Posted in 18+, Novel

Journey of Love Bab 7

 

 

 

 

 

 

 

 

Axel tiba di rumah setelah Devin dan Azeel pergi. Axel masuk kedalam rumah dan langsung melangkah menuju kamarnya, sebenarnya dia memiliki banyak pekerjaan hari ini, tapi karena telepon dari Devin dia meninggalkan pekerjaannya dan segera pulang kerumah.

 

“Axel, bukankah kau memiliki banyak pekerjaan hari ini ?” ujar Aziela saat dia masuk kedalam kamar.

“Kau baik-baik saja ?” balasnya mengabaikan pertanyaan istrinya, dia lalu duduk di samping Aziela dan menggenggam tangannya.

Aziela mengangguk, “Apakah kejadian tadi di rencanakan ?”

“Ya, aku rasa kakek yang melakukan semua ini,” sahut Axel mengingat beberapa hari yang lalu orang bayaran kakeknya pernah mendatanginya dan mengancamnya agar dia mau kembali. Sekarang Axel bersama keluarganya jadi tidak ada yang perlu di takutkannya sekarang. Kakeknya tidak akan bisa berbuat apa-apa selama dia bersama keluarganya.

 

“Kenapa kau berpikir kakek mu yang melakukannya ? Mungkin saja Tommy yang melakukannya.”

“Aku menyelidiki tentang Tommy dan hasil dari penyelidikan itu adalah, Tommy telah tewas bersama istri dan kedua anaknya dalam sebuah kecelakaan setahun yang lalu. Satu-satunya orang yang harus kita waspadai saat ini adalah kakek ku, dia akan melakukan apa saja untuk membuat ku mengikuti keinginannya,” jelas Axel.

Setelah berminggu-minggu menyelidiki Tommy akhirnya Axel mendapatkan hasil dari penyelidikannya. Tommy dan keluarganya pindah dari rumahnya sebelum kecelakaan itu terjadi dan tidak ada orang yang tahu kemana dia pergi. Mobil yang di kendarainya bersama istri dan kedua anaknya masuk kedalam jurang. Hanya sedikit orang yang mengetahui tentang kecelakaan itu, membuat Axel sedikit kesulitan menyelidikinya.

 

“Jadi dia sudah meninggal,” gumam Aziela pelan lalu menghela nafas berat. “Seharusnya kita mengetahuinya dari awal agar kau tidak harus menikahi ku, kau meninggalkan calon istri mu karena aku.”

“Jangan berkata seperti itu,” Axel melepaskan genggamannya lalu memegang kedua pipi Aziela, “Aku sudah mengatakan mengapa aku mau bertunangan dengannya dan aku akan tetap menikahi mu meski mengetahui tentang semua itu dari awal.” Axel lalu mengecup bibir Aziela, “Aku hanya ingin kau yang mendampingi hidup ku Aziela, bukan perempuan lain,” ujar Axel di sela ciumannya.

Awalnya Axel hanya ingin menciumnya namun tiba-tiba gairah dalam dirinya bangkit. Axel mengeratkan pelukkannya kemudian memperdalam ciumanya.

 

“Axel, kau mengatakan hari ini kau memiliki banyak pekerjaan,” cegah Aziela ketika Axel hendak membaringkannya di ranjang.

“Itu bisa di tunda, tapi yang ini tidak,” sahut Axel lalu mendorong Aziela hingga terbaring di ranjang.

Siang itu mereka bercinta lagi lagi dan lagi, hingga mereka kelelahan. Axel benar-benar merasa puas setelah bercinta berkali-kali dengan istrinya, dia tidak pernah merasa sepuas ini saat tidur bersama perempuan-perempuan murahan itu, hanya Aziela yang bisa membuatnya merasa sepuas ini.

Axel menatap wajah istrinya yang juga tampak sangat puas setelah percintaan panas mereka. Dia menarik istrinya kedalam pelukannya kemudian mencium dahinya kemudian jatuh tertidur

 

❄❄

 

Aziela terbangun ketika mendengar Axel berbicara dengan seseorang di telepon. Suaminya itu tampak teringat sesuatu yang membuatnya mengerang. Axel meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berlari kekamar mandi. Entah mengapa Aziela merasa seseorang yang menghubungi suaminya adalah seseorang dari kantor.

 

Aziela bangun kemudian melilit selimut di tubuhnya, dia lalu memunguti pakaian Axel yang berserakan di lantai. Aziela meletakan pakaian itu di tempat pakaian kotor kemudian mengambil pakaian yang akan di kenakan Axel kekantor.

 

Beberapa menit kemudian Axel keluar dari kamar mandi. Axel melangkah mendekati Aziela yang tengah sibuk merapikan kamar mereka lalu memeluknya dari belakang, Axel mencium pipinya.

“Aku memiliki janji dengan tuan Fran di kantor jadi aku harus segera pergi,” ujar Axel.

“Aku sudah menyiapkan pakaian mu,” sahut Aziela tanpa menoleh padanya.

Axel sekali lagi mencium pipinya kemudian melepaskan pelukannya. Dia lalu mengenakan pakaian yang telah di siapkan Aziela.

“Di mana dasi ku ?” tanya Axel.

 

Aziela mengambil dasi di dalam laci lalu menyerahkannya pada Axel. Axel tidak mengambil dasi itu, dia menunduk meminta Aziela untuk memakaikan dasi itu, meskipun Axel tidak meminta dengan kata-kata dia mengerti apa yang di inginkannya. Aziela menghela nafas lalu memakaikan dasi itu di lehernya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Axel memegang kedua pipinya lalu mengecup bibirnya.

“Terima kasi sayang,” ujarnya dan kembali mengecup bibir Aziela, “Aku pergi dulu.

“Hmm… hati-hati,” sahut Aziela.

Axel tersenyum lalu mengusap pipinya dengan lembut, “Aku akan berhati-hati. Terima kasih sudah mengingatkanku untuk berhati-hati.”

“Kau suamiku, selain itu aku juga tidak mau hamil tanpa suami di sisiku,” balas Aziela lalu segera pergi kedalam kamar mandi.

 

Sejujurnya Aziela merasa khawatir pada Axel setelah apa yang di alaminya beberapa jam yang lalu namun dia menolak mengakuinya. Tapi selain itu dia juga memang khawatir jika hamil dan Axel tidak ada di sisinya, ini adalah masa suburnya jadi besar kemungkinan dia akan hamil.

Aziela mandi kemudian memberikan pakaian kotor pada pelayan. Aziela tidak tahu apa yang harus di lakukan hari ini, biasanya dia akan menemani Azeel. Dia melangkah menuju sofa di dekat jendela lalu duduk di sana sambil membaca novel.

 

❄❄

 

Axel tiba di kantor beberapa menit kemudian. Tuan Fran sudah menunggunya di ruangannya. Lelaki itu tersenyum saat Axel masuk kedalam ruangannya.

“Jangan katakan kau melupakan pertemuan kita karena terlalu asik meniduri keponakan ku,” cemooh tuan Fran.

Axel tertawa lalu duduk di sofa hadapan tuan Fran, “Keponakanmu terlalu menggoda untukku tuan Anderson.”

Tuan Fran tersenyum mendengar Axel menyebut nama terakhirnya, tidak ada yang mengetahui nama belakangnya selain keluarganya. Tuan Fran tidak suka seseorang memanggilnya dengan nama keluarganya. Dia lebih suka seseorang memanggilnya dengan panggilan Fran atau James.

 

“Kau sudah menikah dengan keponakan ku jadi panggil aku paman seperti istri mu,” ujar tuan Fran.

“Tentu saja paman Fran tapi istri ku tidak mengetahui siapa kau yang sebenarnya. Aziela hanya mengetahui kau adalah sahabat dari ayahnya,” sahut Axel.

Tuan Fran mengangguk lalu menghela nafas, “Aku mengundang mu dan istri mu makan malam di rumah ku malam ini. Aku akan mengungkapkan kebenarannya pada Aziela.”

“Tapi, dia akan hancur jika mengetahui semua itu.”

“Ini adalah saat yang tepat Axel. Aziela harus mengetahui semuanya karena Jane akan kembali. Adik ku itu sudah pasti akan menemuinya dan dengan kejam akan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Aziela akan jauh lebih hancur jika Jane yang mengatakan kebenaran itu padanya,” ujarnya sedih.

 

Jane Anderson adalah adik perempuan tuan Fran sekaligus ibu dari Aziela, ibu yang meninggalkannya begitu saja setelah melahirkannya. Jane selama ini tinggal di luar negeri bersama suaminya dan tidak pernah kembali, tapi sekarang wanita itu akan kembali.

Oh ya Tuhan, apa yang akan terjadi pada Aziela jika dia tahu kebenaran itu ?, Axel membatin.

“Aziela akan hancur jika mengetahui kenyataan itu.” Axel masih belum yakin dengan rencana tuan Fran untuk memberitahu Aziela kebenaran itu, tapi apa yang di katakan tuan Fran memang benar. Aziela akan semakin hancur jika mengetahui semua itu dari Jane. Wanita itu memutuskan kembali mungkin karena tahu kalau putrinya mendapatkan seluruh harta ayahnya. Suaminya tidak mau membiayai hidupnya lagi setelah tahu Jane tidur bersama lelaki lain hingga mengandung anak dari lelaki itu. Lelaki itu tidak menceraikan Jane meski semua yang telah di lakukannya karena setengah dari hartanya akan jatuh ketangan wanita itu jika dia menceraikannya. Dengan mempertahankan Jane di sisinya membuatnya bisa menguasai harta itu.

 

“Dia tidak akan hancur selama kau berada di sisinya,” gumam tuan Fran.

Dulu mungkin ya, tapi sekarang Axel meragukan hal itu. Aziela mau meresmikan pernikahan mereka karena Azeel jadi dia tidak yakin Aziela akan baik-baik saja mendengar semua itu meski Axel berada di sisinya. Jika dia berada di posisi Aziela mungkin dia akan hancur dan merasa tak ingin di lahirkan kedunia ini jika mendengar kebenaran tentang orang tuanya.

Axel mendesah, “Aku tidak yakin akan hal itu paman.”

 

❄❄

 

“Apa kau berhasil melakukannya ?” tanya tuan Arthur pada Selly di telepon.

“Tidak, cucu kedua mu berhasil menyelamatkannya. Karena dia Axel menemui ku dan mengancam akan membuat ku kehilangan segalanya. Axel mengancam ku hanya karena perempuan itu, aku tidak bisa menerima semua itu tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Axel mengancam akan menyingkirkan ku,” sahut Selly.

“Persis seperti Alexander,” balas tuan Arthur.

Alexander melakukan hal yang sama seperti Axel ketika dia mencoba menyingkirkan perempuan itu dari kehidupan mereka. Alexander bahkan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan perempuan itu. Tuan Arthur yakin Axel akan melakukan hal yang sama dengan ayahnya. Putra dan cucunya sama-sama di kuasai oleh seorang perempuan, dia tidak bisa berbuat lebih jauh lagi sekarang atau dia akan kehilangan penerusnya.

 

“Aku tidak bisa membantu mu lagi Selly. Aku bisa kehilangan penerus ku jika membantu mu lebih jauh lagi. Axel memiliki sifat ayahnya dan aku yakin dia akan melakukan apapun untuk keselamatan perempuan itu, seperti yang di lakukan Alexander dulu. Aku sudah mencari tahu siapa sebenarnya perempuan itu, dia adalah cucu Mario Joseph, salah satu orang ternama di Negara itu. Axel tidak menikahi perempuan dari kalangan rendahan jadi aku bisa tenang sekarang,” gumam tuan Arthur.

“Kakek, kau tidak bisa seperti ini, kau har….”

“Aku sudah mengatakannya Selly jadi aku rasa tidak perlu mengulanginya. Selamat tinggal.”  Tuan Arthur memotong perkataan Selly lalu menutup telepon itu.

Setelah mengetahui siapa Aziela, tuan Arthur merasa lebih tenag. Axel tidak menikahi perempuan rendahan seperti ayahnya jadi dia tidak perlu khawatir sekarang tentang Axel. Sekarang dia hanya akan mencari cara agar Axel mau menjadi penerusnya.

 

❄❄

 

Aziela menghubungi nyonya Williams setelah Axel memberitahunya kalau tuan Fran mengajak mereka makan malam di rumahnya malam ini. Axel memintanya untuk tidak mengajak Azeel karena ada sesuatu yang akan di bicarakan tuan Fran dengannya.

Setelah selesai berbicara dengan nyonya Williams, Aziela bersiap-siap untuk menghadiri makan malam itu. Sebenarnya Aziela tidak ingin menghadiri makan malam itu tapi dia ingin tahu apa yang akan di katakan tuan Fran.

 

Axel datang menjemputnya beberapa menit kemudian. Suaminya itu menganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman.

“Apa kau yakin aku memakai gaun ini ?” tanya Aziela saat melihat bayangan dirinya di cermin. Gaun itu sedikit terbuka di bagian belakang yang membuatnya merasa tidak nyaman. Axel ingin dia menggunakan gaun itu dan Aziela tidak akan bisa menolak jika Axel sudah menginginkannya. Aziela tidak pernah bisa menolak keinginan Axel.

 

Axel yang tengah bersiap-siap menoleh padanya lalu tersenyum, pria itu mengambil mantel di dalam lemari kemudian mendekati Aziela. Aziela bingung ketika Axel memakaikan mantel itu di tubuhnya. Pria itu tersenyum lalu mengecup bibirnya.

“Si berengsek Brian akan ikut makan malam bersama kita. Aku tidak mau pria berengsek itu melihat betapa indahnya wanita ku,” ujar Axel.

“Kalau begitu aku akan mengantinya saja dengan pakaian yang lebih tertutup,” sahutnya.

“Tidak usah, aku suka melihat mu mengenakan gaun ini jadi kau bisa mengenakannya, tapi tetap kenakan mantel ini,”  balas Axel.

Aziela benar-benar bingung di buatnya namun dia tidak membantah. Tidak ada gunanya membantah Axel, dia tidak akan bisa di bantah untuk urusan seperti ini.

“Ayo sekarang kita temui paman Fran.” Axel menggenggam tangannya lalu menariknya keluar. Aziela tidak mengatakan apapun, dia hanya mengikuti saja ketika suaminya itu menariknya keluar.

Axel memerintah dua pengawal mengikuti mereka dengan mobil berbeda.

 

 

Ketika mereka berada di tengah perjalanan Axel mendapatkan telepon dari Devin.

“Apa yang kau lakukan sampai kau berada di sana ?” geram Axel pada adiknya.

Aziela yang duduk di sampingnya hanya mendengarkan saja kemarahan suaminya itu. Devin sepertinya memiliki kesalahan besar hingga membuat Axel begitu marah.

“Brengsek,” geram Axel lalu memutuskan telepon itu, “Kita harus menunda acara makan malam. Devin di kantor polisi jadi kita harus pergi kesana untuk membebaskannya. Si brengsek itu terlibat dalam perkelahian setelah melakukan balapan liar.”

“Dia melakukannya lagi ?” ujar Aziela.

“Ya, tolong jangan sampai mommy tahu tentang semua ini, dia akan terkena serangan jantung jika mendengar putra kesayangannya melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya,” sahut Axel yang di jawabnya dengan anggukan.

Nyonya Williams memiliki penyakit jantung jadi mereka harus merahasiakan kejadian ini darinya. Dalam perjalanan kekantor polisi Axel menghubungi tuan Fran untuk memberitahunya kejadian yang membuat mereka membatalkan undangan makan malam.

 

❄❄

 

Aziela tak menyangka Devin akan melakukan semua itu setelah sekian lama meninggalkan dunia itu. Dia yakin Devin memiliki masalah yang tidak bisa di selesaikannya hingga membuatnya melakukan semua itu. Devin selalu melakukan hal-hal berbahaya ketika dia memiliki masalah yang tidak bisa di selesaikannya.

 

Beberapa menit kemudian mereka tiba di kantor polisi. Axel memarkirkan mobilnya dan sebelum turun dari mobil dia menatap Aziela.

“Kau akan menunggu ku di sini atau ikut kedalam ?” tanya Axel.

“Aku ikut,” sahut Aziela.

Mereka lalu turun dari mobil lalu melangkah masuk kedalam kantor polisi. Dia tidak bisa membiarkan Axel bertemu dengan Devin seorang diri. Axel akan menghajar adiknya itu seperti yang di lakukannya beberapa tahun yang lalu ketika Devin melakukan kesalahan yang sama. Aziela menggenggam tangan Axel saat mereka melangkah masuk kedalam.

 

Aziela melihat Devin tengah duduk di salah satu bangku bersama seorang gadis cantik duduk di sampingnya. Gadis itu tampak tidak asing baginya namun dia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya.

 

“Sementara kau menyelesaikan semua ini aku akan berbicara dengannya,” ujar Aziela pada suaminya.

Axel mengangguk lalu Aziela melepaskan tangannya dan melangkah mendekati Devin dan gadis itu. Gadis itu berdiri ketika Aziela tiba di tempatnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi ?” tanya Aziela pada gadis itu.

Gadis itu melirik Devin yang tidak bergerak di kursi yang di dudukinya. Dia kembali menatap Aziela dengan tatapan sedih.

“Ini salah ku,” gumamnya.

“Zavira, ini bukan salah mu, berhentilah menyalahkan diri mu,” geram Devin.

“Semua ini terjadi karena diri ku, jika saja aku mengabaikan pria itu mungkin semua ini tidak akan terjadi,” gadis itu melirik seorang pria yang tengah duduk sisi lain dari tempat mereka duduk.

“Zavira kau…”

“Aku tidak ingin mendengar kalian berdebat tentang siapa yang salah dan benar, aku hanya ingin mendengar penjelasan kalian atas semua yang terjadi,” bentak Aziela.

Devin mendengus, “Pria brengsek itu datang ke tempat kami dan memaksa Zavira ikut dengannya. Zavira menolaknya dan penolakan itu membuatnya melakukan kekerasan. Dia menantang ku untuk balapan ketika aku membelanya dan dia tidak menerima saat aku menang darinya.”

“Pria itu kekasih mu ?” tanya Aziela pada zavira.

“Bukan, dia teman ku tapi saat aku dekat dengan Devin dia berubah,” sahutnya.

“Dia membenci ku karena sesuatu,” tambah Devin.

 

Aziela tidak bertnya lagi, dia mengangguk kemudian duduk di samping Devin, menunggu Axel yang tengah mengurus segalanya. Devin dan pria itu di tahan karena balapan liar yang mereka lakukan. Beberapa saat kemudian Axel kembali.

 

“Semuanya sudah selesai, sekarang kita pulang,” gumam Axel.

Mereka berdiri lalu segera melangkah keluar. Setelah mereka berada di luar Axel berbalik dan dengan gerakan tiba-tiba dia melayangkan tinjuan kerahang Devin. Karena tak siap dengan pukulan itu Devin jatuh.

“Axel, Devin.” Aziela dan Zavira menjerit melihat kejadian itu.

“Itu untuk mom,” ujar Axel lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Devin berdiri. Devin terkekeh kemudian menggenggam tangan Axel lalu berdiri, dia mengusap darah di bibirnya. “Kau tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini jadi kau bisa menginap di rumah ku.”

“Jadi kau sengaja memukul ku agar aku menginap di rumah mu ?” cemooh Devin.

Axel terkekeh kemudian membuka pintu penumpang untuk istrinya. Aziela menatap Devin sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.

“Hmm… bolehkah Zavira tinggal beberapa hari di tempat kalian ?” tanya Devin sebelum Axel menutup pintu untuk Aziela.

 

Axel dan Aziela tampak bingung mendengar permpintaan Devin. Sebelumnya Devin tidak pernah terlihat bersama perempuan manapun. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Devin bersama seorang perempuan.

“Aku akan mengatakan siapa dia setelah tiba di rumah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s