Posted in 18+, Novel

Journey of Love Bab 10

 

 

 

 

 

Axel dan Aziela menoleh kearah pintu dan mendapatkan nyonya Williams tengah berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Nyonya Williams menatapnya dan Axel dengan tatapan tajam. Aziela tahu arti dari tatapan itu.

Nyonya Williams marah pada mereka karena beberapa minggu ini mereka tidak mengajak Azeel kerumahnya. Semenjak kejadian sebulan yang lalu, mereka lebih sering menghabiskan waktu di rumah.

 

“Mom, kapan kau….”

“Di mana cucuku ?” tanya nyonya Williams memotong ucapan Axel.

“Dia sedang bersia-siap untuk pergi kesekolah,” sahut Aziela takut-takut.

Nyonya Williams berbalik dan hendak melangkah pergi meninggalkan mereka namun Axel berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang untuk menghentikannya. Suaminya itu tampaknya tahu kalau ibunya tengah marah.

“Maafkan aku mom. Aku tidak bermaksud untuk menjauhkanmu dari cucumu. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi aku tidak bisa mengajak Aziela dan Azeel kesana. Dan akhir-akhir ini Aziela sering merasa kurang sehat,” jelas Axel.

Apa yang di katakan suaminya itu memang benar kecuali yang terakhir. Dia tidak pernah merasa kurang sehat, tapi Axel mengatakan semua itu agar nyonya Williams tidak marah padanya.

 

Nyonya Williams berbalik dan menatapnya dengan tatapan khawatir. “Apa sekarang kau baik-baik saja ?”

Aziela tersenyum dan mengangguk. Dia lalu melangkah mendekati nyonya Williams kemudian mencium kedua pipi wanita paruh baya itu.

“Baik mom, aku merasa kurang sehat karena calon cucumu,” sahutnya.

“Cucu perempuanmu,” koreksi Axel.

Aziela ingin mencekik suaminya itu karena bersikeras kalau bayi yang di kandungnya adalah seorang anak perempuan.

“Benarkah ?” tanya nyonya Williams dengan mata berbinar. Axel dan Aziela mengangguk bersama. “Tapi mengapa kalian baru memberitahu mommy ?”

“Karena kami baru mengetahuinya pagi ini, mom. Dan…” Aziela menatap suaminya jengkel. “Dia bisa saja seorang anak laki-laki, jadi berhentilah mengatakan dia adalah anak perempuan.”

Axel hanya mengakat bahunya kemudian melepaskan pelukannya dari ibunya, dan menekan ciuman di bibir Aziela kemudian kembali berkutat dengan pekerjannya yang tertunda karena rengekan Azeel.

 

Nyonya Williams kemudian mengajak Aziela keruang keluarga dan berbicara di sana.

“Jika dia yakin kalau calon anak kalian seorang perempuan maka itu mungkin saja. Dulu daddy juga seperti itu ketika mommy mengandung Devin. Daddy bersikeras kalau calon anak kedua kami adalah seorang anak laki-laki, dan benar saja itu terjadi. Daddy bahkan mempersiapkan nama anak laki-laki untuk adik Axel beberapa minggu sebelum mommy hamil,” ujar nyonya Williams saat mereka duduk di sofa ruang keluarga.

 

Axel juga mempersiapkan nama untuk calon anak kedua mereka jauh sebelum mengetahui dia hamil. Benarkah calon anak kedua mereka adalah seorang  perempuan ? Dia benar-benar tidak peduli dengan semua itu, yang terpenting baginya adalah calon bayinya tumbu dengan baik dan lahir dengan sehat. Yang lainnya dia benar-benar tidak peduli.

 

❄❄

 

Ketika merasa semuanya kembali seperti biasa Aziela mengajak Azeel berbelanja di supermarket. Tapi tentu saja dia pergi dengan dua orang pangawal atas perintah suaminya. Aziela tidak suka di perlakukan seperti ini, tapi dia yakin Axel melakukan semua ini demi kebaikan dirinya dan putra mereka, jadi dia tidak membantah ketika Axel mengatakan dia harus membawa pengawal bersamanya.

 

“Mama Ajeel lapar,” rengek bocah kecil yang dari tadi hanya mengikutinya saja.

Aziela tersenyum kemudian berlutut di hadapannya. “Kita pergi makan hmm.”

Azeel mengangguk dengan bersemangat kemudian mereka keluar dari supermarket setelah memastikan dia telah membeli semua keperluan, kemudian mencari restoran terdekat. Hari ini Azeel tidak meminta apapun selain makanan, tidak biasanya bocah kecil itu tidak meminta di belikan mainan. Semenjak dia dan Axel memberitahu tentang calon adiknya, Azeel tidak pernah lagi mengeluh dan meminta macam-macam.

 

Mereka memilih sebuah restoran yang letaknya tidak begitu jauh dari supermarket. Aziela turun bersama putranya dan mengajak kedua pengawalnya, namun kedua pria itu menolak dengan sopan. Aziela dan Azeel masuk kedalam restorannya, dan sungguh tak terduga, suaminya, Brian dan seseorang lelaki paruh baya berada di dalam restoran itu. Mereka tampak tengah terlibat dalam pembicaraan serius. Ketika berjalan ketempat meja di dekat jendela Aziela menutupi pandangan Azeel di tempat papanya berada agar dia tidak merengek ingin makan bersama papanya.

 

Akhir-akhir ini Azeel memang tidak pernah merengek lagi, tapi Aziela tidak yakin putranya itu tidak akan merengek untuk yang satu ini. Aziela mengangkatnya dan mendudukkannya di kursi, lalu memesan makanan untuk mereka. Pesanan mereka tiba beberapa menit kemudian. Aziela hendak menyuapi putranya itu, namun Azeel menolak dan mengatakan akan makan sendiri.

 

“Baiklah, tapi Ajeel tidak boleh makan berantakan, mengerti ?” ujar Aziela dengan lembut.

Azeel mengangguk kemudian memakan spaghettinya dengan hati-hati agar sausnya tidak mengenai bajunya. Aziela tersenyum melihat putranya yang tengah memakan spaghettinya dengan sangat hati-hati, hingga dia lupa pada makannya sendiri.

“Mama sangat mencintaimu, sayang,” gumam Aziela.

Putra kecilnya itu tampaknya tidak mendengar apa yang di katakannya. Jika Azeel mendengarnya dia pasti membalas ucapannya. Aziela tersenyum kemudian mengusap kepala putranya dengan sayang, lalu menyantap makanannya. Dia melirik suaminya yang tengah berbicara dengan serius pada lelaki paruh baya yang tengah bersamanya dan Brian.

 

Aziela tiba-tiba khawatir dengan yang akan di pikirkan Axel jika mengetahuinya makan di tempat itu. Axel mungkin akan berpikir kalau dia memata-matainya. Aziela menggeleng untuk menepis pemikiran itu. Axel sudah tahu dia keluar untuk membeli keperluan dapur, jadi Axel tidak akan mungkin berpikir seperti itu tentang dirinya.

 

Aziela kemudian melirik putranya yang tampak tengah kesulitan dengan makanannya. Dia ingin membantunya, tapi dia yakin Azeel akan menolaknya seperti tadi. Jadi Aziela hanya mengawasinya saja agar saus spaghetti tidak mengenai bajunya.

“Hai, aku melihat kalian saat datang tadi,” ujar suara berat yang sudah sangat di kenalnya.

“Papa,” gumam Azeel melihat papanya.

Axel tersenyum kemudian mengacak-acak rambut putra mereka, dan duduk di dekat Aziela.

“Aku tidak tahu kau mengadakan pertemuan di sini.” Tentu saja dia tidak tahu, Axel tidak pernah mengatakan membuat pertemuan di sana.

“Brian yang memilih tempat ini,“ sahutnya kemudian melirik putra mereka yang tengah kesusahan dengan spaghettinya. “Apa kau sudah mendapatkan semua yang kau cari ?”

Aziela mengangguk. “Azeel lapar jadi aku mengajaknya kesini. Ini adalah restoran paling dekat dengan supermarket.”

 

Axel mengangguk mengerti yang membuat Aziela merasa lega. Dia lega karena Axel tidak berpikir dia mengajak Azeel makan di sana karena memata-matainya.  Aziela memang tidak berniat melakukan semua itu, dia percaya pada Axel.

“Bagaimana kalau kita pergi berjalan-jalan setelah ini ?” tanya Axel.

“Ajeel mau,” jerit Azeel senang, dan Aziela hanya mengangguk menyetujuinya.

 

❄❄

 

Axel dan Aziela mengajak putra mereka ketaman bermain. Bocah kecil itu mencoba segala macam permainan yang ada di sana. Setelah merasa kelelahan bermain dia duduk di bangku taman, dan meminta papanya untuk membelikannya es krim.

 

“Tadi pagi kakek tua itu menghubungiku dan memohon padaku untuk kembali,” ujar Axel yang membuat tubuh Aziela menegang.

Aziela menatap suaminya. “Kau akan kembali ?”

Aziela benar-benar takut Axel akan meninggalkannya lagi. Dia tidak mau melewati masa kehamilannya tanpa suami lagi, tidak.

“Semenjak aku kembali, dan kita bersama lagi kau belum pernah sekalipun mengatakan mencintaiku,” gumam Axel mengabaikan pertanyaannya.

Aziela memang belum pernah mengatakan mencintai Axel semenjak dia kembali, bahkan setelah mereka meresmikan pernikahan mereka. Aziela tidak pernah mengucapkan kata-kata itu bukan karena dia tidak lagi mencintai Axel. Dia sangat mencintai Axel, dan akan selalu mencintainya. Dia tidak mengucapkan kata-kata itu karena dia merasa malu untuk mengatakannya.

 

“Axel, ak….”

“Katakan kau mencintaiku, dan aku akan menjawab pertanyaanmu,” sela Axel memotong ucapan Aziela. Pria itu tampaknya tahu kalau dia tidak akan pernah mengatakan semua itu. “Ayo katakan kau mencintaiku, Aziela,” bujuk Axel.

Aziela memejamkan matanya kemudian menghela nafas. “Aku mencintaimu Axel Williams, selalu mencintaimu.”

Axel tersenyum kemudian menarik Aziela lebih dekat dengannya , dan dengan tiba-tiba Axel mencium bibirnya. Aziela tertegun dengan apa yang Axel lakukan, namun kemudian dia mendorong suaminya itu menjauh.

“Kau gila Axel, di sini banyak anak-anak,” geram Aziela.

“Ada Ajeel juga, tapi Ajeel senang,” celoteh Azeel yang dari tadi hanya sibuk dengan es krimnya.

Axel terkekeh mendengar ucapan putranya sedangkan Aziela hanya menatap ayah dan anak itu dengan jengkel. Tapi lalu dia tersenyum.

“Baiklah sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku tidak akan pernah kembali kesana. Di sini adalah tempat dimana seharusnya aku berada jadi untuk apa aku kembali kesana,” jawabaan Axel membuat Aziela merasa lega.

 

Axel memeluk pinggang Aziela kemudian mencium dahinya. Aziela tersenyum lalu meletakan kepalanya di bahu suaminya itu. Sedangkan Azeel kembali melanjutkan bermain bersama teman yang baru saja di kenalnya.

 

❄❄

 

Aziela menunggu Axel di balkon sambil menikmati pemandangan indah di malam hari. Axel tengah menemani putra mereka di kamarnya sambil membaca buku cerita. Azeel sekarang tidak mau lagi di temani Aziela saat akan tidur. Aziela merasa cemburu pada Axel karena sekarang putra mereka lebih memilih Axel dari pada dirinya.

Aziela sudah terbiasa mengurus Azeel seorang diri, dan sekarang Axel tiba-tiba muncul dalam kehidupan mereka dan membuat perhatian Axel teralihkan dari dirinya.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan ?” Axel memeluknya kemudian mencium puncuk kepalanya.

“Aku tidak memikirkan apapun, hanya aku sedikit cemburu padamu karena semenjak kau kembali Azeel hanya mau melakukan segalanya denganmu. Dia sudah tidak mau lagi bersamaku,” sahut Aziela.

Axel melepaskan pelukkannya kemudian membalik Aziela menghadapnya. “Dia selalu bersamaku, tapi dia selalu membicarakanmu. Segala yang kami lakukan selalu menyangkut tentangmu. Azeel melakukan semua itu seakan-akan ingin menyadarkanku kalau aku seharusnya ada saat kalian melakukan semua itu. Dan kenyataan itu membuatku merasa semakin bersalah pada kalian karena telah pergi begitu saja tanpa ada penjelasan.”

“Kau tidak harus merasa bersalah atas segala hal yang pernah terjadi, Axel. Mungkin jika semua itu tidak terjadi kita tidak akan bersama seperti ini. Anggap saja semua yang pernah terjadi adalah ujian untuk cinta kita,” sahut Aziela lalu memeluk suaminya itu dan meletakan kepalanya di dadanya.

 

Axel membalas pelukan Aziela kemudian mencium puncuk kepalanya. Aziela memejamkan mata, menikmati dekapan hangat suaminya. Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan akhirnya dia bisa mencapai kebahagiaan yang tidak pernah di bayangkannya akan bisa di capainya. Perjalanan cintanya akirnya berakhir dengan sebuah kebahagiaan.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s