciuman selama beberapa saat. Axel melepaskan ciuman mereka lalu menggerakan pinggulnya secara perlahan.

 

“Ohh Axel…” Aziela mengerang merasakan sensasi yang sudah sangat lama tidak di rasakannya. Aziela merindukan kedekatan ini, kedekatan yang selalu membuatnya melayang hingga kelangit ketujuh.

Axel yang awalnya bergerak dengen begitu lembut kini mempercepat gerakannya. Axel menghujamnya lagi lagi dan lagi hingga dia merasakan puncak kenikmatan itu datang.

Aziela menjerit menyebut nama Axel saat mencapai puncak kenikmatannya. Dan Axel menyusulnya beberapa saat kemudian. Axel berbaring di samping Aziela lalu memeluknya erat.

“Terimakasih untuk malam yang indah ini,” ujar Axel lalu mengecup dahi istrinya sebelum akhirnya mereka jatuh tertidur.

 

❄❄

 

Setelah membantu suami dan putranya bersiap-siap, Aziela menghubungi tuan Fran untuk membeirtahukannya tentang rencananya menyatukan perusahaannya dengan perusahaan keluarga Williams. Perusahaan milik keluagra Williams adalah salah satu perusahaan besar di Negara itu dan telah memiliki beberapa cabang di luar negeri. Tuan Fran mendukung rencananya untuk menyatukan perusahaan mereka, lagipula perusahaan ayahnya sudah tidak sesukses dulu. Setelah ayahnya meninggal tidak ada yang mengurus perusahaan dan hotel itu, tuan Fran sibuk dengan pekerjaannya jadi dia hanya memantau perusahaan dan hotel itu agar terus berjalan.

 

Siangnya Aziela pergi menjemput putranya di sekolah dengan pengawal yang di tugaskan Axel untuk menjaganya. Aziela merasa tidak nyaman dengan semua ini, tapi tidak ada yang bisa di lakukannya selain menerima semua ini.

Ketika sampai di sekolah Aziela melihat mobil Devin terparkir di dekat gerbang. Supir memarkirkan mobilnya di sebrang jalan.

 

“Tolong tunggu saja di sini,” ujar Aziela saat akan keluar dari mobil.

“Tapi nyonya, tuan akan marah jika anda pergi sendiri,” sahut pengawal itu.

“Axel tidak akan mengetahuinya,” geram Aziela lalu turun dari mobil.

Saat Aziela melangkah menyebrangi jalan Devin menoleh padanya lalu keluar dari mobilnya. Devin terlihat tampak panik setelah berada di luar.

 

“AZIELA AWAS,” teriak Devin kemudian berlari mendekatinya dan menerjangnya hingga mereka terjatuh di tepi jalan. Awalnya Aziela bingung dengan apa yang teradi namun ketika dia melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dia menyadari semuanya.

Salah seorang pengawal berlari mendekati Aziela dan Devin, “Apa anda baik-baik saja nyonya, tuan ?” tanyanya khawatir.

Devin bangun kemudian membantu Aziela bangun.

“Ya,” sahut Aziela lalu menoleh pada Devin, “Apa yang kau lakukan di sini ?”

“Menjemput Azeel, mommy memaksa ku menjemputnya karena seminggu ini tidak bertemu dengannya. Tadi aku menghubungi mu tapi suami berengsek mu yang menjawab telepon ku dan mengatakan dia yang membawa ponsel mu sekarang. Aku lalu  menghubungi rumah kalian dan pelayan yang mengangkatnya mengatakan kau sudah berangkat,” jelas Devin kemudian menatap pengawal yang berdiri di belakang Aziela, “Apa kau melihat plat mobil orang itu ?”

Pria itu menggeleng, “Kejadian itu terlalu cepat tuan.”

Devin mengumpat lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Devin berjalan beberapa langkah kemudian berbicara dengan seseorang di telepon. Beberapa menit kemudian Azeel keluar bersama dua pengawal yang di perintahkan Axel untuk menjaganya. Salah seorang pengawal itu menggendong Azeel dan membawanya ketempat mereka berada.

 

“Mama,” teriak Azeel lalu ketika mereka tiba di tempat mamanya Azeel mengulurkan tangannya meminta Aziela untuk menggendongnya. Aziela mengambil putranya dari gendongan pengawal itu kemudian menciumnya.

“Mama, itu paman Dev,” ujarnya saat melihat Devin yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon.

“Nenek meminta paman Dev menemput Ajeel, apa Ajeel mau pergi bersama paman Dev ?” tanyanya.

“Mau,” sahut Azeel ceria.

Beberapa menit kemudian Devin kembali ketempat mereka, “Aku akan mengantar mu pulang,” ujar Devin lalu mengantar Aziela pulang.

Devin tampak khawatir akan sesuatu namun Aziela tidak bertanya, dia yakin Devin memikirkan kejadian tadi. Aziela yakin kejadian tadi telah di rencanakan, tapi siapa orang yang telah merencanakan semua itu ? Mungkinkan semua itu adalah rencana Tommy, saudara tiri ayahnya atau mungkin tuan Arthur Williams ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s