RSS

Prince of Darkness Bab 1

23 Feb

 

 

 

 

 

“Kau di sini rupanya,” ujar suara berat yang sudah mulai akrab di telinga Carline.

Carline menoleh pada pria bermata biru terang yang berdiri beberapa langkah di belakangnya itu. Pria itu mengerutkan dahinya kemudian melangkah mendekati Carline dan duduk di sampingnya yang membuat jantung Carline berdegup kencang. Dia tidak pernah merasa seperti ini saat berada di dekat pria manapun. Romeo adalah satu-satunya pria yang bisa membuatnya berdebar, dia bahkan baru dua bulan yang lalu mengenal pria ini.

 

“Aku tidak tahu ternyata hutan mengerikan ini memiliki tempat seindah ini,” yang di maksud Carline bukanlah tempat itu, tapi pria yang kini tengah duduk di sampingnya.

Oh ya ampun, bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu ? Apa ini karena benturan di kepalanya ?

 

Pria itu mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka tersisa hanya beberapa inci. Perbuatan pria itu membuat Carline menahan nafas. “Jadi kau berpikir tempat ini mengerikan ?”

“Hmm ya,” sahutnya gugup.

Pria itu, Romeo tersenyum karena ucapan Carline atau mungkin karena Romeo menyadari kegugupannya. Romeo tampak mengerikan dengan senyum itu, tapi dia juga tampak menggoda. Oh ya ampun….

 

Romeo Evenston adalah orang yang menolongnya dari kecelakaan bus yang menewaskan seluruh penumpang kecuali dirinya. Romeo mengatakan menemukan dirinya di tepi sungai dalam keadaan tidak sadarkan diri kemudian pria itu membawa Carline ke tempat itu. Romeo juga mengatakan dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Carline tidak mengingat apapun tentang kecelakaan itu.

 

“Bagaimana kakimu ?” Romeo menarik dirinya kemudian menatap sungai.

Carline akhirnya bisa kembali bernafas. “Masih terasa nyeri.”

Romeo kembali menoleh padanya. “Lalu kenapa kau keluar ?”

“Aku bosan di dalam.”

“Tempat ini bukan kota jadi kau bisa tersesat di sini, dan kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi di luar sana, jadi aku harap kau tidak mengulangi ini lagi,” gumam Romeo dengan nada yang mengerikan.

“Rumahmu bahkan terlihat dari sini jadi bagaimana mungkin aku bisa tersesat,” desis  Carline.

Romeo menatapnya tajam. Jika orang lain melihat tatapan itu mungkin dia akan lari ketakutan, tapi tidak dengan dirinya. Tatapan Romeo membuat jantungnya berdebar. Carline benar-benar tidak mengerti kenapa jantungnya selalu berdebar saat Romeo menatapnya atau melakukan sesuatu pada dirinya.

 

Carline berdiri dan dengan bersusah payah dia melangkah meninggalkan Romeo di sungai itu. Jantungnya tidak akan bisa bertahan lagi jika Romeo terus menatapnya seperti itu.

 

***

 

Setelah selesai makan malam Carline pergi kekamar yang di tempatinya sekitar dua bulan ini. Dia tidak mengatakan apapun pada Romeo saat meninggalkan ruang makan itu.

 

Carline masuk kedalam kamar itu, kemudan melangkah menuju jendela. Dia berdiri di depan jendela, dan melihat pemandangan di luar. Sebenarnya dia tidak bisa melihat apapun di luar sana dalam keadaan gelap seperti ini, tapi tidak ada yang bisa di lakukannya di jam seperti ini sementara dia belum mengantuk. Di jam seperti ini biasanya dia berbicara dengan Romeo, tapi saat ini dia sedang tidak ingin berbicara dengannya, dan menjauh darinya.

 

“Tidak ada yang bisa kau lihat di luar sana saat gelap seperti ini,” suara berat Romeo mengejutannya.

Dia menoleh pada Romeo yang kini tengah melangkah mendekatinya. Carline sedang tidak ingin berbicara dengannya, tapi dia selalu saja muncul di sekitar Carline.

‘Kenapa pria ini tidak mengerti dengan isyarat yang di berikannya ketika dia meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan apapun padanya ?’ gerutunya dalam hati.

 

Aroma tubuh Romeo memenuhi indra penciuman Carline ketika dia melangkah mendekatinya. Aroma tubuh Romeo begitu menggiurkan, dan…. Carline segera menggeleng menepis pemikiran gila yang mulai merasuki otaknya.

“Apa yang sedang kau pikirkan ?” tanya Romeo sambil mengerutkan dahinya.

Carline tersadar dari lamunannya, dan segera mengalihkan tatapannya dari Romeo. Dia merutuki kebodohannya yang selalu saja berpikir tentang pria aneh ini. Dia tidak pernah berpikir tentang seorang pria kecuali ayah dan adiknya, tapi kenapa pria yang satu ini selalu berada dalam pikirannya ?

 

“Tempat ini begitu mengerikan, tapi kenapa kau mau tinggal di sini sendiri ?” ujarnya mengabaikan pertanyaan Romeo.

“Aku hanya ingin menjauh dari semua orang,” geram Romeo, tapi dia merasa itu bukanlah jawaban dari pertanyaannya. Carline merasa Romeo tinggal di sini karena sesuatu yang lain bukan karena ingin menjauh dari semua orang.

“Kau bisa pergi ketempat lain jika hanya ingin menjauh dari semua orang,” Carline kemudian menatap Romeo yang langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh Romeo.

“Ini adalah tempat yang tepat untukku,” jawaban Romeo menandakan bahwa Carline tidak boleh bertanya lagi tentang hal itu.

Carline baru dua bulan mengenal Romeo, tapi dia sudah cukup mengerti dengan isyarat yang Romeo berikan untuknya. Tapi kenapa Romeo tidak pernah bisa mengerti dengan isyarat dari dirinya ?

“Setelah kakimu sembuh, aku ingin kau segera pergi dari sini,” Romeo sudah berulang kali mengatakan semua itu.

“Tentu saja, untuk apa aku berlama-lama di sini. Tempat ini bukanlah tempat yang ingin ku tinggali meski tempat ini lebih besar dari rumahku,” sahut Carline terdengar begitu meyakinkan.

Sebenarnya dia senang tinggal di sana, tapi Romeo tidak menginginkannya tinggal di sana, jadi tidak mungkin dia berterus terang akan hal itu. Tempat itu sejujurnya tidak begitu mengerikan, Romeo lah satu-satunya yang mengerikan di sini. Dia mengatakan tempat itu mengerikan agar Romeo tidak tahu kalau dia sebenarnya menyukai tempat itu. Tempat itu begitu sunyi dan menenagkan, cocok untuk dirinya yang menyukai kesunyian.

 

“Bagus, aku harap kakimu bisa segera sembuh,” Romeo lalu meninggalkan Carline sendiri di kamar itu.

Ucapan Romeo, seolah-olah ingin Carline segera meninggalkan tempat itu. Carline menghela nafas kemudian berjalan menju ranjang, dan berbaring di sana.

 

Romeo Evenston begitu misterius.

 

***

 

Pagi itu hujan turun dengan sangat lebat. Carline menatap rintikan hujan dari jendela kamarnya. Dia ingin bermain hujan tapi kakinya masih sakit jadi dia hanya menikmati hujan dari dalam kamar. Pagi ini dia belum bertemu dengan Romeo. Saat turun untuk sarapan dia tidak menemukan Romeo di sana, entah kemana pria itu pergi. Carline tidak terkejut ketika tidak menemukan pria itu pagi ini. Romeo memang sering menghilang di pagi hari, dan akan muncul di siang hari dengan membawa buah-buahan segar dan makanan. Carline benar-benar bingung di mana Romeo mendapatkan makanan itu sementara mereka berada jauh di kedalaman hutan. Buah-buahan itu Romeo bisa mendapatkannya di hutan, tapi makanan itu ?

 

Carline pernah bertanya padanya, tapi Romeo tidak menjawab pertanyaannya. Jika Romeo keluar dari hutan, itu akan membutuhkan dua hari jadi tidak mungkin pria itu keluar dari hutan untuk mencari makanan. Carline tahu itu karena Romeo pernah mendatangkan seorang dokter kesana untuk memeriksa keadaannya. Dokter itu adalah teman Romeo, jadi dia bersedia ketika Romeo memintanya datang kesana untuk memeriksanya. Dokter itu mengatakan menghabiskan waktu dua hari hingga tiba di tempat itu. Carline percaya pada dokter itu, lagipula tidak ada gunanya dokteri itu berbohong padanya.

 

“Carline,” suara berat Romeo mengejutkan Carline.

Dia menoleh pada Romeo yang tengah berdiri di ambang pintu. Seperti biasa, pria itu terlihat begitu tampan, dan menggiurkan.

‘Oh ayolah Carline berhenti berpikir seperti itu tentang pria aneh itu,’ Carline mengerutu dalam hati.

“Ya ?” sahutnya.

“Aku ingin menayakan sesuatu padamu, kita bicara di bawah,” ujar Romeo tampak begitu serius. Romeo berbalik dan melangkah meninggalkannya.

Carline mengikuti Romeo dengan susah payah. Kakinya masih sangat sakit saat dia melangkah namun dia menahannya. Dia tidak ingin Romeo tahu kalau kakinya masih sangat sakit.

 

Ketika tiba di tempat itu, Carline telah menemukan perapian menyala. Carline melangkah masuk kedalam ruangan itu, dan duduk di dekat perapian agar tubuhnya hangat. Sedangkan Romeo duduk di sofa dengan secangkir minuman hangat di hadapannya.

“Apa kau sudah sarapan ?” tanya Carline sebelum Romeo mengatakan sesuatu. Pria itu tadi tidak ada di sini, dan sekarang tiba-tiba saja dia sudah berada di sini.

Romeo mengangguk. “Bagaimana kepalamu ? Apa kau masih sering merasakan sakit ?”

“Sudah tidak lagi,” jawaban Carline membuat Romeo tampak lega.

“Syukurlah, itu berarti dokter Marlo tidak harus datang ketempat ini lagi. Dia membuang begitu banyak waktunya hanya untuk memeriksa kondisimu,” gumam Romeo dengan kejam.

 

Kata-kata Romeo begitu kejam, namun Carline tidak bisa membalasnya. Romeo telah menolongnya dan membiayai perawatannya, jadi tidak ada yang bisa di lakukannya selain menerima semua itu.

“Kau masih memiliki keluarga ?” pertanyaan Romeo membuat Carline kembali teringat pada ayah dan adiknya. Ayah dan adiknya pasti sangat menghawatirkannya, tapi dia tidak tahu bagaimana cara menghubungi mereka.

“Ya, aku masih memiliki ayah, adik, kakek juga nenek,” ibunya masih hidup namun dia sudah bukan bagian dari keluarganya. Carlien telah menganggap ibunya sudah meninggal. Ibunya meninggal di hari dia meninggalkannya bersama ayah dan adiknya.

“Jadi ibumu sudah meninggal ?”

“Ya,” Carline menjawab dengan penuh kebencian.

 

Romeo mengerutkan dahinya. Pria itu tampaknya menyadari kebencian dalam nada suaranya saat dia bertanya tentang ibunya. Romeo tidak bertanya lagi tentang ibunya, dia hanya mengangguk dan menyesap minumannya.

“Lalu kekasihmu ? Dia pasti sangat menghawatirkanmu,” entah mengapa Carline membenci pertanyaan itu. Carline membenci pembicaraan tentang ibunya, dan kekasih yang tidak akan pernah bisa di milikinya. Memiliki kekasih hanyalah mimpi untuknya.

“Aku tidak memiliki kekasih,” sahutnyanya.

 

Carline melihat senyum samar di bibir Romeo ketika dia mengucapkan kata-kata itu. Pria itu berdiri kemudian melangkah mendekati Carline lalu duduk di sampingnya. Apa yang di lakukan Romeo hanya membuatnya merasa gugup.

“Kenapa kau tidak memiliki kekasih ?”

“Karena tidak ada yang mau menjadikanku sebagai kekasihnya,” geramnya.

Tentang Daniel, dia tidak mau mengangap sahabatnya itu seperti pria yang di maksud Romeo, meski Daniel telah berulang kali mengungkapkan perasaannya pada Carline.

Romeo memiringkan kepalanya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Jika Romeo bergerak maju sedikit saja mereka bisa ber….

“Aku tidak percaya dengan yang kau katakan,” Romeo menatapnya dengan tatapan tajam.

Oh ya Tuhan, Carline membenci tatapan itu. Tatapan itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari seharusnya. Carline mengalihkan tatapannya dari Romeo, namun pria itu memegang dagunya dan memaksa Carline untuk menatapnya.

 

“Kau sangat cantik, jadi tidak mungkin tidak ada pria yang menginginkanmu,” ucapan Romeo membuat kedua pipi Carline memerah. “Aku yakin banyak pria yang menginginkanmu.”

“Aku sudah mengatakan tidak ada yang menginginanku,” bentak Carline, namun suaranya terdengar begitu gugup.

Romeo menyentuh pipinya lalu mengusapnya. “Apa yang akan kau lakukan jika saat ini seseorang tengah begitu menginginkanmu.”

“Itu tidak mungkin,” ujar Carline terbata. Apa yang di lakukan Romeo hanya membuatnya semakin gugup.

“Kenapa itu tidak mungkin ?”

“Karena di tempat ini tidak ada siapapun selain kau dan aku.”

“Dan kau tidak berpikir bahwa saat ini aku sangat menginginkanmu ?” pertanyaan Romeo membuat Carline menjadi frustasi.

“Jangan membuatku menjadi bodoh,” Carline mengeram frustasi.

 

Dengan sangat tiba-tiba Romeo mencium bibirnya, yang membuatnya begitu sangat terkejut. Pria itu menghisap bibir bawahnya, dan mencoba memasukan lidahnya kedalam mulut Carline. Bayangan masa lalu itu tiba-tiba melintas di pikirannya. Bayangan ketika seorang pria menciumnya dengan paksa lalu kejadian mengerikan yang merubah hidupnya.

 

Carline mendorong Romeo dengan seluruh kekuatan yang di milikinya. Dia berdiri, dan dengan menahan sakit di kakinya dia berlari meninggalkan Romeo di ruangan itu. Dia masuk kedalam kamarnya dan menguci pintu.

 

***

 

Hujan mulai reda dan malam mulai gelap. Carline belum keluar dari kamar itu semenjak kejadian tadi pagi. Dia tidak siap untuk bertemu dengan Romeo setelah kejadian itu. Carline merasa malu sekaligus ketakutan. Dia malu karena bersikap seperti itu pada Romeo, dan takut Romeo akan menyakitinya seperti yang di lakukan pria yang hingga saat ini tidak di ketahuinya.

 

Semenjak pagi Carline duduk di ranjang sambil bersandar di kepala ranjang. Kakinya membengkak karena berlari. Romeo pasti akan berpikir dia sengaja melakukan itu agar dia bisa tetap tinggal di sana. Tapi dia melakukan semua itu karena Romeo jadi pria itu tidak mungkin berpikir seperti itu tentang dirinya.

“Carline buka pintunya, aku membawa makanan untukmu,” ujar Romeo sambil mengetuk pintu kamarnya.

Carline ingin mengabaikannya, tapi ini rumahnya. Carline akhirnya berdiri, dan dengan langkah tertatih-tatih berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu untuk pria itu.

“Aku membawakanmu makanan,” Romeo menyerahkan makanan itu pada Carline, dan dia tentu saja menerima makanan itu.

“Terima kasih,” gumamnya kemudian berbalik dan kembali melangkah menuju ranjangnya.

 

Dia meletakan makanan itu di atas meja, dan duduk di ranjang. Carline melihat dari ujung matanya kalau Romeo masih berdiri di ambang pintu. Dia menoleh pada pria itu.

“Aku minta maaf tentang kejadian tadi pagi. Aku benar-benar tidak menyangka kau akan bersikap seperti itu,” ujar Romeo bersungguh-sungguh.

“Aku sudah memaafkanmu,” sahutnya pelan.

Romeo menghela nafas kemudian melangkah masu. Pria itu lalu duduk di sofa ujung ranjang. Dia menatap Carline.

“Sebenarnya apa yang terjadi ?” tanya Romeo yang membuat Carline kebingungan. “Kenapa kau bersikap seperti itu saat aku menciummu ?,” Romeo mengatakan semua itu seakan-akan apa yang di lakukannya bukan sebuah masalah.

“Aku hanya terkejut,” ujar Carline berbohong.

“Kau tidak tampak seperti orang yang tengah terkejut. Kau lebih terlihat seperti orang yang ketakutan dari pada terkejut,” gumam Romeo, kemudian menatap Carline dengan tatapan curiga. “Aku yakin kau pasti menyembunyikan sesuatu. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi ?”

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 23 Feb 2017 in 18+, Novel, True Love Stories

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: