Posted in 18+, Novel, True Love Stories

Prince of Darkness Bab 2

 

 

 

 

“Maaf Romeo, aku tidak bisa mengatakannya padamu,” Carline tidak mau siapapun mengetahui kejadian apa yang pernah terjadi di masa lalunya. Ayah dan adiknya bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.

Romeo menatapnya beberapa saat kemudian bangun, dan meninggalkannya sendiri di sana. Carline menghela nafas lega karena Romeo tidak mendesaknya untuk bercerita. Jika Romeo mendeksaknya, dia tidak yakin tidak akan menceritakan semua itu padanya.

 

Karena merasa kelaparan Carline memakan makanan yang di bawakan Romeo. Namun ketika tegah menikmati makanannya, tiba-tiba saja dia teringat pada ayah dan adiknya. Ayahnya dan Ray pasti berpikri kalau dia ikut tewas dalam kecelakaan itu. Tapi Carline tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahu mereka bahwa saat ini dia baik-baik saja. Dia berada jauh di kedalaman hutan dan tidak ada yang bisa di gunakannya untuk menghubungi ayah dan adiknya di tempat itu.

 

Apa yang harus di lakukannya untuk menghubungi ayahnya ? Dia tidak mungkin meminta Romeo membantunya untuk memberitahukan ayahnya kalau dia baik-baik saja. Romeo sudah begitu banyak membantunya, jadi dia tidak mungkin meminta Romeo membantunya lagi. Yang harus di lakukannya sekarang adalah menyembuhkan kakinya agar dia bisa segera bertemu dengan ayah dan adiknya. Tapi kapan kakinya akan sembuh ? Jika saja dia tidak berlari, dan menahan sakit di kakinya seperti tadi mungkin kakinya akan sembuh dalam dua minggu.

 

Carline lagi-lagi menghela nafas, kemudian kembali memakan makananya.

 

***

 

Hujan baru saja reda, dan Carline baru bisa pulang kerumahnya setelah hujan reda. Carline mempercepat langkahnya, takut ayahnya khawatir padanya karena pulang terlambat. Namun ketika hendak menyebrangi jalan sebuah mobil sport silver berhenti dengan tiba-tiba di sampingnya. Seorang pria keluar dari dalam mobil kemudian dengan langkah gontai pria itu mendekatinya. Jalanan malam itu sangat sepi, membuat Carline ketakutan. Carline mempercepat langkahnya, namun dengan sangat mengejutkan pria itu menariknya dengan paksa. Carline memberontak dan hendak berteriak namun pria itu membungkam mulutnya.

 

“Ayolah cantik, aku akan membayarmu setelah ini,” ujar pria itu, kemudian menariknya kedalam sebuah gang gelap. Pria itu menciumnya dengan paksa, dan mencoba melepaskan seragam sekolah yang di kenakannya.

 

=====================================================================

 

“Carline, ada apa denganmu ?” Romeo menepuk pipi Carline hingga gadis itu membuka matanya. Carline mengerjap kemudian duduk di atas ranjang. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Romeo menuang air kedalam gelas kemudian menyerahkannya pada Carline. Dia menerima gelas itu lalu meneguk air itu hingga habis.

“Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa kau berteriak seperti itu ? Apa kau bermimpi buruk ?” tanya Romeo tampak ingin tahu.

“Tidak, aku hanya bermimpi buruk,” sahutnya.

Romeo menatapnya tampak menuntut penjelasan darinya. “Mimpi apa ? Kau harus mengatakannya padaku agar kau merasa lebih baik.”

“Aku….” Carline tampak ragu, namun dia berpikir apa yang di katakan Romeo memang benar. Mimpinya tadi bukanlah sekedar mimpi, dia benar-benar pernah mengalami semua itu tujuh tahun yang lalu saat dia masih berusia empat belas tahun. Sudah sangat lama dia tidak bermimpi tentang kejadian itu, dan sekarang tiba-tiba saja dia memimpikan kejadian itu lagi.

“Carline, katakan padaku ?” Romeo mendeksaknya.

Carline tidak mau mengatakannya, tapi dia tahu kali ini Romeo pasti akan mendesaknya untuk bercerita. Carline akhirnya menceritakan mimpinya, tapi dia tidak mengatakan kalau semua itu pernah benar-benar terjadi.

 

“Pria itu memaksaku lalu aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena kau membangunkanku,” ujar Carline.

Wajah Romeo memucat mendengar cerita Carline. Dan untuk kesekian kalinya Romeo meninggalkan kamarnya tanpa mengatakan apapun. Romeo selalu seperti itu jadi Carline tidak merasa bingung ketika Romeo pergi tanpa mengatakan apapun.

 

Benar apa yang di katakan Romeo. Dia merasa lebih baik setelah menceritakan semua itu padanya meski dia tidak memberitahukannya kalau semua itu pernah terjadi di masa lalunya. Tapi Romeo tampak aneh saat meninggalkan kamarnya.

 

‘Apa yang terjadi pada pria itu ?’ Carline membatin.

Carline kembali mengingat mimpinya itu. Carline tidak mengerti kenapa mimpi itu datang lagi setelah sekian lama. Apa mimpi itu datang lagi karena Romeo menciumnya ?

Carline memejamkan mata lalu menggeleng. Dia kembali berbaring dan memejamkan matanya, namun bayang-bayang kejadian itu kembali muncul. Carline kembali duduk kemudian dia memeluk bantal. Dia tidak bisa kembali tidur karena mimpi buruk itu.

Carline ingin masa lalunya berhenti menghantuinya, tapi dia tidak tahu bagaimana cara agar bisa terlepas dari semua itu. Kejadian itu membuatnya takut memimpikan kisah romantic dengan seroang pria.

 

Bisakah suatu saat nanti dia melupakan masa lalunya, dan menemukan seorang pria yang bisa menerima dirinya apa adanya ? Carline lagi-lagi menghela nafas. Dia bahkan tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya, dan dia baru saja memikirkan tentang kisah manis tentang seorang pria. Dia mulai berpikir seperti ini saat mengenal Romeo.

 

***

 

Tidak seperti biasa, pagi itu Romeo datang membawakan makanan untuk Carline, juga air hangat untuk merendam kaki Carline yang membengkak karena ulahnya kemarin. Dia benar-benar bingung dengan perubahan sikap pria itu, namun dia tidak mau bertanya dan merusak suasana hati Romeo yang tampaknya sedang baik.

 

“Terima kasih,” gumam Carline yang di jawab dengan anggukan oleh Romeo. Pria itu juga tidak begitu banyak bicara pagi ini. Semua ini terasa sangat aneh, Romeo yang biasanya kasar menjadi pendiam, dan membantu Carline merawat lukanya.

“Romeo,” Carline memanggilnya pelan. Romeo mengakat wajahnya dan menatapnya. “Maafkan aku telah menyusahkanmu.”

“Tidak masalah. Aku senang bisa membantumu,” sahut Romeo.

Jawaban Romeo mengejutkan Carline. Pria itu tidak biasanya menjawab dengan nada selembut ini. Biasanya dia akan berbicara dengan kasar.

 

Setelah merendam kakinya Romeo mengoleskannya dengan sesuatu yang beraroma menyegarkan lalu memijatnya dengan lembut. Apa yang di lakukan Romeo membuat Carline merasa di hargai. Tidak pernah ada pria yang bersikap seperti ini padanya. Carline menjauh dari semua pria yang pernah mencoba mendekatinya, dan tidak mengijinkan siapapun untuk terlalu dekat dengannya, termasuk Daniel, sahabatnya. Romeo adalah pria pertama yang Carline ijinkan sedekat ini dengannya, dan tentu saja semua ini bukan karena alasan dia sedang sakit, atau karena Romeo memaksanya. Dia bisa saja menolak Romeo berada terlalu dekat dengannya, tapi dia tidak bisa melakukannya.

 

Carline ingin selalu berada di dekat Romeo, namun dia tidak bisa melakukannya. Dia akan terluka jika membiarkan dirinya selalu berada di dekat Romeo, jadi Carline selalu mencoba menjaga jarak darinya.

 

“Sudah selesai Apa kau merasa lebih baik ?” tanya Romeo.

Carline mengangguk. “Aku benar-benar berterima kasih untuk semua ini Romeo.”

Romeo menatapnya dengan mata biru indahnya yang selalu membuat jantung Carline berdebar kencang. Pria itu lalu menyentuh bibir bawanya dengan ibu jarinya, seperti yang di lakukannya kemarin. Carline membeku karena perbuatan Romeo.

 

“Aku tidak akan melakukannya, jika bukan kau yang memintanya,” Romeo bangun, dan seperti biasa, dia meninggalkan Carline, tapi kali ini Romeo meninggalkan Carline dalam kegingungan.

Akankah Carline meminta Romeo untuk menciumnya ? Carline menggeleng. Itu tidak mungkin terjadi, atau mungkin akan terjadi ?

“Aaahhhhh,” Carline menggeram frustasi karena pemikirannya. Semenjak mengenal dan dekat dengan Romeo, Carline menjadi gila. Dia sering memikirkan pria itu, dan merasa gugup ketika berada di dekatnya. Carline tidak pernah merasa gugup saat dekat bersama seorang pria selain bersama Romeo.

 

‘Oh ya ampun apa yang terjadi pada diriku,’ erang Carline dalam hati.

 

***

 

Hari-hari berlalu, dan Romeo masih bersikap lembut pada Carline. Pria itu tidak pernah lagi bersikap kasar padanya semenjak hari itu. Seperti pagi ini, setelah sarapan, Romeo mengajaknya kesungai.

 

“Beberapa hari lagi kakiku pasti sembuh, dan aku bisa segera pergi dari sini,” ujar Carline kemudian duduk di atas batu besar di tepi sungai dan mencelupkan kakinya kedalam air. Dan Romeo juga melakukan hal yang sama.

“Aku tidak ingin kau pergi,” ucapan Romeo mengejutkan Carline. Tapi lalu Romeo melanjutkan ucapannya. “Bertahun-tahun aku hidup sendiri disini, dan ketika kau datang aku tidak mau sendiri lagi.”

“Kenapa kau tidak keluar saja dari sini ?” Carline sudah lama ingin menayakan hal itu, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan semua itu.

Romeo menggeleng. “Aku tidak bisa keluar dari sini. Ini adalah tempatku, tempat di mana aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk meratapi dosa yang pernahku perbuat.”

Carline lagi-lagi terkejut karena ucapan Romeo. Dia tidak menyangka Romeo akan mengatakan semua itu. Carline ingin bertanya dosa apa yang pernah Romeo perbuat, tapi seperti dirinya Romeo pasti tidak akan menceritakan apapun.

 

Carline menatap air sungai yang mengalir jernih. “Setiap orang memiliki dosa, Romeo. Begitu juga denganku, tapi kita tidak bisa menghukum diri kita sendiri atas dosa yang pernah kita perbuat. Kau harus melakukan hal lain untuk menebus dosamu, bukan menghukum dirimu sendiri, seperti ini.”

“Tidak ada yang bisaku lakukan selain ini. Dan kau tidak akan berkata seperti itu jika mengetahui dosa apa yang pernahku perbuat. Kau pasti akan sangat membenciku, dan untuk menatapku saja kau akan merasa jijik.”

Carline mendengar penderitaan dalam ucapan Romeo. Romeo tampak begitu menderita, ini adalah pertama kalinya Carline melihat sisi lemah Romeo.

 

‘Oh ya Tuhan apa yang terjadi pada pria ini ?’ Carline bergumam dalam hati.

Carline tanpa sadar meraih Romeo kemudian memeluknya. Dia mengusap punggung Romeo dengan lembut, berharap itu bisa menenagkannya. Tapi tiba-tiba saja Carline merasakan sesuatu yang aneh saat memeluk pria itu. Carline merasa akrab dengan tubuh yang kini berada dalam pelukannya itu.

 

“Apa yang sedang coba kau lakukan ?” suara dingin Romeo menyadarkan Carline akan apa yang sedang di lakukannya.

Carline segera melepaskan pelukannya di tubuh Romeo. Pria itu menatapnya tak senang dengan apa yang Carline lakukan. Carline menunduk, dan segera menyesali perbuatannya.

“Ma…maaf, ak…aku tidak sengaja,” gumamnya.

Dia mendengar Romeo menghela nafas. “Jangan mengulanginya lagi.”

Carline menjawabnya dengan aggukkan. Oh semua ini sungguh sangat memalukan. Seharusnya dia bisa mengontrol dirinya agar tidak melakukan hal bodoh. Tapi selama dia berada dekat dengan Romeo, dia akan selalu menjadi orang bodoh.

Carline merutuki kebodohannya sendiri, dan rasanya dia ingin berlari meninggalkan Romeo sendiri di sana. Tapi kewarasannya agar tidak berlari, dan membuat dirinya tersesat di dalam hutan masih bekerja.

 

“Setelah kakimu benar-benar sembuh aku akan mengantarmu,” ujar Romeo.

“Aku tidak mau meninggalkanmu sendiri di sini,” sahut Carline kemudian mengakat wajahnya dan menatap pria di sampingnya itu.

“Aku tidak ingin kau tinggal hanya karena kau merasa kasian padaku.”

“Tidak, Romeo. Aku ingin tetap di sini karena aku menyukai tempat ini. Tempat ini begitu nyaman, dan damai,” gumam Carline.

Romeo menoleh padanya kemudian mengangkat dagu Carline, memaksa untuk menatapnya. Romeo mengusap bibir Carline dengan ibu jarinya kemudian mendekatkan wajahnya dengan Carline. Dia sontak menutup matanya menunggu Romeo untuk melakukan sesuatu padanya.

 

“Apa yang kau harapkan untukku lakukan padamu, Carline ?” bisik Romeo.

“Cium aku,”  Carline memohon.

Carline tidak mengerti kenapa dia harus memohon pada Romeo untuk menciumnya. Tidak seharusnya dia melakukan itu, namun karena ingin terlepas dari trauma masa lalunya dia memberanikan diri memohon agar Romeo menciumnya. Carline tidak mau terus terjebak di dalam trauma masa lalunya. Beberapa hari ini Carline berbikir bagaimana cara agar dia bisa terlepas dari kenangan mengerikan itu, dan berpikir ini mungkin cara agar dia bisa terlepas dari kenangan itu.

 

Romeo mengerang kemudian menempelkan bibirnya di bibir Carline. Bayangan itu mulai muncul di dalam pikirannya, namun Carline segera membuka matanya meyainkan dirinya kalau pria yang sedang menciumnya adalah Romeo, pria yang telah menolongnya bukan pria brengsek yang dengan kejam menghancurkan hidupnya.

 

Romeo tiba-tiba saja berhenti. Pria itu mundur kemudian memegang kedua pipi Carline.

“Aku selalu tahu kau tengah menyembunyikan sesuatu. Katakan, apa yang sebenarnya kau sembunyikan ?” tanya Romeo.

“Aku sudah mengatakan padamu, tidak ad….”

“Ya, dan kau berbohong. Kau tampak ketakutan ketika aku menciummu, dan itu tidak mungkin terjadi jika bukan karena suatu alasan. Aku pernah merengut ciuman pertama seroang gadis, tapi reaski yang di berikannya tidak seperti driimu,” potong Romeo.

Kata-kata Romeo menegaskan bahwa itu bukan ciuman pertamanya, dan sesuatu memang pernah terjadi padanya. Bagi Carline itu adalah ciuman pertamanya, kejadian beberapa tahun yang lalu tidak terhitung sebagai ciuman, Carline di paksa saat itu.

Carline memejamkan mata kemudian menghela nafas. “Kejadian yang ku ceritakan beberapa minggu yang lalu bukanlah mimpi. Semua itu nyata. Seorang pria telah melecehkanku, dan membuatku ketakutan ketika seorang pria yang tidak memiliki hubungan darah denganku menyentuhku.”

“Maafkan aku,” ujar Romeo menyesal.

“Kau tidak perlu meminta maaf karena membuatku mengungapkan rahasia yang telahku simpan selama bertahun-tahun,” gumam Carline kemudian kembali menatap air di hadapannya.

 

Romeo tidak mengatakan apapun lagi, dan semua itu membuat Carline merasa lega karena tidak harus menjelaskan apapun lagi padanya.

 

***

 

Carline berdiri di balkon kamarnya melihat Romeo yang tengah memotong kayu. Pria itu tidak mengenakan baju, mambuat Carline bisa melihat tubuh indahnya. Romeo adalah gambaran keindahan dari seorang pria. Dia memiliki ketampanan yang akan membuat para perempuan menolak untuk menoleh ketempat lain jika telah menatapnya, di tambah lagi dia memiliki tubuh yang sempurna.

 

Romeo telah selesai memotong kayu. Pria itu mengumpulkan satu persatu potongan kayu itu kemudian membawanya masuk ketempat penyimpanan kayu agar tidak basah jika hujan turun. Beberapa menit kemudian Romeo kembali, dan melakukan hal yang sama. Tubuh Romeo bahas oleh keringat yang membuatnya tampak semakin menggoda.

 

“Oh ya Tuhan, berhentilah berpikir seperti itu, Carline. Sebaiknya kau mengambilkannya air,” gerutunya pada dirinya sendiri.

Dia lalu pergi kedapur, dan mengambilkan air untuk Romeo. Carline setengah berlari ketampat Romeo berada. Setelah tiba di sana, dia melihat Romeo tengah mengumpulkan potongan kayu-kayu itu. Carline mendekatinya lalu menyerahkan air itu untuknya.

“Kau pasti haus,” ujarnya.

Romeo mengambil air itu dari tangan Carline kemudian meminumnya. Keringat menetes di dahi Romeo, dan Carline lagi-lagi berpikir kalau pria di hadapannya sangat menggoda. Oh ya ampun, Romeo telah merusak otaknya.

 

“Terima kasih,” ucap Romeo lalu menyerahkan botol yang kini telah kosong ketangan Carline.

Pria itu kemudian kembali mengumpulkan potongan kayu, dan membawaynya kedalam.

“Aku akan membantumu,” ujar Carline, dan meletakan botol kosong itu bangku kayu yang ada di sana.

“Aku bisa melakukannya sendiri,” geram Romeo, namun Carline tidak memperdulikannya.

Carline mengangkat potongan kayu itu, dan meletakannya ketempat di mana Romeo meletakannya. Kakinya sudah tidak begitu sakit lagi saat di gerakan, jadi sekarang dia bisa membantu Romeo untuk melakukan sesuatu.

 

“Carline, aku mengatakan ak….”

“Sebentar lagi akan turun hujan, dan semua ini akan selesai dengan cepat jika aku membantumu,” Carline memotong perkataan Romeo.

Romeo mengeram karena Carline memotong perkataannya, tapi tentu saja Carline tidak peduli dengan semua itu. Selama ini Romeo merawatnya dengan sangat baik, meski dia berbicara dengan sangat kasar pada Carline.

 

Sebelum mereka selesai memasukan potongan-potongan kayu itu hujan mulai turun. Romeo meninggalkan sisa potongan kayu itu lalu berlari masuk kedalam rumah, tapi tidak dengan Carline. Dia tetap di luar menikmati hujan yang mulai membasahi tubuhnya.

Carline merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya. Dia tersenyum saat merasakan hujan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu tidak merasakannya.

Romeo berteriak memerintahkannya untuk masuk, tapi Carline mengabaikannya. Dia ingin merasakan hujan setelah berminggu-minggu, dan tidak ingin di ganggu oleh Romeo. Tapi ketika tengah menimati hujan tiba-tiba saja memeluk pinggangnya kemudian mencium bibirnya.

 

Carline terkejut dengan apa yang di lakukan Romeo, namun dia menikmati ciuman itu. Carline melingkarkan tangannya di leher Romeo kemudian memberanikan diri membalas ciuman itu, dan hasil dari perbuatannya adalah Romeo memperdalam ciumannya. Carline ingin memejamkan matanya, tapi dia memaksakan matanya untuk terbuka agar bayangan kelam itu tidak muncul.

Romeo menggigit kecil bibirnya yang membuatnya bibir Caline terbuka karena mengerang. Romeo memasukan lidahnya dan menjelahai mulutnya. Kali ini bayangan itu tidak muncul karena Romeo melakukannya dengan lembut, tidak seperti waktu itu.

 

Setelah puas bermain-main dengan bibir Carline, Romeo memindahkan ciumannya keleher Carline. Pria itu mencium lehernya yang membuat Carline mau tidak mau terpejam, dan bayangan itu kembali muncul dalam benaknya.

Carline mendorong Romeo dengan segenap kemampuannya. Dia menatap pria itu sambil terenggah. Selama beberapa saat mereka hanya saling menatap, kemudian Carline meminta maaf padanya dan berlari masuk kedalam rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s