RSS

Prince of Darkness Bab 3

28 Feb

 

 

 

 

 

 

 

 

Pria itu menarik Carline kedalam sebuah gang gelap kemudian menciumnya dengan paksa. Dia juga melepaskan seragam sekolah yang di kenakannya. Pria itu tersenyum setelah berhasil melepas seragam yang Carline kenakan. Dia lalu membawa Carline kedalam gudang tua yang sudah tidak lagi di gunakan.

Carline terus memberontak meski dia tahu tidak akan bisa bebuat apa-apa. Pria itu mengikat kedua tangannya di belakang dan menyumpal mulutnya dengan saputangan yang Carline dapatkan dari adiknya sebagai hadiah ulang tahunya yang ketiga belas.

 

Setelah berhasil melepas seragam Carline, pria itu menatap Carline dengan mata birunya.

 

=====================================================================

 

Carline terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Mimpi itu datang lagi, tapi kenapa pria yang ada di dalam mimpinya itu seperti Romeo ? Apa mungkin itu karena kejadian tadi siang ? Mimpi-mimpi itu datang ketika Romeo melakukan sesuatu yang membuatnya teringat pada kejadian di masa lalunya. Tapi kenapa dia bermimpi pria yang melakukan semua itu adalah Romoe ? Apa sebenarnya maksud dari mimpinya itu ?

 

Carline tidak pernah tahu seperti apa pria yang melecehkannya karena tempat itu sangat gelap, dan karena Romeo selalu berada di dalam pikirannya dia bermimpi pria yang melecehkannya adalah Romeo ? Entahlah, Carline tidak mengerti dengan semua ini.

 

“Apa kau baik-baik saja, Carline ?” suara berat Romeo mengejutkan Carline.

Dia menoleh pada pria itu kemudian mengangguk. Romeo mengerutkan dahinya lalu melangkah masuk kedalam kamar itu. Romeo duduk di tepi ranjang dan menatap Carline.

“Kau berkeringat. Apa kau bermimpi buruk lagi ?” tanya Romeo.

“Tidak, aku hanya takut pada petir,” sahutnya tidak sepenuhnya berbohong.

Di luar masih hujan, di tambah lagi kilat dan petir menyambar. Carline membenci petir, tapi kali ini dia bersukur karena adanya petir dia tidak harus memikirkan alasan apa yang akan di berikannya pada Romeo. Carline tidak mungkin menceritakan mimpinya, jika dia menceritakannya, itu berarti dia harus memberitahu Romeo tentang mimpi yang melibatkan dirinya. Romeo pasti berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya jika dia menceritakannya.

 

“Tidak akan ada yang terjadi padamu,” ujar Romeo.

“Ya, tapi tetap saja aku takut,” gerutunya.

Romeo tersenyum tulus untuk pertama kalinya, dan senyum itu membuat Carline menahan nafas. Romeo semakin tampan jika tersenyum seperti itu. Oh ya ampun dia tampak seperti seorang pangeran, pangeran kegelapan.

 

“Bagaimana jika aku menemanimu di sini ?” tawar Romeo.

Kedua pipi Carline memerah karenanya. “Tidak perlu.”

“Baiklah, kalau begitu aku pergi,” ketika Romeo berdiri petir nenyambar membuat Carline melompat kedalam pelukan Romeo.

“Tolong jangan pergi. Temani aku di sini,” Carline setengah memohon.

“Jika kau mengijinkan aku tidur di ranjang bersamamu, aku akan tinggal di sini,” ujar Romeo.

Carline hendak protes tapi petir kembali menyambar yang membuatnya menyetujui keinginan Romeo. Carline melepaskan pelukkannya kemudian Romeo naik keatas ranjang, dan bebaring di sisi yang kosong. Carline mengerang dalam hati, namun dia tetap saja berbaring di samping Romeo. Tidak butuh waktu Carline kembali memasuki alam mimpi, dan kali ini dia bermimpi indah.

