RSS

Journey of Love Bab 8

03 Dec

 

 

 

 

 

 

Setelah tiba di rumah Devin menceritakan semua tentang Zavira pada Aziela dan Axel. Aziela sangat terkejut saat tahu ternyata Zavira adalah putri tuan Franco. Sebelumnya dia tidak pernah tahu tuan Fran memiliki seorang putri, dia hanya tahu tuan Fran memiliki seorang putra, ya itu Brian Anderson. Tuan Fran tidak pernah mengatakan apapun mengenai putrinya. Sekarang Aziela tahu mengapa dia merasa pernah melihat gadis itu. Zavira sangat mirip dengan Brian, dia adalah Brian versi feminim.

 

“Tuan Fran tidak pernah mengangap Zavira sebagai putrinya. Dia selalu bersikap seolah-olah Zavira tidak pernah ada dalam kehidupannya,” jelas Devin.

“Kenapa paman Fran bersikap seperti itu pada putrinya ?” tanya Aziela.

Devin menggeleng,”Aku tidak bisa mengatakan tentang itu, kau bisa bertanya tentang semua itu pada Zavira besok.”

Zavira sudah beristirahat di kamar tamu jadi dia tidak bisa bertanya sekarang. Devin mendesah kemudian masuk kedalam kamar Azeel malam ini. Azeel menginap di rumah nyonya Williams jadi Devin bisa mengunakan kamar itu malam ini.

 

Aziela lalu menatap suaminya yang dari tadi hanya duduk diam di sampingnya. Aziela curiga Axel tahu tentang Zavira, karena dia tidak bertanya tentang gadis itu ketika Devin bercerita tentangnya.

“Aku yakin kau pasti mengetahui tentang semua itu,” ujar Aziela.

Axel menghela nafas kemudian meletakan ponselnya di atas meja. “Istri tuan Fran meninggal setelah melahirkan Zavira. Tuan Fran menjauhi Zavira karena merasa dialah penyebab kematian istrinya.”

 

Aziela tertegun mendengar penjelasan Axel. Dia benar-benar tidak menyangka tuan Fran yang begitu penyayang bersikap seperti itu pada putrinya sendiri. Selama ini tuan Fran begitu baik padanya dan tampak sangat menyayangi Brian, tapi mengapa dia bersikap seperti itu pada putrinya sendiri ?

“Kau tidak perlu memikirkan semua itu.” Axel berdiri lalu dengan gerakan tiba-tiba dia mengakat Aziela, “Lebih baik sekarang kita tidur, gaun mu mengganggu pikiran ku jadi sekarang kau harus bertanggung jawab.”

Aziela tersenyum karena ucapan suaminya. Axel lalu membawanya kekamar mereka dan mereka bercinta lagi.

 

❄❄

 

Aziela bangun lebih pagi dari biasanya. Dia mencuci wajah dan menggosok giginya lalu kemudian pergi kedapur. Aziela menemukan Devin tengah mengambil minuman di dapur. Devin menoleh padanya dan tampak terkejut karena kehadiriannya.

“Kau bagun pagi sekali,” ujar Devin.

Aziela tersenyum lalu mengambil bahan makanan di dalam kulkas, “Aku memiliki tamu jadi aku harus memasak untuk tamu ku.”

“Kau tampak bahagia, aku tidak pernah melihat mu seperti ini setelah Axel pergi. Apa sekarang kau sudah memaafkannya ?” tanya Devin.

“Aku tidak pernah marah padanya, lagipula Axel pergi bukan karena keinginannya. Dia pergi karena permintaan ayah ku.” sahutnya.

Devin mengangguk kemudian meletakan gelas di tempat cucian lalu bersandar di dinding. “Cinta membuat seseorang yang bisa melihat menjadi buta dan kau buta karena cinta mu untuknya. Dia membuat kesalahan dan kau memaafkannya semudah itu.”

“Kenapa kau berkata seperti itu ?”

“Axel bisa saja menolak permintaan ayah mu dan tetap tinggal di sisi mu, dia bisa menjaga mu seperti yang di lakukannya saat ini, untuk melindungi mu dia tidak harus pergi.”

“Mungkin dia memiliki alasan lain menerima permintaan ayah ku,” sahutnya membela Axel. Entah mengapa dia merasa tak senang Devin berkata seperti itu tentang suaminya. Devin tidak berhak berkata seperti itu tentang Axel sementara dia tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Mungkin jika Axel tidak pergi mereka tidak akan bisa bersatu seperti ini.

Devin tersenyum dan mengangguk, “Ketika seseorang mencintai dia tidak akan peduli dengan kesalahan yang di lakukan pasangannya, meski kesalahan yang di lakukannya sangat besar,“ Devin menepuk lembut pundak Aziela, “Axel beruntung mendapatkan mu.”

 

Devin lalu melangkah pergi, sedangkan Aziela tertegun mendengar perkataan pria itu. Dia memang tidak pernah membenci Axel. Tapi Axel tidak bersalah jadi bagaimana mungkin dia membenci seseorang yang tidak bersalah ? Aziela menghela nafas kemudian melanjutkan pekerjaannya.

 

Setelah tigapuluh menit Aziela menyelesaikan masakannya. Dengan di bantu oleh pelayan, Aziela menyajikan semua makanan itu di meja makan. Zavira keluar dari kamar ketika Aziela tengah menyajikan makanan di atas meja.

“Selamat pagi,” sapa Aziela saat gadis itu melangkah mendekati meja makan. “Kau bagun tepat waktu.”

“Pagi,” balas Zavira dan tersenyum lembut padanya.

“Duduklah, aku akan membangunkan para pria,” Aziela menggeleng, “Tidak, bukan para pria, Devin sudah bangun jadi hanya priaku saja yang masih tertidur.”

“Aku sudah bangun,” ujar suara berat yang sudah sangat di kenalnya.

Aziela dan Zavira menoleh pada Axel yang tengah melangkah mendekat. Axel tampak segar sehabis mandi dan dia juga sudah siap untuk pergi kekantor. Setelah tiba di hadapan Aziela, Axel memeluk pinggangnya kemudian mengecup bibirnya.

“Selamat pagi sayang, pria mu sudah bangun dan siap untuk sarapan bersama kalian,” gumam Axel dan kembali menekan ciuman di bibirnya. Pipi Aziela memerah karena ucapan Axel. Tiba-tiba saja dia merasa malu dengan yang di katakannya tadi.

Kenapa dia harus mengatakan ‘priaku’ bukan menyebut namanya saja ? Oh ya Tuhan, dia benar-benar malu Axel mendengarnya memanggil Axel seperti itu.

 

“Kalian seharusnya lebih sopan saat memiliki tamu,” cemooh Devin yang kini tengah bergabung bersama mereka di meja makan.

Aziela segera menjauh dari Axel kemudian melangkah menuju dapur dan melanjutkan pekerjaannya. Dia mendengar Devin mengeram pada Axel karena menciumnya di depan Zavira hingga membuat gadis itu tidak nyaman. Tapi suaminya itu membalas dengan mengatakan Zavira harus mulai terbiasa dengan semua itu karena mulai sekarang Zavira akan sering menginap di sana. Kenapa Axel mengatakan Zavira akan sering menginap di sana ? Apa Devin dan Zavira adalah sepasang kekasih ?

Aziela tidak pernah melihat Devin dekat dengan gadis manapun. Devin sangat tertutup mengenai hubungan percintaannya.

 

Aziela membuat kopi untuk suaminya dan Devin kemudian menuang jus untuk dirinya sendiri dan Zavira. Dia kembali kemeja makan lalu meletakan minuman di hadapan mereka.

“Aku tidak bisa mengantar mu pulang, Lili membutuhkan ku jadi aku harus segera menemuinya,” ujar Devin pada Zavira.

“Aku akan pulang sendiri,” sahut Zavira dengan nada kecewa dan raut wajah terluka.

Aziela duduk di samping suaminya, “Axel mungkin bisa mengantar mu.”

“Tidak bisa sayang, ada meeting pagi ini.” Axel menatap Zavira, “Bagaimana kalau hari ini kau menghabiskan waktu mu bersama Aziela ? Mungkin kau ingin mengenalnya lebih jauh lagi.”

Zavira melirik Aziela sejenak lalu kemudian mengangguk menyetujui saran yang di berikan Axel. Aziela semakin bingung dengan ucapan suaminya. Dia tidak mengerti apa maksud Axel dengan mengatakan Zavira ingin mengenal Aziela lebih jauh lagi. Oh ya ampun apa lagi rahasia yang tidak di ketahuinya ?

 

❄❄

 

Axel dan Devin meninggalkan rumah setelah selesai sarapan. Aziela meninggalkan Zavira untuk mandi dan setelah selesai dia kembali lagi ketempat gadis itu berada. Saat ini mereka tengah mengobrol di taman belakang. Aziela sangat ingin bertanya arti dari ucapan suaminya beberapa menit yang lalu, tapi dia takut Zavira akan menertawakannya karena dia tidak mengetahui apapun.

 

“Berapa lama kau mengenal Devin dan bagaimana kalian bisa bertemu ?“ rasanya tidak benar jika dia langsung bertanya pada Zavira arti dari ucapan Axel tadi, jadi dia memilih bertanya hal lain.

“Tiga tahun. Brian memintanya menjadi guru biola ku,” sahut Zavira.

“Jadi dari sana kalian mulai dekat ?” tanyanya yang di jawab Zavira dengan anggukan, “Kau juga tampaknya sudah lama mengenal Axel, apa kau mengenalnya dari Devin ?”

Zavira menggeleng, “Aku mengenal Axel lebih dulu, aku mengenal Axel karena persahabatannya dengan Brian.”

Axel dan Brian sudah sangat lama bersahabat. Dulu mereka sering pergi bersama namun setelah Axel berkencan dengan Aziela mereka jarang pergi bersama.

“Apa kau dan Devin tengah menjalin hubungan special ? Aku tidak pernah melihat Devin bersikap seperti itu pada gadis manapun.”

“Tidak, kami hanya berteman,” gumamnya namun tentu saja Aziela tidak mempercayainya.

 

Devin tidak akan membawa seorang gadis pulang jika dia tidak memiliki perasaan pada gadis itu. Pria itu pernah mengatakan akan membawa seorang gadis untuk di perkenalkan padanya jika dia menemukan gadis yang membuatnya jatuh cinta. Pertemuannya dengan Zavira memang tidak di sengaja namun Devin meminta tolong padanya dan Axel agar Zavira menginap di sana dengan alasan yang tidak mau di jalaskan. Devin tidak membawa Zavira untuk di kenalkan tapi dia meminta ijin agar Zavira di perbolehkan tingga di rumahnya. Devin tidak akan melakukan itu jika memang Zavira bukan gadis yang special untuknya.

 

“Aku senang akhirnya kau dan Axel bersatu setelah semua yang terjadi,” ujar Zavira lalu tersenyum, “Axel menghubungi Brian setiap hari untuk menayakan mu,  membuat Brian jengkel. Dia tidak pernah melewatkan seharipun tanpa menayakan kabarmu pada Brian.”

Aziela tertegun mendengar ucapan Zavira, ”Axel selalu menayakan ku ?”

“Ya, tapi Brian tidak pernah menyinggung tentang putra mu, dia takut Axel akan kembali jika mengetahuinya dan merusak rencana yang telah di buat ayah mu. Dia juga selalu bertanya ‘apakah kau dekat dengan seorang pria ?’ Dan Brian dengan jengkelnya menjawab ‘ya Aziela sangat dekat dengan seorang pria dan dia mencintai pria itu lebih dari cintanya untuk mu’.” wajah Zavira berminar menceritakan semua itu, dia juga tertawa geli karena cerita itu. Zavira tampaknya mengetahui banyak hal. “Saat Brian mengatakan semua itu Axel sangat marah, aku bisa membayangkan bagiamana marahnya Axel sa…”

“Itu karena si brengsek Brian tidak mengatakan kalau yang di maksud adalah putra ku,” potong Axel yang membuat kedua perempuan itu menoleh padanya.

 

Axel bersandar di ambang pintu dan melipat kedua tangannya di dada. Pria itu tampak sudah lama berada di sana. Baru dua jam yang lalu Axel meninggalkan rumah dan sekarang dia sudah berada di sana. Bukankah Axel mengatakan memiliki meeting hari ini ? Tapi kenapa dia sudah ada di rumah sekarang ?

Pria itu berdiri tegak kemudian melangkah mendekati mereka. Axel mencium dahi Aziela kemudian duduk di kursi yang ada di sampingnya.

“Karena ucapannya aku membocorkan rahasia yang seharusnya ku jaga hingga aku kembali,” tambah Axel yang membuat Zavira tertawa.

 

Zavira tampak nyaman berbicara dengan Axel. Gadis itu tidak terlihat cangung berbicara dengan Axel. Axel lalu menoleh pada Aziela yang hanya diam mendengarkan mereka.

“Sayang aku ingin berbicara dengan mu tapi tidak di sini, kita kekamar,” ujar Axel. Aziela mengangguk lalu berdiri, “Kami harus membicarakan hal penting jadi kau tunggu di sini.”

Zavira mengangguk kemudian Axel menarik tangan Aziela dan membawanya kekamar mereka.

 

❄❄

 

Setelah meeting itu berakhir Axel langsung pulang kerumahnya. Tuan Fran memintanya untuk memberitahu Aziela tantang Jane. Malam ini tuan Fran akan pergi keluar negeri untuk urusan bisnis yang membuatnya tidak bisa mengatakan langsung pada Aziela jadi tuan Fran meminta Axel yang menyampaikan semua itu.

Axel merasa tidak sanggup untuk memberitahunya. Dia tidak ingin Aziela sedih mengetahui siapa sebenarnya ibunya, tapi dia harus mengatakannya. Dalam beberapa hari Jane mungkin sudah ada di sini jadi dia harus segera memberitahu Aziela sebelum penyihir itu memberitahunya dan membuat perempuannya hancur.

 

Aziela duduk di sofa lalu Axel berlutut di hadapannya. Dia menggenggam tangan istrinya.

 

“Sebenarnya semalam paman James ingin memberitahu mu tentang semua ini tapi karena si brengsek Devin membuat gara-gara rencana itu gagal hing…”

“Axel, sebaiknya kau katakan saja apa sebenarnya yang ingin kau katakan,” ujar Aziela memotong ucapannya.

Axel lagi-lagi menghela nafas, “Sayang, ibu mu akan datang.” Axel merasakan tubuh Aziela menegang, “Selama ini dia tinggal di luar negeri bersama suaminya. Nama ibu mu adalah Jane Anderson, dia adalah adik paman James.”

“Adik paman James ?” gumam Aziela semakin terkejut.

Axel mengangguk, “Awalnya paman James sangat membenci ayah karena sering menemui ibu mu, tapi karena kau mereka menjadi sahabat.”

“Kenapa paman James marah ayah bertemu dengan ibu ?” tanyanya.

 

‘Inilah saatnya,’ gumam Axel dalam hati.

Axel memejamkan mata dan menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Dia idak tahu bagaimanan cara membeirtahu Aziela agar istrinya itu tidak terluka. Axel berdiri kemudian duduk di samping Aziela lalu menarik istrinya itu kedalam pelukannya.

“Karena ibu mu adalah wanita yang memiliki suami,” jawaban Axel membuat tubuh Aziela menegang. Axel tahu apa yang di rasakan Aziela. Istrinya itu pasti hancur mengetahui kebenaran itu, “Tapi semua yang terjadi bukanlah kesalahan ayah. Ibu mu membuat seolah-olah dia tidak di inginkan suaminya yang membuat ayah mu merasa prihatin padanya. Ibu mu selalu meminta ayah mu datang menemuinya hingga pada suatu hari semua itu terjadi.”

“Ibu ku hamil.” Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Axel mengangguk, “Tapi bagaimana ayah tahu aku adalah putrinya ? Bukankah kau mengatakan ibu ku memiliki suami ?”

“Karena suami ibu mu tidak akan pernah bisa membuat ibu mu atau wanita manapun hamil, dan tentu saja ayah juga melakukan tes.”

“Kenapa ayah mau tidur bersama wanita yang telah bersuamu ?” Aziela tampak begitu terluka mengetahui kebenaran itu.

 

Axel benar-benar benci melihat Aziela seperti ini, tapi tidak ada yang bisa di lakukannya untuk membuat Aziela tersenyum di saat seperti ini.

“Ayah masih sangat muda saat itu dan yang dia pikirkan hanyalah mendapatkan kesenangan. Ibu mu ingin menggugurkan kandungannya saat itu tapi ayah melarangnya, ayah tidak mau merasa semakin bersalah dengan membunuh darah dagingnya sendiri.”

“Dan setelah melahirkan, ibu ku menyerahkan ku pada ayah,” gumamnya lirih.

Axel merasakan tubuh Aziela bergetar lalu kemudian terdengar isakan tertahan darinya. Axel mengeratkan pelukannya di tubuh Aziela lalu mencium puncuk kepalanya.

 

“Menagislah sayang, menagislah jika itu yang membuat mu merasa lebih baik,” gumam Axel.

Aziela mengakat wajahnya sehingga Axel bisa melihat air mata di pipi istrinya. “Apa kau tidak merasa jijik pada ku, Axel.”

“Kau berarti segalanya bagiku jadi bagaimana mungkin aku merasa seperti itu terhadap mu.” Axel memejamkan matanya lalu menghirup aroma menenangkan dari tubuh istrinya, “Lagipula semua yang telah terjadi bukanlah kesalahan mu.”

Axel mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya lalu mengecup kedua matanya bergantian. Dia mengusap pipi Aziela dengan punggung tangannya kemudian menunduk dan mencium bibirnya. Axel menyampaikan segala yang di rasakannya dalam ciuman itu.

 

❄❄

 

Azeel berlari menghampiri Aziela lalu memeluknya erat. Bocah kecil itu merajuk pada mamanya karena tidak menjemputnya di rumah neneknya. Semenak Axel masuk dalam kehidupan mereka Azeel tidak pernah mau menginap di rumah neneknya. Dia selalu ingin bersama papanya.

Aziela kewalahan menghadapi putranya hingga Axel datang dan membantunya membujuk Azeel agar berhenti merajuk. Dalam hitungan menit Axel berhasil membujuk putranya, bocah kecil itu kini asik bermain bersama papanya dan Zavira. Azeel tampak sangat senang bermain bersama tantenya itu.

Kini Aziela tahu arti dari ucapan Axel sebelum pergi kekantor pagi tadi. Aziela hancur mengetahui kebenaran itu namun di sisi lain dia bahagia karena ternyata masih memiliki keluarga di dunia ini.

 

“Papa Ajeel mau sepeda,” ujar Azeel pada papanya.

“Kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan,” sahut Axel, membuat bocah kecil itu berteriak senang.

Azeel melompat-lompat karenan senang, Axel memeluknya lalu mengajaknya berguling di atas karpet. Azeel tertawa lepas, Aziela tidak pernah melihat putranya tertawa seperti ini. Putranya itu tampaknya benar-benar bahagia bersama papanya.

Azeel berhasil meloloskan diri dari dekapan papanya. Bocah kecil itu lalu berlari menuju ibunya dan memeluknya erat untuk mencari perlindungan. Aziela tersenyum karena tingkah putranya itu.

“Ah akhirnya,” ujar Axel yang membuat Aziela langsung menoleh padanya.

Axel tersenyum kemudian berguling mendekatinya, dia meletakan kepalanya di pangkuan Aziela kemudian menarik putranya dari dekapan mamanya dan membaringkan Azeel di sampingnya.

 

“Mama akhirnya tersenyum, dan mama benar-benar jelek saat tersenyum tapi papa menyukainya,” bisiknya pada putranya namun masih bisa di dengar oleh Aziela, dan Azeel tertawa karena ucapan papanya.

“Kau jauh lebih beruntung dari ku Aziela, selain tidak mendapatkan kasih sayang ibu ku, aku juga tidak mendapatkan kasih sayang ayah ku, bahkan dia masih hidup, sehat dan kuat. Dia tidak pernah menatap atau menayakan kabar ku, dia bersikap seolah-olah aku tidak pernah ada,” gumam Zavira.

Azeel segera bangun kemudian memeluk Zavira, “Tante Melody jangan bersedih, tante memiliki Ajeel.”

Zavira tersenyum lalu balas memeluk bocah kecil itu, sementara itu Aziela dan Axel saling memandang. Mereka benar-benar terkejut melihat reaksi Azeel setelah mendengar cerita Zavira.

“Mulai sekarang aku akan menjauhkannya dari Devin,” gumam Axel lalu terkekeh.

Aziela tersenyum karena ucapan suaminya. Azeel sangat mirip papanya namun siapa sangka dia memiliki sedikit Devin dalam dirinya. Tapi Aziela bersyukur putranya memiliki sisi baik Devin, bukan sisi brengseknya.

 

“Ayo tante Melody, papa Ajeel akan mengantar mu pulang,” ujar Axel menirukan suara putranya lalu bangun.

Azeel melepaskan pelukannya kemudian menoleh pada papanya, “Ajeel ikut.”

“Ya kau boleh ikut, begitu juga dengan mama.” Axel mencium dahinya, “Ayo sayang ganti pakaian mu, kita akan membawa pria kecil ini bersenang-sanang.”

 

❄❄

 

Setelah mengantar Zavira pulang Axel membawa istri dan putranya ketoko mainan. Azeel membeli banyak mainan dan dia harus mendapatkan omelan dari istrinya itu karena tidak bisa menolak keinginan putra mereka.

“Aku lebih suka melihat mu seperti ini dari pada kau beberapa jam yang lalu,” ujar Axel menagapi omelan istrinya.

“Aku serius Axel, kau tidak boleh memanjakannya seperti itu,” geram Aziela.

Axel tersenyum lalu menarik Aziela lebih dekat dengannya, “Lihatlah dia begitu bersemangat memilih mainan-manian itu. sepertinya uang kita akan habis untuk membeli maniannya jadi kita harus bersiap-siap menjadi gelandangan.”

Aziela mendengus lalu menyingkirkan tangan Axel dari pinggangnya. Dia lalu melangkah mendekati putra mereka. Axel terkekeh kemudian menyusulnya.

 

Dia mambayar mainan itu kemudian meninggalkan toko itu. “Sayang seharusnya kau membantu ku membawa belanjaannya.” Keluh Axel.

“Bawa saja sendiri, itu salah mu menuruti keinginannya,” sahut Aziela  yang berjalan bersama Azeel di depannya.

Axel tersenyum mendengar nada jengkel dalam suara istrinya. Azielanya benar-benar telah kembali, Azielanya yang selalu mengomel padanya ketika dia membeli banyak mainan untuk putra mereka.

 

Sebelum pulang Axel mengajak mereka makan malam. Seorang pelayan perempuan datang membawa makanan pesanan Aziela. Pelayan itu menatap Axel dengan tatapan terpesona yang membuat Aziela menjadi kesal.

“Aku benar-benar berharap kau hamil dan melahirkan anak perempuan. Aku akan memberi nama Aleah pada anak perempuan kita itu, dia pasti akan sangat menggemaskan,” ujar Axel.

“Ajeel mau adik perempuan yang cantik,” celoteh Azeel.

“Jangan menjadi gila seperti papa mu,” gerutu Aziela kemudian menyuapinya.

Axel terkekeh lalu mengusap kepala Azeel. Putranya itu tersenyum dengan menggemaskan.

“Ah putra ku benar-benar menggemaskan seperti papanya,” gumam Axel yang membuatnya mendapatkan pelototan dari istrinya.

 

Setelah selesai makan Axel membawa Azeel ke mobil sedangkan Aziela pergi ketoilet. Ketika Axel tengah membantu putranya mengenakan sabuk pengaman salah seorang pengawal datang menghampirinya.

“Tuan, seseorang telah memperhatikan anda semenjak anda tiba di sini,” ujar pria bertubuh besar itu.

Axel tertegun mendengar ucapan itu, “Aziela di dalam., jaga Azeel sementara aku mencari Aziela.”

Axel segera masuk kedalam café itu dan mencari istrinya. Ketika akan melangkah menuju toilet dia melihat istrinya tengah berbicara dengan seorang pria yang sudah sangat di kenalnya. Pria itu adalah Rico, pria yang telah membuat Aziela hampir saja meninggalkannya. Axel mengepalkan tangannya melihat pria itu.

 

Axel berjalan beberapa langkah ketempat mereka berada agar bisa mendengarkan apa yang mereka katakan.

“Aku hanya ingin melihat mu untuk yang terakhir kalinya Aziela. Setelah ini aku akan pergi jauh dan tak akan pernah kembali lagi,” ujar pria itu.

Aziela menggeleng, “Aku tidak bisa bertemu dengan seorang pria di belakang suami ku. Aku tidak mau Axel salah paham, maafkan aku Rico.”

“Baiklah, aku sudah bertemu dengan mu dan ini sudah cukup untuk ku. Semoga kau selalu bahagia bersama dengannya Aziela,” gumam pria itu.

“Aku bersama dengan pria yang ku cintai, Rico jadi tentu saja aku akan selalu bahagia dengannya,” sahut Aziela.

Axel tersenyum mendengar ucapan istrinya lalu melangkah mendekati mereka. Aziela dan Rico menoleh padanya saat menyadari kehadirannya.

“Kau terlalu lama di sini jadi aku menyusul mu,” ujarnya pada istrinya itu.

“Maaf, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Rico.” Aziela lalu menoleh pada pria yang berdiri di hadapannya itu,” Aku pergi dulu Rico.” Pamitnya lalu melangkah mendekati Axel.

 

Axel melingkarkan tangannya di pinggang istrinya kemudian membawanya keluar dari café itu. Ketika mereka berada di luar Axel tak sengaja melihat seseorang memperhatikan mereka dari salah satu pohon di taman itu. Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Aziela dan mempercepat langkahnya. Axel melihat orang itu mengarahkan senjata pada istrinya, Axel segera mendekap Aziela dan detik itu juga dia merasakan sengatan rasa sakit itu di punggungnya.

“Axel.”

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 3 Dec 2016 in 18+, Novel

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: