Posted in 18+, Novel

Journey of Love Bab 9

 

 

 

 

 

 

Devin tersenyum ketika menemukan Aziela yang tengah menagis di dalam dekapan suaminya. Axel tampak kualahan menengangkannya. Kejadian di hadapannya itu mengingatkannya pada tujuh tahun yang lalu ketika Axel demam tinggi. Aziela menagis seakan-akan Axel akan mati karena demam, dan Axel menjadi begitu frustasi saat menenagkannya, seperti saat ini.

 

Devin menggeleng kemudian melangkah masuk kedalam ruangan itu. “Bahkan dia masih hidup dan sehat tapi kau menagis seolah-olah dia akan mati.”

Aziela menjauh dari Axel, dan kakaknya itu menatapnya tajam. Tapi tentu saja tatapan itu tidak mempan padanya. Devin lalu membanting tubuhnya di sofa dan membalas tatapan kakaknya itu.

“Aku pikir kali ini kau akan mati,” ujar Devin yang membuat Axel meringis.

“Bagaimana orang itu ?” tanya Axel mengabaikan ucapan Devin.

“Dia sudah tertangkap, dan Selly adalah dalang dari semua ini dan dia juga yang hampir menabrak Aziela waktu itu,” jelasnya.

“Lalu sekarang di mana perempuan itu ?”

“Selly sudah tertangkap, dan sepertinya dia akan bernasip sama seperti kakek tua itu,” Devin tersenyum untuk pertama kalinya pada Axel semenjak dia kembali. Sekarang dia sudah tahu apa alasan Axel pergi begitu lama dan dia menerima semua alasan itu. Axel pergi demi Aziela dan melindungi dirinya juga ibu mereka. Kakeknya menemukan Axel kemudian membayar orang untuk mengawasinya dan ibunya, lalu mengancam Axel akan menyelakainya dan ibu mereka jika tidak mengikuti keinginannya. Devin juga akan melakukan hal yang sama jika semua itu terjadi pada dirinya. Dia lalu berdiri. “Baiklah aku harus pergi, dan seperti keinginanmu mom tidak tahu tentang semua ini.”

 

Axel memintanya untuk tidak memberitahu ibu mereka karena takut jantung ibunya akan kambuh jika mereka mengatakan semua ini. Devin melangkah mendekati mereka dan menunduk hendak mencium pipi Aziela namun Axel menariknya lebih dekat dengannya sehingga Devin tidak bisa menciumnya.

“Jangan berani-berani kau menciumnya,” geram Axel yang membuat wajah Aziela merah padam.

Devin  terkekeh geli karena ucapan Axel. “Aku semakin yakin Azeel akan menjadi seperti dirinya,” gumamnya lalu melangkah pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.

 

❄❄

 

Aziela tengah menonton suami dan putranya yang tengah menyusun lego yang mereka beli kemarin ketika pelayan datang memberitahunya kalau seseorang mencarinya. Axel menghentikan aktivitasnya dan menatap Aziela khawatir. Tatapan Axel memberitahunya siapa yang mengunjunginya sepagi ini.

 

“Aku akan segera menemuinya,” ujar Aziela pada pelayan itu. Pelayan itu mengangguk kemudian meninggalkan ruangan itu. Sebelum pergi Aziela menatap suaminya. “Apa kau mau ikut ?”

Axel menggeleng. “Mungkin kau ingin berbicara sesuatu yang tidak ingin siapapun mendengarnya.”

Aziela mengangguk kemudian pergi menemui seseorang yang mungkin adalah ibunya. Tidak pernah ada yang mencarinya sebelumnya jadi entah mengapa dia yakin orang yang mencarinya adalah wanita yang telah melahirkannya kemudian membuangnya pada ayahnya. Aziela melangkah menuju ruang tamu, dan ketika tiba di depan ruang tamu dia berhenti. Aziela memejamkan mata dan menghela nafas kemudian membuka matanya dan melangkah keruang tamu. Ketika masuk kedalam ruangan itu, dia melihat seorang wanita tengah melihat foto Azeel, Axel dan dirinya yang tergantung di dinding. Aziela tidak tahu apa yang akan di katakan untuk menyapa wanita itu jadi dia hanya berdehem yang membuat wanita itu menoleh padanya.

 

Wanita itu menatapnya lekat kemudian tersenyum mengejek. Dia duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.

“Kau tampak benar-benar mirip dengannya,” ujar wanita itu dengan nada sedikit kasar.

“Hmm maaf,” sahut Aziela tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan wanita itu, Aziela kemudian duduk di sofa di hadapan wanita itu.

“Ronald, ayahmu,” suara wanita itu sedikit melembut ketika menyebutkan nama ayahnya.

Aziela tersenyum setelah mengetahui maksud wanita itu. “Bayak orang yang mengatakan hal itu, dan saya senang bisa mirip dengan ayah saya.” ‘Dan aku sangat bersyukur tidak mirip denganmu,’ lanjut Aziela dalam hati. “Apa sebenarnya tujuan anda datang kemari ?”

“Kau tidak bertanya siapa aku jadi aku rasa kau sudah tahu siapa aku. Tidak bolehkah aku datang melihat putriku ?”

Jawaban wanita itu membuat Aziela muak. Dia bahkan tidak menginginkan Aziela dan sekarang dia datang dan berkata ingin melihat Aziela. Jane jelas-jelas datang untuk uangnya bukan dirinya. Axel sudah mengatakan semua tentang Jane dan tujuannya menemui dirinya. Jane membutuhkan uang, itulah sebabnya dia datang pada dirinya.

 

“Aku tidak pernah berharap kau datang untuk menemuiku setelah kau membuangku pada ayahku duapuluh lima tahun yang lalu,” sahutnya tidak sopan. Aziela tidak pernah bersikap seperti ini pada siapapun. Ini adalah pertama kalinya dia bersikap tidak sopan pada seseorang. Aziela merasa terpancing dengan ucapan wanita itu hingga dia mengucapkan kata-kata tidak sopan itu.

“Seharusnya kau bersukur karena aku melahirkanmu dan membuangmu pada ayahmu,” gumam Jane.

“Aku lebih baik tidak di lahirkan dari pada harus hidup dengan pengetahuan bahwa aku adalah anak dari seorang wanita seperti dirimu,” Aziela tidak bisa menahan dirinya di dekat wanita ini.

Jane tampak sangat marah karena ucapana Aziela. Dia hendak membuka mulutnya untuk berbicara namun karena teriakan Azeel Jane menutup kembali mulutnya. Azeel berlari keruang tamu sambi berteriak gembira. Dia membawa lego yang telah berbentuk pesawat.

 

“Mama, papa membuat ini untuk Ajeel,” jerit bocah kecil itu kemudian menujukkan pesawat dari lego yang di buatkan oleh papanya itu pada Aziela.

Aziela tersenyum sayang pada putranya kemudian berdiri, dan menatap Jane. “Maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi karena aku harus menemani suami dan putraku,” Aziela mengenggam tangan kecil putranya dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu namun ketika tiba di depan pintu dia berhenti dan kembali menoleh pada Jane. “Jika kau menginginkan uang katakan pada paman James dan aku akan mengirimkannya untukmu. Agap saja uang itu sebagai balasan karena kau telah melahirkanku dan menyerahkanku pada ayahku. Dan tolong jangan pernah menemuiku lagi.”

Aziela lalu membawa putranya meninggalkan tempat itu. Azeel berjalan sambil melompat-lompat karenan senang, dia lalu melepaskan genggaman Aziela dan berlari masuk kedalam ruang keluarga di mana Axel berada. Aziela yakin Jane akan menemuinya lagi jika uang yang akan di berikannya habis jadi dia mengatakan semua itu agar dia tidak mencoba menemuinya lagi. Melihat dan berbicara dengan Jane hanya membuatnya mengingat siapa dirinya. Dia terlahir dari hubungan gelap orang tuanya yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Aziela tidak mau lagi bertemu dengan Jane, selamanya.

 

❄❄

 

“Aku sudah berusaha keras untuk tetap tenang tapi aku tidak bisa melakukannya saat berbicara dengan wanita itu. Semua ini belum pernah terjadi padaku sebelumnya,” Aziela menceritakan semua yang terjadi saat dia menemui ibunya pada Axel saat kembali kekamar mereka.

Aziela sudah tidak canggung lagi saat berbicara pada Axel. Dia sudah mulai nyaman dengan suaminya itu. Ketika Aziela menceritakan kekesalannya tentang ibunya pada Axel, suaminya itu mendengarkannya dengan penuh perhatian. Aziela mengatakan tentang kekesalannya dan kemarahan yang tiba-tiba saja muncul saat berbicara dengan ibunya.

 

“Dia pantas mendapatkan itu darimu,” sahut Axel sambil mengusap pipi Aziela dengan lembut.

Aziela menatap suaminya dengan tatapan sendu. “Aku mengatakan akan memberinya uang sebagai balasan karena telah melahirkanku, kemudian aku memintanya agar tidak menemuiku lagi. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, Axel. Aku ingin dia menjauh dariku selamanya.”

“Aku bisa memberitahu paman James agar wanita itu tidak menemuimu lagi,” ujar Axel.

“Terima kasih Axel,” gumamnya.

“Aku akan melakukan apapun untukmu,” bisik Axel kemudian menarik Aziela kedalam dekapannya. Aziela membalas pelukannya dan meletakan kepalanya di dada suaminya itu. Berada dalam dekapan Axel membuat Aziela kembali merasa utuh.

 

Axel mengakat dagunya kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Aziela memejamkan mata dan membalas ciuman suaminya itu. Axel mengisap bibir bawahnya dan memberikan gigitan kecil di bibirnya yang membuatnya mengerang. Tangan Axel bergerak untuk melepas kancing baju Aziela. Ketika Axel hendak melepas kancing bajunya, Aziela menggemggam tangannya dan melepaskan ciuman itu.

“Axel, kau sedang sakit,” cegah Aziela.

Axel tersenyum kemudian mengusap pipinya dengan lembut. “Aku baik-baik saja. Satu-satunya yang terasa sakit di sini adalah kejantananku. Aku membutuhkanmu untuk menghilangkan rasa sakit ini.”

 

Aziela menatap suaminya ragu, tapi lalu dia mengangguk. Axel segera membaringkannya di ranjang dan mencium bibirnya dengan bergairah. Axel kembali melepaskan kancing baju yang di kenakan Aziela satu persatu hingga seluruh kancing terlepas. Axel tersenyum saat melihat Aziela tidak mengenakan bra di balik baju yang di kenakannya.

Axel melepas bajunya kemudian melemparnya kelantai. Dia mencium pundak Aziela dan menggigit kecil bagian itu hingga menimbulkan bercak merah kehitaman di sana. Aziela mengerang atas apa yang di lakukan suaminya. Ciuman Axel turun kebawah dan meninggalkan jejak di rute yang di laluinya. Dia meremas kedua dada Aziela dengan lembut kemudian memasukan salah satu puting yang sudah mengeras itu kedalam mulutnya.

 

“Axel,” Aziela mengerang lalu meremas rambut suaminya itu dengan lembut.

Setelah puas dengan puting yang satu Axel berpindah keputing yang lain. Dia memperlakukan kedua puting itu dengan adil. Axel lalu meninggalkan kedua puting itu kemudian menurunkan ciumannya keperut Aziela, dan berhenti tepat di bawah perutnya. Axel melepaskan celana sekaligus celana dalam yang di kenakan Aziela, dan melemparnya kelantai. Axel membuka paha Aziela lebar dan tersenyum saat menemukan Aziela sudah sangat basah siap untuknya.

“Aku tidak ingin bermain-main terlalu lama. Aku ingin segera berada di dalam dirimu untuk menghilangkan rasa sakit ini,” ujar Axel kemudian berdiri dan melucuti pakaiannya sendiri.

 

Axel berlutut di antara kaki Aziela kemudian menggenggam miliknya yang sudah sangat mengeras. Axel mengosok-gosok ujung kejantananya di pintu masuk milik Aziela lalu mendorongnya hingga miliknya tertanam sepenuhnya di dalam Aziela.

“Axel,” Aziela lagi-lagi mengerang karena perbuatan suaminya itu.

Axel mengecup bibir Aziela dan mulai mengerakan pinggulnya. Aziela sontak melingkarkan kedua kakinya dipaha suaminya.

“Kau selalu terasa nikmat,” erang Axel lalu menengelamkan wajahnya di lekukan leher Aziela. Pria itu meninggalkan tanda kepemilikannya di sana kemudian meremas salah satu payudara Aziela dengan lembut. Axel memainkan puting coklat itu dengan jarinya kemudian mengantinya dengan mulutnya. Axel menghisap puting itu dengan kuat kemudian menggigitnya yang membuat Aziela merasakan sakit sekaligus nikmat.

 

Aziela meremas rambut Axel kemudian ikut mengerakan pinggulnya dan mencoba mengimbangi gerakan suaminya itu. Setelah beberapa menit Aziela merasa dekat dengan pelepasannya. Dia mempercepat gerakannya kemudian menjerit menyebut nama suaminya ketika mencapai puncak kenikmatannya.

Axel meninggalkan puting Aziela dan bergerak semakin cepat kemudian menyusul Aziela mencapai puncak kenikmatannya. Axel menekan dirinya dan menyemburkan cairannya kedalam Aziela.

 

Axel menjatuhkan dirinya di samping Aziela kemudian menariknya kedalam dekapannya. Pria itu mencium dahi Aziela dan mengucapkan kata-kata yang akhir-akhir ini selalu di ucapkannya setelah mereka selesai bercinta.

“Aku ingin kau segera hamil,” bisiknya kemuian mengeratkan pelukannya.

Aziela memejamkan matanya dan berdoa agar keinginan suaminya segera terwujut.

 

❄❄

 

Jane masuk kedalam ruangan kerja James kemudian duduk di sofa di sudut ruangan. Wanita itu menuang minuman kedalam gelas kemudian meneguknya, dan menatap kakaknya yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya.

“Dia adalah anak yang tidak tahu berterima kasih,” gerutu Jane yang berhasil membuat James mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya.

“Kau tidak pernah ada dalam kehidupannya jadi untuk apa dia berterima kasih padamu,” sahut James yang tampaknya tahu siapa orang yang di maksud Jane.

Jane memutar matanya dan kembali meminum minuman itu. “Aku melahirkannya jadi setidaknya dia bersikap sopan padaku bukan malah berbicara dengan kasar dan mengusirku dari rumahnya.”

“Kaulah yang membuatnya melakukan semua itu. Jika saja kau tidak meninggalkannya begitu saja dan mengabaikannya di sebagian besar hidupnya mungkin dia tidak akan bersikap seperti itu padamu. Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menemuinya Jane, tapi kau bersikeras. Sekarang tolong jangan ganggu dia lagi, biarkan dia bahagia bersama keluarga kecilnya,” geram James.

 

Jane meringis mendengar ucapan kakaknya itu. Dia menemui Aziela karena membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutangnya. Dia memiliki begitu banyak pinjaman dan harus segera di lunasinya, jika tidak dia akan hidup di jalan. Suami sialannya itu tidak mau membiayai hidupnya lagi setelah mengetahui perselingkuhannya. Dan Jace tidak mau menceraikannya meski mengetahui tentang perselingkuhannya karena sebagian harta yang di miliki suaminya itu akan jatuh ketangannya. Sekarang dia tidak memiliki apapun dan James menolak untuk membantunya jadi setelah mengetahui semua harta Ronald jatuh ketanagan Aziela, dia datang menemuinya.

 

Saat ini hanya Aziela yang bisa membantunya terbebas dari hutang-hutangnya, dan bisa kembali hidup mewah seperti dulu. Jane sebenarnya tidak peduli bagaimana Aziela bersikap padanya, tapi pengusiran yang di lakukannya membuatnya merasa terhina.

“Axel telah mengirim uang untukmu. Uang itu cukup untuk membayar hutang-hutangmu dan hidup dengan mewah. Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya, dan setelah ini ku harap kau tidak meminta apapun lagi dari Aziela,” ujar James kemudian meletakan cek di atas mejanya.

Jane berdiri kemuian mengambil cek itu. Dia tersenyum melihat betapa banyak angka yang tertulis di dalam cek itu, dia bahkan melupakan pengusiran yang di lakukan putrinya saat melihat uang itu. Dia bisa hidup mewah selama beberapa bulan dengan uang itu dan melunasi hutang-hutangnya.

 

❄❄

 

Aziela duduk di atas toilet menunggu hasil tes di tangannya dengan cemas. Setelah beberapa menit menunggu dalam kecemasan akhirnya dia mendapatkan hasil yang di harapkan dari tes itu. Sudut bibir Aziela tertarik membentuk sebuah senyum ketika melihat dua garis pada tes itu. Dia segera keluar dari kamar mandi dan menemui suaminya di dalam ruangan kerjanya. Azeel ada di sana tengah merajuk pada papanya.

 

“Jika kau sekolah pagi ini papa janji akan membeli banyak mainan untukmu,” bujuk Axel pada putra mereka yang tengah merengek padanya.

“Ajeel tidak mau pergi kesekolah, papa,” rengek putra kecilnya itu yang membuat Axel tampak frustasi.

Aziela tersenyum kemudian melangkah masuk kedalam ruangan itu. Ayah dan anak sontak menoleh padanya. Azeel berlari mendekatinya kemudian memeluk kakinya. Aziela tersenyum kemudian mengusap kepala buah cintanya itu dengan sayang.

“Bukankah kau ingin menjadi seperti papa hmm ?” ujarnya pada putranya dengan lembut. Azeel mengakat wajahnya untuk menatapnya kemudian mengangguk.

Aziela berlutut di hadapannya dan mencium kedua tangannya. “Jika kau ingin menjadi seperti papa kau tidak boleh malas pergi kesekolah.”

Bocah kecil itu mengangguk kemudian tersenyum ceria. Dia mencium pipi Aziela kemudian berlari memanggil pengasuhnya untuk memandikannya. Aziela tersenyum meliat tingkah putranya itu.

 

“Kau tahu cara membuatnya menurut,” gumam Axel kemudian berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Aziela. Axel memeluk pinggangnya kemudian mengecup bibirnya.

“Aku memiliki kejutan untukmu,” ujar Aziela pada suaminya itu.

Axel sekali lagi menekan ciuman di bibirnya. “Ulang tahunku sudah lewat beberapa hari yang lalu.”

Aziela melingkarkan tangannya di leher suaminya itu kemudian berjinjit dan mencium bibir Axel.

“Ya, dan hadiah special dariku untukmu menyusul.” Aziela mengusap pipi suaminya dengan lembut. “Dan kau akan sangat menyukai hadiah ini.”

“Baiklah, dimana hadiahnya ? Aku ingin segera melihatnya.” Axel tampak penasaran dengan hadiah yang akan di berikannya.

Aziela menggigit bibir bawahnya kemudian mengambil salah satu tangan Axel dan meletakan tangan itu di perutnya. Kali ini Axel tampak benar-benar terkejut dengan apapun yang di ketahuinya.

“Apa yang menjadi doamu beberapa minggu ini akhirnya tercapai. Selamat Axel Williams, kau akan menjadi ayah lagi,” ujarnya.

 

Axel tersenyum kemudian mengakat Aziela dan mengajaknya berputar. Pria itu berteriak senang karena kabar yang di dengarnya. Sedangkan Aziela menjerit dengan yang di lakukan suaminya itu. Dia memukul lengan Axel dan memintanya untuk menurunkannya.

Axel menurunkannya lalu mencium seluruh wajah Aziela kemudian berlutut di hadapannya. Suaminya itu lalu mengusap perutnya dan mengusapnya dengan lembut.

“Putri kecilku, kau harus tumbuh dengan baik di dalam sana.” Ucapan Axel membuatnya mendapatkan pukulan di lengannya.

“Bagaimana jika dia seorang pria ?”

“Tidak, dia akan menjadi seorang gadis kecil yang cantik seperti mamanya, dia adalah Aleah. Percayalah padaku” sahutnya dengan begitu percaya diri.

Aziela memutar matanya. “Jadi jika dia laki-laki kau tidak akan menerimanya hmm ?”

“Dia berasal darimu jadi tentu saja aku akan menerimanya dengan bahagia meski dia laki-laki, tapi aku benar-benar yakin dia adalah anak perempuan.” Axel bersikukuh dengan keyakinanya.

Aziela memutar matanya karena keyakinan suaminya yang benar-benar tinggi itu.

 

 

“Apa maksudnya dengan anak permepuan ?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s