Posted in 18+, Novel, True Love Stories

Prince of Darkness Bab 4

 

 

 

 

 

Romeo dan Carline kembali kerumah setelah mereka selesai sarapan, namun saat tengah dalam perjalanan hujan kembali turun. Mereka berteduh di sebua pondok kecil yang mereka temui. Pondok itu berantakan karena tidak ada orang yang menghuninya. Carline berpikir tempat itu di buat sebagai tempat peristirahatan orang yang membuatnya.

 

“Jadi Mason lah yang selalu keluar dari hutan untuk membeli keperluan kalian ?” tanya Carline, kemudian duduk dedaunan yang di tumpuk sebagai alas untuk duduk.

Romeo mengukitinya duduk di sana. “Ya, dan kadang dia pergi bersama tuan Jackson.”

Carline mengangguk lalu memeluk dirinya sendiri, sementara itu hujan di luar semakin deras. Seakan mengerti, Romeo bergeser lebih dekat dengannya. Pria itu melingkarkan tanganya di tubuh Carline yang membuatnya menjadi lebih hangat. Dan dia juga merasa nyaman seperti ini, bersama Romeo.

 

“Merasa lebih baik ?” tanya Romeo.

“Ya, terima kasih,” gumamnya pelan.

Carline tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada bidang Romeo. Ini adalah hal yang paling berani yang di lakukannya pada seorang pria. Pada Daniel yang adalah sahabatnyapun Carline tidak pernah sedekat ini. Dia selalu bisa mengontrol dirinya di dekat para pria, tapi tidak ketika dia berada dekat dengan Romeo.

 

Apa sebenarnya yang terjadi pada diriku ?’ Entah sudah berapa kali Carline menayakan hal itu pada dirinya sendiri. Dia benar-benar bingung dengan yang terjadi pada dirinya sendiri.

‘Apakah aku mencintai pria ini ?’ Carline sangat terkejut dengan pemikirannya sendiri. Oh ya ampun bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu ? Dan dari mana asalnya pemikiran itu ? Kenapa dia sampai bisa berpikir seperti itu ? Tidak mungkin dia mencintai pria ini.

 

“Bagaimana bisa kau bertemu dengan mereka ?” tanyanya.

“Saat aku meninggalkan rumah, aku menngalami kecelakaan lalu tuan Jackson menolongku dan membawaku ketempat mereka. Aku merasa nyaman tinggal di sini kemudian aku membuat rumah yang sedikit jauh dari tempat mereka,” jelas Romeo dengan suara serak.

Carline mengakat kepalannya agar bisa menatap pria itu yang kini tengah menatapnya dengan tatapan berkabut. Romeo menyentuh dagu Carline kemudian mencium bibirnya dengan ciuman kasar, namun tidak menuntut. Entah mengapa Carline menikmati ciuman pria itu. Dia juga tidak merasakan ketakutan seperti waktu itu. Carline bahkan membalas ciuman itu.

 

Romeo menggigit bibir bawah Carline kemudian memasukkan lidahnya kedalam mulutnya, dan mengajak lidah Carline bermain-main. Carline merasa seluruh tubuhnya memanas karena ciuman itu. Tanpa di sadarinya dia mencengram kaus yang Romeo kenakan.

Pria itu melepaskan ciumannya dan menatap Carline dengan mata biru indahnya yang berkabut.

“Aku menginginkanmu Carline, dan kumohon jangan menghentikanku untuk kali ini. Aku berjanji akan membuatmu terbebas dari trauma itu,” ujarnya serak.

Carline mengangguk memberikan ijin pada Romeo untuk menyentuhnya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranya sehingga menyetujui permohonan itu. Tapi Carline yakin Romeo bisa membebaskannya dari trauma itu.

 

Setelah mendapatkan persetujuan Carline, Romeo membaringkannya di atas dedaunan, kemudian menindihnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Romeo mencium seluruh wajahnya dan berlama-lama di bibirnya lalu setelah itu dia mencium lehernya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Carline mengerang atas apa yang di lakukan pria itu pada tubuhnya. Romeo lalu melepas seluruh kain yang menempel di tubuh Carline. Dia seharusnya malu bertelanjang seperti itu di hadapan seorang pria, namun entah kenapa dia tidak merasa malu bertelanjang di hadapan Romeo.

 

Romeo menyentuh payudaranya kemudian meremasnya lembut, yang membuat Carline mengerang nikmat. Dia ingin memejamkan mata, tapi dia tahu bayangan itu akan muncul kembali, jadi dia memaksakan matanya terbuka dan menatap Romeo. Hujan di luar sana semakin deras, tapi Carline tidak merasa kedinginan dengan keadaan seperti itu.

“Jangan pernah menutup matamu, dan tetaplah menatapku,” erang Romeo kemudian memasukan salah satu puting itu kedalam mulutnya dan menghisapnya kuat, seperti bayi yang sedang kehausan.

“Romeo,” Carline mengerang menyebut nama Romeo.

 

Pria itu memainkan kedua putingnya bergantian yang membuatnya merasakan kenikmatan yang tidak pernah di rasakannya. Dia benar-benar ingin menutup matanya, tapi atas perintah Romeo dia memaksakan matanya terbuka. Setelah puas bermain-main dengan kedua payudaranya, Romeo berdiri kemudian melepas semua pakaiannya sehingga Carline bisa melihat milik Romeo yang sudah mengeras. Carline tiba-tiba merasa malu melihat keindahan di hadapannya itu. Carline buru-buru menoleh ketempat lain.

 

Romeo kembali menindihnya kemudian memaksanya menatap dirinya. “Kau tidak perlu malu untuk semua ini,” gumamnya, dan kembali mencium bibirnya.

Romeo mengusap pahanya kemudian menyentuh miliknya yang sudah sangat basah karena perbuatannya. Romeo tersenyum menemukan dirinya yang sudah sangat basah.

“Aku ingin memasukimu sekarang,” suara Romeo bergetar karena gairahnya. Romeo kemudian menyatukan tubuh mereka dengan sangat hati-hati. “Kau begitu sempit Carline,” erangnya, dan setelah bersusah payah dia berhasil menyatukan tubuh mereka.

 

Mereka terengah bersama. Romeo kembali mencium seluruh wajahnya kemudian mengerakan pinggulnya dengan hati-hati. Awalnya Caline merasa tidak nyaman, tapi rasa itu segera berganti dengan rasa nikmat. Caline meremas bahu Romeo kemudian ikut bergerak.

‘Oh ya ampun aku tidak tahu semua ini bisa terasa begitu nikmat,’ bisiknya dalam hati. Bayangan itu bahkan tidak muncul.

Carline mengikuti gerakan Romeo dan tak butuh waktu lama bagi mereka mencapai puncak kenikmatan itu.

 

***

 

Semenjak hari itu hubungan mereka semakin dekat, dan Romeo lebih banyak tersenyum semejak kejadian itu. Carline benar-benar tidak menyangka bercinta memiliki pengaruh yang begitu besar pada seorang Romeo Evenston. Dan begitu juga dengan dirinya. Bayangan akan kejadian itu tidak pernah muncul lagi setelah kejadian itu.

Apakah teraumanya sudah benar-benar sembuh ?

 

Carline menghela nafas kemudian bangun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi tanpa mempedulikan ketelanjangannya. Carline berdiri di depan cermin dan melihat tanda yang Romeo buat di tubuhnya semalam. Semenjak kejadian itu mereka selalu melakukannya, yang membuat Carline bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa dia mau melakukan semua itu dengan Romeo ? Kenapa dia tidak pernah bisa menolak saat Romeo menginginkannya ? Dan kenapa dia mau melakukan semua itu tanpa adanya status di antara mereka ? Romeo tidak pernah menyatakan mereka sebagai teman ataupun kekasih…

Kekasih ? Kenapa dia bisa berpikir seperti itu ? Carline menggeleng kemudian menyalakan shower, dan membersihkan tubuhnya.

 

Setelah seluruh tubuhnya bersih dia melilitkan handuk di tubuhnya kemudian keluar dari kamar mandi, dan menemukan Romeo sudah ada di dalam kamar dengan membawa pakaiannya. Carline tidur di kamar Romeo beberapa hari terakhir ini. Kamar itu sangat besar, namun sedikit gelap saat pagi ataupun siang hari, karena hanya sedikit cahaya yang bisa masuk kedalam. Kamar itu mencerminkan seorang Romeo Evenston.

“Aku membawakan pakaianmu kemari,” ujar pria itu.

“Seharusnya kau tidak membawanya kemari. Aku bisa pergi mengambilnya sendiri,” sahut Carline lalu mengambil pakaiannya di tangan Romeo.

“Aku lebih suka melihatmu tidak mengenakan apa-apa,” gumam Romeo kemudian menarik handuk yang Carline kenakan hingga dia telanjang di hadapan pria itu.

“Kau gila Romeo,” bentak Carline, lalu kembali kedalam kamar mandi.

 

Dia mendengar Romeo tertawa terbahak di belakangnya. Carline tidak pernah mendengar atau melihat Romeo tertawa lepas seperti itu sebelumnya. Romeo memang banyak berubah akhir-akhir ini.

Setelah selesai mengenakan pakaiannya Carline keluar dari kamar mandi. Romeo masih berdiri di tempatnya, dan wajahnya tampak sangat aneh. Dia melangkah mendekati Romeo dan berdiri tepat di hadapannya.

 

Pria itu menyentuh pipinya kemudian menunduk dan mencium bibirnya. Ciuman Romeo tidak lembut, namun juga tidak kasar. Romeo tampak ingin menyampaikan sesuatu dalam ciuman itu, tapi Carline benar-benar tidak mengerti apa maksud dari semua ini. Dia terlalu bodoh untuk mengerti apa yang terjadi.

 

Romeo melepaskan ciumannya kemudian menatap mata Carline. “Seperti janjiku, aku akan mengantarmu pulang.”

Carline terbelalak mendengar ucapan Romeo. Dia tidak pernah memikirkan untuk pulang kerumahnya selama berada di sana, meski dia begitu sangat merindukan ayah dan adiknya. Dan kenapa Romeo ingin mengantarnya di saat mereka sudah sangat dekat ?

“Romeo, aku tidak ingin pulang. Aku ingin tetap di sini bersamamu,” gumamnya.

Romeo mengusap pipinya. “Kenapa Carline, kenapa kau tidak ingin pulang, dan ingin tetap tinggal di sini bersamaku ?”

“Aku tidak mau berpisah denganmu,” akunya.

“Kenapa kau tidak mau berpisah denganku ? Apa kau menyukaiku…tidak, apa kau mencintaiku Carline ?”

 

Carline tercengang mendengar pertanyaan Romeo. Apakah dia mencintai Romeo ? Bahkan dia tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu. Dia tidak pernah jatuh cinta jadi dia tidak mengerti apa yang sebenarnya di rasakannya. Tapi Claire pernah mengatakan ketika seseorang jatuh cinta maka orang itu ingin selalu bersama dengan orang itu. Jadi apakah yang di rasakannya pada Romeo adalah cinta ?

“Ya, aku mencintaimu,” sahutnya ketika menemukan jawaban untuk pertanyaannya.

Romeo tersenyum lalu kembali mencium bibirnya. Carline memejamkan matanya kemudian membalas ciuman itu. Bayangan itu tidak lagi muncul dalam pikirannya, kini hanya ada dirinya dan Romeo di dalam pikirannya.

 

***

 

Meski menolak untuk kembali kerumahnya, Romeo tetap mengantarnya pulang sekaligus bertemu dengan ayahnya. Carline benar-benar kesal padanya, tapi Romeo berjanji akan membawanya kembali kesana yang membuatnya merasa tenang.

“Setelah menemui ayah dan adikku, aku akan pergi kerumah Alena Wayne. Aku sudah berjanji padanya untuk menyelesaikan lukisan putranya setelah kembali,” gumam Carline ketika Romeo masuk kedalam tenda.

“Alena Wayne ?” Romeo mengerutkan dahinya, tampak bingung saat menyebutkan nama itu.

“Ya, dia adalah perempuan yang luar biasa. Nanti akanku kenalkan kau dengannya. Seperti diriku, kau juga pasti akan langsung menyukainya,” sahutnya.

 

Romeo hanya mengangkat bahunya kemudian berbaring di samping Carline. Pria itu lalu menariknya kedalam dekapan hangatnya. Oh ya Tuhan, dia benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi pada dirinya. Sebelumnya dia berpikir akan sendiri selamanya, tapi ternyata apa yang di pikirkannya salah. Kecelakaan itu membawanya pada cintanya. Carline menengelamkan wajahnya di dada bidang Romeo.

“Kau kedinginan hmm ?” tanya Romeo.

Carline hanya mengangguk. Mereka berada jauh di kedalaman hutan, dan tidak ada penghangat seperti di rumah Romeo jadi tentu saja Carline merasa kedinginan. Tapi dia memiliki Romeo yang akan membuatnya hangat sekarang.

 

“Aku mencintaimu Romeo,“ gumam Carline yang di balas Romeo dengan mengeratkan pelukannya dan mencium dahinya. Pria itu memang tidak pernah mengatakan mencintainya, tapi Carline tahu Romeo mencintainya dari caranya memperlakukannya. Dia tidak membutuhkan kata-kata ketika Romeo memperlakukannya dengan penuh cinta.

 

Besok mereka akan kembali melanjutkan perjalanan jadi Carline segera terlelap. Apa yang di katakan Romeo tentang perjalanan keluar dari hutan memang benar. Mereka telah berjalan cukup jauh hari ini, dan perjalanan itu membuatnya kelelahan yang membuat Carline bisa segera tidur.

 

***

 

Romeo dan Carline melanjutkan perjalanan di pagi hari, dan berhasil keluar dari dalam hutan saat malam hari. Mereka mencari penginapan, dan bermalam di sana lalu paginya mereka pergi dengan mengunakan bus.

“Apa kau yakin ingin bertemu ayahku ?” Carline benar-benar tidak menyangka Romeo mau bertemu dengan ayahnya.

 

Oh ya ampun, apa yang akan di katakannya pada ayahnya setelah berbulan-bulang menghilang, dan saat kembali dia membawa seorang pria. Carline tidak pernah membawa seorang pria untuk di kenalkan pada ayahnya, dan sekarang tiba-tiba saja dia pulang bersama seorang pria. Apa yang akan di katakan ayahnya tentang Romeo ? Apakah ayahnya akan menyukainya ? Bagaimana jika ayahnya tidak menyukai Romeo ? Apa yang akan di lakukannya jika ayahnya tidak menyukai Romeo ?

“Apa yang kau pikirkan ?” tanya Romeo, menyadarkannya dari lamunannya.

“Hmm… tidak, aku hanya merasa gugup untuk bertemu ayah setelah berbulan-bulan menghilang,” sahutnya berbohong.

Romeo menatapnya curiga, tapi Carline mengabaikan tatapan itu. Dia menatap keluar jendela untuk menghindari tatapan prianya itu.

 

Setelah beberapa jam bus berhenti untuk beristirahat. Romeo dan Carline membeli makanan di sebuah café. Romeo memesan banyak makanan untuk mereka yang membuat Carline mengeluh karena tidak mungkin bagi mereka untuk menghabiskan makanan itu.

“Makan saja, jangan mengeluh,” gumam Romeo.

“Baiklah, kau habiskan sendiri makanan ini,” geram Carline.

Romeo hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Pria itu memakan makannya dengan tenang, membuat Carline semakin kesal. Tapi setelah mereka selesai makan Romeo meminta pelayan untuk membungkus makanan itu, dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.

 

Carline masih lelah karena perjalanan keluar dari hutan kemarin, dan dia merasa benar-benar mengantuk. Romeo tampaknya menyadari itu, sehingga dia menarik Carline kedalam pelukannya.

“Tidurlah,” gumam Romeo.

Carline tersenyum dengan apa yang Romeo lakukan. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan semanis ini dari seorang pria. Tapi semua itu karena dia tidak pernah mengijinkan seorang pria terlalu dekat dengan dirinya. Romeo adalah pria pertama yang di ijinkannya sedekat ini dengan dirinya.

 

Romeo menepuk bahunya dengan lembut sehingga dia bisa langsung terlelap. Ya Tuhan, dia benar-benar mencintai pria ini.

 

***

 

Romeo mengeratkan pelukannya pada gadis yang tengah terlelap dalam pelukannya itu. Carline tidak seharusnya muncul dalam hidupnya dan membuatnya menjadi tidak berdaya seperti ini. Romeo sudah berkali-kali mencoba menjauh darinya, tapi dia selalu saja kembali padanya meski sekuat apapun dia berusaha menjauh.

 

Dan gadis itu membuatnya kembali ketempat yang telah di tinggalkannya selama bertahun-tahun. Romeo tidak tahu apakah yang di lakukannya ini benar atau salah ? Dia hanya tidak ingin jauh dari gadis ini. Dia sudah tahu ini akan terjadi sebelum dia memutuskan untuk memilikinya.

 

Carline bergerak dalam dekapannya kemudian mengangkat wajahnya yang membuat Romeo bisa melihat wajah manisnya. Dia menyentuh pipi gadisnya itu dan mengusapnya.

Dia tersenyum pada Romeo. “Sebentar lagi kita sampai.”

Romeo mengangguk lalu menyentuh bibirnya. Dia benar-benar menyukai rasa manis dari bibir itu, dan tidak ingin berhenti merasakannya. Dalam hidupnya, Romeo tidak pernah bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya tidak berhenti menginginkannya seperti Carline.

 

“Ayo kita sudah sampai,” ujar Carline.

Romeo mengangguk kemudian turun dari bus bersama Carline. Dia kembali melihat kegugupan Carline di wajah manisnya. Dia tahu apa yang membuat gadisnya itu tampak gugup. Carline takut karena berpikir ayahnya tidak akan menyukai dirinya. Romeo bisa mengatasi semua itu, jadi dia tidak khawatir dengan apa yang di takutkan Carline.

“Semua akan baik-baik saja,” Romeo meyakinkannya.

Carline menatapnya dan memaksakan senyum di bibirnya. Romeo meringis melihat senyum terpaksa Carline. Dia menarik gadisnya itu kemudian mencium bibirnya tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Carline tampak sangat terkejut dengan apa yang di lakukannya.

“Jangan memaksakan diri untuk tersenyum seperti itu,” gumam Romeo kemudian menarik tangan gadisnya menjauh dari tempat itu. Romeo menghentikan sebuah taxi, kemudian Carline menyebutkan alamat rumahnya.

 

Semakin dekat mereka ketempat tujuan, Carline tampak semakin gugup. Romeo meremas tangannya dengan lembut untuk meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja, tapi semua itu tidak membuat kegugupan Carline menghilang.

 

***

 

Carline menemukan Daniel tengah membantu ayahnya di rumah makan mereka. Daniel dan ayahnya tampak sangat terkejut dengan kehadirannya. Benar saja mereka berpikir Carline tewas dalam kecelakaan itu. Dia menjelaskan semua yang terjadi, dan memperkenalkan Romeo sebagai kekasihnya.

“Akhirnya kau menemukan pria yang bisa membuatmu luluh,” goda ayahnya yang membuat wajah Carline memerah. “Istirahatlah, kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh. Tapi ingat kalian tidak boleh tidur bersama, untuk sementara Romeo bisa menempati kamar Ray. Sayang tujukkan di mana kamar Ray berada pada kekasihmu.”

Wajah Carline semakin memerah. “Baik ayah,” gumamnya kemudian mengajak Romeo kekamar Ray yang saat ini tengah menghadiri acara perpisahan di sekolahnya. Carline sangat merindukan adiknya itu. “Ray mungkin pulang besok, jadi kau bisa mengunakan kamarnya tanpa gangguannya.”

“Aku tidak suka tidur terpisah denganmu,” keluh Romeo yang membuat Carline tersenyum.

“Begitu juga denganku. Tapi Romeo, ayah akan membunuh kita berdua jika kita tidur bersama,” sahut Carline.

 

Romeo meringis lalu menarik Carline lebih dekat dengannya kemudian mencium bibirnya. Carline melingkarkan tangannya di leher Romeo dan membalas ciuman itu. Carline merapatkan tubuhnya di tubuh kekasihnya dan memperdalam ciuman  mereka.

Namun suara seseorang membuka pintu sontak membuat Carline menjauh dari Romeo. Mereka menolah ke arah sumber suara, dan melihat Daniel berdiri di depan pintu dengan tatapan terluka. Carline merasa sangat bersalah melihat tatapan sahabatnya itu.

 

“Hmm maaf menganggu kalian,” Daniel berjalan mendekati mereka. “Ayahmu memintaku mengantarkan ini,” ujarnya kemudian menyerahkan selimut baru pada Carline, lalu meninggalkan mereka di sana.

“Sepertinya dia marah,” gumam Romeo.

Carline menoleh padanya kemudian menggeleng. “Dia tidak marah,” dia lalu menyerahkan selimut itu pada Romeo. “Beristirahatlah, kau pasti kelelahan. Sementara itu aku akan membantu ayah.”

Romeo menatapnya curiga. “Kau tidak ingin menemui pria itukan ?”

Carline sontak tertawa mendengar kecurigaan dalam nada suara kekasihnya itu. Dia menggeleng lalu berjinjik kemudian menekan ciuman di pipinya.

“Tentu saja tidak, sekarang beristirahatlah,” Carline mendorongnya masuk kedalam kamar lalu setelah itu dia meninggalkan rumahnya untuk berbicara dengan ayahnya.

 

Masih banyak yang ingin di bicarakan dengan ayahnya, juga Daniel. Dia harus memperbaiki segalanya dengan sahabatnya itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s