 

***

 

Carline terbangun di pagi hari, dan menemukan dirinya tengah menempel pada Romeo. Dia benar-benar terkejut menemukan dirinya dalam posisi itu. Dia menarik dirinya, dan mencoba melepaskan pelukan Romeo di tubuhnya, tapi usaha yang di lakukannya membuat Romeo semakin mengeratkan pelukannya. Carline mendesah, dan menghentikan usahanya melepaskan diri dari Romeo. Dia tidak bisa melakukan apapun termasuk itu membangunkannya. Romeo tertidur pulas, membuat Carline tidak tega untuk membangunkannya, jadi dia memutuskan menunggu Romeo bangun.

 

Carline menatap lekat pria yang tengah terlelap di hadapannya itu. Romeo Evenston, telah membuatnya menjadi gila. Carline merasa sebentar lagi dia akan menjadi seperti sahabatnya, Claire. Claire menjadi gila karena cintanya pada seorang pengusaha muda, putra dari teman ayahnya, tapi meski tidak mendapatkan cinta dari pria itu, Claire sebentar lagi akan menikah denganya. Lalu dirinya ? Dia akan menjadi gila karena selalu terpesona pada pria ini. Tapi untuk mencintainya, itu tidak mungkin.

 

“Apa aku terlalu tampan hingga kau menatapku seperti itu hmmm ?” suara serak Romeo terdengar begitu sexy di telinganya.

Carline mengerjap menyadari apa yang tengah di pikirkannya. Kedua pipi Carline memerah.

“Aku benar-benar tidak menyangka kau akan tidur di sini,” ujarnya.

Romeo tersenyum, senyum yang membuat Carline terpesona. Pria itu mendekat pada Carline, dan seperti biasa dia menyentuh bibir Carline dengan ibu jarinya.

“Aku menyukai bibirmu,” gumamnya lalu menatap Carline lekat. “Saat kau terlelap aku akan pergi, tapi rasanya begitu sulit untuk pergi meninggalkanmu,” Romeo mengusap pipinya dengan lembut. “Dan saat kau terlelap rasanya aku ingin menyerangmu.”

 

Romeo mencium dahinya cukup lama kemudian dia bagun, dan meninggalkannya. Carline tidak bisa mengatakan apapun atas apa yang Romeo lakukan pada dirinya. Carline tidak pernah membiarkan seorang pria menyentuhnya lebih dari sekedar menyentuh tangannya. Tapi Romeo, dia membiarkan pria itu menciumnya bahkan tidur di ranjang yang sama dengannya, dan memeluknya.

Apa yang di miliki pria itu yang membuatnya tidak bisa menolak sentuhannya ? Romeo bahkan membuat dirinya ingin terlepas dari masa lalunya. Tidak pernah ada seorang priapun yang membuatnya menginginkan hal itu.

 

Carline menghela nafas kemudian bangun, dan membersihkan dirinya. Setelah itu dia turun dan memasak untuk sarapan mereka. Selama tinggal di sana, dia tidak pernah melakukan apapun selain membantu Romeo memasukkan potongan-potongan kayu kemarin. Kali ini dia akan memasak untuk pria itu. Ayahnya adalah seorang koki yang hebat, dan dia mendapatkan keahlian memasak dari ayahnya. Masakkan yang di buatnya cukup lezat meski tidak selezat masakan ayahnya, jadi dia tidak akan malu  jika Romeo mencicipi masakannya untuk pertama kalinya.

 

Carline tidak pernah memasak untuk seorang pria. Ini adalah pertama kalinya, jadi dia sedikit gugup. Dia tidak tahu makanan apa yang di sukai pria itu, dan tidak mungkin bertanya padanya. Jadi Carline memasak bahan makanan yang telah tersedia.

Setelah beberapa menit masakannya selesai, dan dia menghidangkan makanan itu di meja. Romeo turun dari kamarnya setelah dia selesai menghidangkan makanan itu. Pria itu mengerutkan dahinya melihat makanan di atas meja.

 

“Kau memasak ?” tanyanya lalu duduk di kursi dan mengambil makanan.

Carline mengikutinya duduk dan mengambil makanan.”Ya, selama tinggal di sini aku tidak pernah melakukan apapun, jadi aku berpikir untuk memasak. Semoga kau menyukai masakanku.”

Pria itu mengakat bahunya kemudian mencicipi masakannya. Carline menunggu reaksi pria itu, namun Romeo tidak bereaksi sedikitpun. Dia hanya memakan makanan itu tanpa berbicara.

“Bagaimana ?” tanya Carline karena Romeo tidak mengatakan apapun.

“Makanan ini jauh lebih baik dari masakan buatanku,” sahutnya, membuat Carline merasa lega.

 

Selama ini memang Romeo lah yang memasak untuk mereka. Carline menyukai masakan Romeo, meski selalu ada kekurangan dalam masakannya. Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Mereka menyantap makanan itu dalam diam.

 

***

 

“Aku akan mengajakmu kesuatu tempat,” ujar Romeo saat Carline telah selesai membereskan piring kotor.

Carline bingung, namun dia mengangguk menyetujuinya. Mereka keluar dari rumah, dan berjalan melewati rimbunnya pepohonan. Dalam perjalanan Carline hanya bisa melihat pepohonan, dan beberapa macam hewan. Dia merasa khawatir akan menemui hewan buas, namun kekhawatirannya tidak terbukti, setelah perjalanannya cukup jauh mereka tidak menemukan satupun hewan buas. Tapi dia tetap saja waspada ketika melangkah.

 

“Sebentar lagi kita akan sampai,” ujar Romeo setelah mereka berjalan berjam-jam.

Selama perjalanan mereka hanya beristirahat beberapa kali, dan mereka beristirahat hanya untuk menghilangkan lelah. Setelah lelah mereka menghilang, mereka meranjutkan perjalanan.

“Berapa lama lagi ?” tanya Carline.

Dia benar-benar lelah terus berjalan seperti ini. Dia ingin beristirahat lebih lama, tapi mereka tidak bisa beristirahat lebih lama karena sewaktu-waktu hewan buas bisa datang dan memangsa mereka.

“Sebentar lagi,” sahut Romeo tanpa menoleh pada Carline yang berjalan di sampingnya. Dia bersusah payah mengimbangi langkah pria itu.

Setelah beberapa menit mereka akhirnya tiba di sebuah tempat. Atau lebih tepatnya rumah, rumah yang ukurannya sedikit lebih kecil dari rumah milik Romeo. Tapi bukan berarti rumah itu kecil, rumah itu sangat besar, dan memiliki taman yang tertata dengan rapi.

 

“Rumah siapa ini Romeo ?” tanya Carline kebingungan.

“Kau akan tahu sebentar lagi,” sahut pria itu kemudian membuka pintu.

Seorang gadis kecil kemudian berlari mendekati mereka. Gadis kecil itu tersenyum ceria lalu memeluk Romeo yang tampaknya tidak senang dengan apa yang di lakukan gadis kecil itu.

“Julia hentikan,” geram Romeo.

Gadis kecil itu melepaskan pelukkannya pada Romeo kemudian menatapnya jengkel. “Panggil aku Juliet, aku tidak menyukai nama itu.”

Romeo memutar matanya. “Itu namamu bukan Juliet. Jangan bersikap menjengkelkan lagi.” Romeo membentak gadis kecil itu lalu menoleh pada Carline yang hanya menyaksikan pembicaraan mereka. “Carline kenalkan ini Julia, gadis kecil yang paling menjengkelkan di dunia ini.”

 

Carline tersenyum pada gadis kecil itu, namun gadis itu membalasnya dengan tatapan tidak bersahabat. Gadis kecil itu tampaknya tidak menyukainya, dan Carline tidak pernah menghadapi anak-anak selain Evellen Wayne, jadi dia tidak tahu cara menghadapi gadis kecil yang kini masih menempel pada Romeo. Evellen adalah gadis kecil yang bersahabat jadi dia tidak perlu melakukan apapun untuk mendekatinya, tapi gadis kecil ini tampaknya tidak seperti Evellen.

“Hai Jul..”

“Ayo masuk yang lain sudah menunggu,” ujar gadis itu pada Romeo, dan menarik tangannya.

“Jangan memikirkannya, dia adalah gadis yang sanga menjengkelkan. Ayo masuklah,” Romeo menggenggam tangannya, dan mengajaknya masuk kedalam. Carline hanya mengangguk dan mengikuti Romeo masuk kedalam rumah itu.

 

***

 

Rumah itu ternyata adalah tempat anak-anak yang di buang di pingir hutan oleh orang tua mereka. Anak-anak itu di rawat oleh sepasang suami istri paruh baya, dan seorang pria yang berusia dua tahun lebih muda darinya. Tempat itu awalnya sangat kecil, namun setelah Romeo menemukan mereka dan mengetahui tentang anak-anak itu, Romeo membuat rumah itu menjadi tiga puluh kali lebih besar dari ukuran yang sebenarnya. Pria itu memberikan uang pada sepasang suami istri itu untuk membiayai anak-anak yang kini berjumblah sembilan orang. Anak-anak itu berusia sekitar lima sampai lima belas tahun.

 

Sepasang suami istri itu sudah cukup lama tinggal di sana, dan Mason, anak angkat pertama mereka yang kini berusia sembilan belas tahun. Sekarang Mason membantu mereka mengurus anak-anak itu.

“Kenapa kalian bisa tinggal di sini ?” tanya Carline pada nyonya Jackson yang tengah memasak makan siang untuk anak-anak.

“Karena orang tua Josh tidak merestui hubungan kami, dan mencoba memisahkan kami,” sahutnya.

“Kenapa mereka ingin memisahkan kalian ?” Carline benar-benar ingin tahu kenapa mereka memilih hutan sebagai tempat tinggal mereka.

“Karena aku tidak bisa memberikan mereka cucu. Mereka sangat menginginkan cucu sebagai pewaris, tapi aku tidak bisa memberikan mereka cucu, dan lalu mereka memaksa Josh meninggalkanku. Josh tidak mau meninggalkanku hingga akhirnya kami harus hidup berpindah-pindah karena tempat yang kami tinggali tidak pernah aman karena mereka. Hingga kami menemukan tempat ini, tempat yang tidak akan pernah bisa mereka temukan,” jelas nyonya Jackson sedih yang membuat Carline menyesal bertanya.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat semua itu,” gumamnya bersungguh-sungguh.

 

Seharusnya Carline mengabaikan rasa ingin tahunya, sehingga tidak harus membuat nyonya Jackson bersedih karena mengingat kejadian itu. Carline merasa menjadi orang yang kejam karena telah membuat nyonya Jackson sedih. Apa yang akan di katakan Romeo jika tahu dirinya telah membuat wanita ini bersedih ?

“Semua itu sudah berlalu. Sekarang kami telah bahagia bersama anak-anak kami. Lalu kau ? Bagaimana kau bertemu dengan Romeo ?” ujarnya terdengar seperti tengah mencoba meyakinkan Carline kalau dia baik-baik saja dengan cerita itu.

Carline tersenyum kemudian menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Romeo hingga akhirnya tinggal bersamanya. nyonya Jackson mendengarkan cerita Carline dan tersenyum lembut mendengar setiap cerita yang mengalir dari bibir Carline.

 

“Romeo tidak pernah mengajak siapapun tinggal di rumahnya. Julia saja selalu merengek padanya agar di ijinkan tinggal di sana, tapi Romeo menolak,” terang nyonya Jackson.

Carline tersenyum ketika nyonya Jackson menyebut nama gadis kecil yang dari tadi terus menempel pada Romeo. Pria itu tidak senang dengan sikap gadis kecil yang baru berusia delapan tahun itu. Tapi Romeo tidak bisa melakukan sesuatu untuk menjauhkan gadis itu dari dirinya.

“Julia tampaknya sangat menyukai Romeo,” ujar Carline yang membuat nyonya Jackson tersenyum.

“Dia tergila-gila pada Romeo. Saat Mason membawakan Ifnie novel yang berjudul Romeo dan Juliet, dia ingin menganti namanya menjadi Juliet agar Romeo bisa jatuh cinta padanya seperti yang ada di dalam novel.”

Carline tertawa mendengar jawaban nyonya Jackson. Romeo memang memiliki pesona yang luar biasa, bahkan anak berusia delapan tahun terpesona padanya. Carline tidak bisa berhenti tertawa setelah medegar cerita nyonya Jackson. Sudah begitu lama dia tidak tertawa lepas seperti ini. Setelah kejadian itu Carline memang tidak pernah tertawa seperti saat ini. Ini adalah pertama kalinya setelah tujuh tahun.

 

“Apa yang kalian tertawakan ?” ujar Romeo yang tiba-tiba muncul di dapur.

Carline dan nyonya Jackson menoleh pada Romeo yang berdiri ambang pintu. Gadis kecil itu, Julia masih menempel padanya. Mereka berhenti tertawa, dan nyonya Jackson kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Kami hanya sedang membicarakan anak-anak,” sahut Carline. Tentu saja dia tidak akan memberitahunya kalau mereka membicarakannya juga.

“Kalian harus menginap malam ini. Aku akan meminta Ifnie menyiapkan kamar untuk kalian,” nyonya Jackson meletakan pisau di atas meja kemudian keluar dari dapur dan mencari anak asuhnya.

“Dia tidak akan bisa di bantah,” gumam Romeo.

“Hanya tinggal satu kamar yang belum terisi. Kau bisa tidur bersamaku, Romeo,” ujar Julia bersemangat.

Romeo menatap gadis kecil itu jengkel. Dia memutar matanya kemudian melepaskan genggaman tangan gadis kecil itu. Dia melangkah masuk kedalam, dan memeluk Carline yang membuat Carline tertegun.

 

“Aku akan tidur bersamanya. Dia tidak suka tidur tanpa aku,” ujar Romeo pada gadis kecil itu, kemudian berbisik pada Carline. “Bantu aku agar dia menjauh dariku.”

Carline tidak tahu apa yang akan di lakukannya. Dia mengunakan otaknya untuk berpikir, dan menemukan sebuah ide agar Julia tidak lagi menempel pada Romeo. Tapi dia tidak yakin akan mengunakan ide itu. Ide itu benar-benar memalukan, dan Romeo mungkin akan mencemoohnya karena ide gilanya itu.

“Ya, aku orang baru di sini jadi tidak berani tidur sendiri, dan aku hanya ingin Romeo yang menemaniku tidur,” Carline menghela nafas. Akhirnya dia menemukan kata-kata lain selain ide memalukan itu.

Sedangkan gadis kecil itu hanya menatapnya tidak senang. Dia menghentakkan kakinya kemudian meninggalkan Romeo dan Carline di dapur itu.

 

***

 

Carline tadinya akan tidur bersama Ifnie, tapi karena gadis kecil itu, Julia terus menguntit Romeo, dia akhinya tidur bersama pria itu. Mereka tidur di ranjang yang sama karena tidak ada sofa di sana. Carline tidak mungkin tidur di lantai yang dingin, begitu juga dengan Romeo.

 

Romeo berguling lebih dekat pada Carline kemudian dengan tiba-tiba pria itu memeluknya.

“Apa yang kau lakukan ?” bentak Carline.

“Memelukmu,” sahut Romeo tanpa merasa bersalah.

Carline mendengus kemudian berbalik menghadapnya yang membuat bibirnya menyentuh bibir pria itu. Carline tertegun dengan apa yang terjadi lalu sebisa mungkin segera menjauh dari Romeo. Pria itu mengeratkan pelukannya.

“Kau pasti sangat ingin menciumku kan, Carline ?” bisik Romeo di teleinganya, yang membuat tubuhnya meremang.

“Tidak,” bantahnya cepat.

 

Dia tidak berpikir jarak antara mereka begitu dekat, jadi dia berbalik tanpa berpikir. Oh ya ampun semua ini benar-benar memalukan. Carline menjadi begitu ceroboh di dekat pria itu, padahal sebelumnya dia selalu berhati-hati dalam melakukan segala hal. Apa sebenarnya yang ada pada Romeo hingga membuatnya menjadi seperti ini ?

 

Romeo mencium leher Carline yang membuatnya mengeliat dalam dekapan pria itu. Dia juga menekan ciuman tepat di belakang telinga Carline.

“Romeo, apa yang sedang kau lakukan ?” suara Carline bergetar.

“Mencoba membuatmu merasakan apa yang tengahku rasakan saat terlalu dekat denganmu,” bisik Romeo namun tidak menghentikan perbuatannya. Dia terus menekan ciuman di daerah sensitive Carline.

Romeo menarik Carline lebih dekat yang membuatnya bisa merasakan gairah pria itu pada pahanya. Dia tidak mengerti segala hal tentang pria meski selama ini dia hidup bersama dua pria. Namun dia cukup mengerti apa yang terjadi pada Romeo saat ini.

 

 

Romeo bergairah terhadap dirinya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 28 Feb 2017 in 18+, Novel, True Love Stories

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: