Posted in 18+, Novel

Agreement of Heart Bab 1

 

 

 

 

 

Sierra tidak tahu harus melakukan apa karena semua pekerjaan di lakukan oleh para pelayan, jadi dia memilih untuk berjalan-jalan di taman untuk mengisi harinya yang terasa membosankan. Selama seminggu ini dia hanya diam di dalam kamar sambil membaca buku, tapi entah mengapa hari ini buku-buku itu menjadi membosankan. Sierra membutuhkan teman berbicara, tapi tidak ada seorangpun yang bisa di ajaknya berbicara di rumah itu. Semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka, dan Kyle pergi kekantor sebelum dia bangun, tapi meski Kyle berada di sanapun tidak akan pernah ada percakapan lebih yang akan terjadi. Kyle hanya berbicara hal yang penting dengannya. Pria itu juga tidak memberikan Sierra kesempatan untuk mengenal lebih dirinya. Sierra hanya tahu sedikit tentang Kyle, itupun dari cerita ayahnya.

 

Ayahnya sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga ini jadi dia mengenal Kyle dengan baik. Tapi ayahnya tidak menceritakan semua tentang Kyle. Mungkin Kyle melarang ayahnya untuk bercerita, dan Sierra juga tidak harus tahu semua tentangnya. Tidak selamanya dia akan menjadi istri Kyle, jadi untuk apa dia mengetahui semua tentangnya.

 

“Apakah kau Sierra Greener ?” tanya suara lembut dari seorang wanita di belakang Sierra.

Sierra berbalik dan melihat seorang wanita paruh baya berjalan mendekatinya. Dia tidak pernah melihat wanita itu selama tinggal di sana, dan dia yakin wanita itu bukanlah ibu Kyle. Ayahnya mengatakan orang tua Kyle meninggal dalam kecelakaan pesawat saat Kyle masih berusia delapan tahun.

“Ya,” sahutnya.

Wanita itu tersenyum kemudian duduk di sebuah bangku yang ada di sana. “Oh akhirnya aku bertemu denganmu,” wanita itu menggenggam tangannya kemudian mengisyaratkannya agar dia duduk di sampingnya. “Aku, Marie Stons, pengasuh tuan Greener saat masih kecil. Kau bisa memanggilku ibu seperti suamimu memanggilku.”

“Ya, ibu,” sahutnya lagi.

Marie tersenyum kemudian mengusap punggung tangannya. “Aku tahu semua ini akan terjadi.”

Ucapan wanita itu membuat Sierra bingung. Apa yang di maksud wanita ini ‘mengetahui semua ini akan terjadi ?’ Apa yang di ketahuinya yang akan terjadi ? Pernikahannya dan Kyle ? Tapi Kyle pasti sudah memberitahunya tentang itu bukan ? Lalu jika bukan tentang pernikahannya dan Kyle, tentang apa yang di maksudnya ? Semua ini benar-benar membingunkannya.

 

“Marie, kau sudah kembali,” ujar suara berat yang sudah akrab di telinga Sierra.

Mereka menoleh dan melihat Kyle tengah berdiri di teras. Marie dan Sierra berdiri kemudian wanita itu mengajaknya berjalan menuju suaminya.

“Oh sayang, aku sangat merindukanmu,” Marie melepaskan genggaman tangannya kemudian memeluk Kyle. “Maaf, ibu tidak bisa hadir dalam pernikahan kalian. Helena tidak bisa mengurus anak-anaknya seorang diri, jadi ibu harus menemaninya.”

“Tidak apa-apa ibu, aku bisa mengerti,” sahut Kyle kemudian menatapnya sekilas. “Pelayan memberitahukanku kau telah kembali dan berada di sini jadi aku datang kesini untuk menemuimu. Aku pulang untuk mengambil berkas yang tertinggal jadi kita bicara lagi nanti,” Kyle lalu berbalik, dan meninggalkan mereka di sana tanpa mengucapkan apapun pada Sierra.

Marie menoleh padanya. “Dia memang selalu seperti itu. Ayo masuk.”

Sierra mengangguk kemudian mengikutinya masuk. Sierra masih bingung dengan yang di katakan Marie tadi, tapi sepertinya ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya. Marie baru tiba, dan sungguh tidak sopan jika dia langsung bertanya hal yang ingin di ketahuinya.

 

***

 

Setelah selesai makan malam Sierra langsung masuk kedalam kamar. Dia mengambil gaun tidur yang telah Kyle siapkan untuknya, dan menggantinya di dalam kamar mandi. Sebenarnya dia tidak suka mengenakan pakaian seperti itu saat tidur, tapi Kyle memaksanya, dan dia harus menuruti keinginan pria itu, meskipun dia merasa tidak nyaman mengenakan gaun itu. Sierra keluar dari kamar mandi setelah selesai mengganti pakaiannya, dan menemukan Kyle sudah ada di dalam kamar.

 

“Kau sudah pulang ?” tanya Sierra tidak tahu harus mengatakan apa.

“Seperti yang kau lihat,” sahut Kyle kemudian berdiri dan mengambil piamanya dari dalam lemari.

“Hmm… apa kau mau aku buatkan minuman ?” Sierra merasa sangat konyol dengan pertanyaan itu. Banyak pelayan di rumah itu, dan Kyle bisa meminta pelayan untuk membuatkan minuman. Lagipula belum tentu Kyle mau meminum minuman buatannya.

Kyle menatap tubuhnya. “Aku sedang tidak ingin minum.”

Sierra mengangguk, dan Kyle masuk kedalam kamar mandi. Sierra memejamkan mata dan menghela nafas.

‘Oh ya ampun, kenapa begitu sulit memulai percakapan dengan Kyle,’ gumam Sierra dalam hati.

Kyle Greener, begitu dingin dan kaku hingga Sierra tidak tahu harus mengatakan apa untuk memulai percakapan. Dia takut mengatakan hal yang salah, dan membuat Kyle marah.

 

Tak berapa lama Kyle keluar dari kamar mandi dengan rambut basah sehabis mandi. Sierra sontak berdiri ketika Kyle melangkah keluar dari kamar mandi. Pria itu menatapnya tajam, lalu melangkah mendekatinya. Jantung Sierra berdegup kencang karena tatapan itu.

‘Astaga,’ desah Sierra dalam hati.

Kyle berhenti tepat di hadapannya. Pria itu memegang kedua lengannya kemudian menunduk dan mencium bibirnya. Sierra terkejut dengan apa yang di lakukannya. Setelah pernikahan mereka Kyle tidak pernah menciumnya atau melakukan apa yang seharusnya di lakukan sepasang suami istri di malam pernikahan mereka. Sierra tidak mengerti mengapa Kyle tidak pernah menyentuhnya seperti seharusnya, sementara dia menginginkan anak dari Sierra.

 

Kyle memeluk pinggang Sierra, dan memperdalam ciumannya. Sierra membalas ciuman itu, dan berusaha untuk mengimbanginya. Tanpa sengaja dia menggigit bibir Kyle yang membuat pria itu mengerang. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya jadi dia tidak tahu harus bagaimana. Kyle adalah pria satu-satunya yang pernah menciumnya.

Kyle tiba-tiba saja mengakhiri ciuman itu yang membuat Sierra khawatir.

 

“Kau membuatku gila,” ujar Kyle dengan suara serak. Kyle mendorong Sierra hingga berbaring di ranjang. “Aku tidak ingin menunggu lagi, aku sudah terlalu lama menunggu.”

Kyle menindih Sierra kemudian menengelamkan wajahnya di lehernya. Pria itu mengecup leher Sierra yang membuat tubuhnya bergetar karena sesuatu yang tidak dia mengerti. Sierra mencengkram seprai, dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangannya.

“Jangan menahannya, mendesahlah,” Kyle berbisik di telinganya dengan suara serak.

“Aahhhh…” erang Sierra saat Kyle kembali mencium lehernya.

Kyle mengumpat lalu menggenggam ujung gaun yang di kenakan Sierra, kemudian merobeknya menjadi dua. Sierra sontak menutup dadanya dengan kedua tangannya. Kyle menggenggam tangan Sierra dan menyentaknya dengan kasar.

“Jangan menyembunyikanya dariku,” ujar Kyle kasar. Pria itu menatap Sierra dengan tatapan takjub. Kedua pipi Sierra memerah karena tatapan Kyle. Dia menoleh ketempat lain, namun Kyle memaksanya untuk menatapnya. “Aku suamimu, dan kau tidak seharusnya malu pada suamimu sendiri. Tatap aku, dan jangan pernah berani mengalihkan tatapanmu dariku.”

 

Kyle lalu menyentuh dadanya yang membuat Sierra mengerang karena sensasi yang tidak pernah di rasakannya. Ini adalah pengalaman baru baginya, dan semua ini terasa begitu membingunkan. Sierra merasa basah di antara pahanya karena perbuatan Kyle.

“Kyle…” erangnya ketika Kyle menyelusupkan tangannya kedalam celana dalam yang masih Sierra kenakan.

“Kau sudah sangat siap untukku,” gumam Kyle kemudian menarik lepas celana dalam Sierra. Sierra sontak menutup pahanya rapat. Kedua pipinya yang telah memerah karena gairah semakin memerah karena rasa malu. “Aku suamimu.”

 

Sierra cukup mengerti isyarat dari kata-kata itu. Dia membuka pahanya, dan membiarkan Kyle melihat tubuh polosnya. Kyle lalu berdiri dan melepas semua kain yang melekat di tubuhnya, sehingga Sierra bisa melihat keindahan tubuhnya. Dia hanya pernah melihat seorang pria bertelanjang dada di film, tapi tubuh Kyle sepertinya jauh lebih indah dari tubuh actor dalam film itu.

Setelah selesai menelanjangi dirinya sendiri, Kyle kembali menindih Sierra dan mencium bibirnya.

“Aku tahu ini adalah yang pertama untukmu, dan mungkin ini akan menyakitimu, jadi untuk mengalihkan rasa sakitmu kau bisa menggigit atau mencakarku. Aku berjanji kau akan merasakan kenikmatan yang tidak pernah kau ketahui ada setelah rasa sakit yang akan kau lalui. Dan, kau harus ingat Sierra, setelah semua ini, kau akan menjadi milikku seutuhnya, dan aku ingin kau hanya memikirkan tentangku setelah itu,” ujar Kyle.

Sierra tidak sebodoh itu, dia tahu tentang semua itu, hanya saja dia belum pernah merasakannya. Teman-temannya di sekolah sering membicarakan tentang hal itu, jadi dia cukup mengerti akan hal itu. Sierra mengangguk menyetuji semua yang Kyle katakan.

 

Kyle melebarkan pahanya, dan dengan sangat perlahan dia mencoba memasuki Sierra. Sierra meringis atas usaha Kyle memasukinya. Dia menggigit bibir bawahnya keras, dan menggenggam seprai hingga buku-buku jarinya memutih. Kyle menunduk dan mencium bibir Sierra juga meremas dadanya dengan lembut yang membuat Sierra merasakan kenikmatan sekaligus rasa sakit karena Kyle terus berusaha memasukinya. Kyle menyentakkan pinggulnya yang membuat Sierra menggigit bibirnya karena rasa sakit yang tak tertahankan. Air mata jatuh di pipinya karena sengatan rasa sakit itu.

Kyle melepaskan ciumannya, dan mengakat wajahnya sehingga Sierra bisa melihat bibir Kyle berdarah karena perbuatannya. Kyle mengusap air mata di pipi Sierra lalu mengecup kedua matanya bergantian.

“Ma…maaf,” ujar Sierra takut Kyle akan marah karena perbuatannya.

“Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti apa yang kau rasakan,” sahut Kyle masih dengan suara serak.

 

Kyle tidak langsung bergerak, dia diam untuk beberapa saat. Dan ketika Sierra mulai merasa membaik pria itu mulai bergerak dengan hati-hati. Awalnya Sierra merasa tidak nyaman, namun butuh waktu lama rasa itu berganti dengan rasa nikmat yang tidak pernah di bayangkannya.

 

Sierra tanpa sadar ikut mengerakan pinggulnya yang membuat Kyle mempercepat gerakannya. Ternyata benar apa yang di katakan teman-temannya di sekolah dulu, semua ini sungguh terasa begitu nikmat. Kyle membawanya terbang tinggi.

“Kyle…” Sierra tanpa sadar mendesahkan nama Kyle berkali-kali.

“Datanglah sayang, datanglah untukku,” perintah Kyle.

Sierra sungguh tidak mengerti apa yang di maksud Kyle. Dia menjeritkan nama Kyle, dan puncak kenikmatan itu datang menerpanya. Tubuh Sierra terasa lemas setelah semua yang terjadi. Dia membiarkan Kyle bergerak di atasnya hingga suaminya itu menghujam dirinya dalam-dalam, dan menyemburkan cairannya. Kyle menarik dirinya dengan hati-hati  kamudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, dan dia berbaring di samping Sierra. Karena merasa kelelahan, Sierra langsung melayang menuju alam mimpi.

 

***

 

Tidur lelap Sierra terganggu karena suara ketukan di pintu. Dia membuka mata dan melihat Kyle melangkah menuju pintu dan membukanya.

“Ada apa ?” tanya Kyle kasar.

“Maaf tuan,” ujar suara perempuan yang Sierra yakini adalah seorang pelayan. Dia tidak bisa melihat orang itu karena terhalang punggung Kyle. “Tuan Marco ada di bawah, beliau ingin berbicara dengan anda.”

“Katakan padanya, aku akan menemuinya sebentar lagi,” geram Kyle lalu menutup pintu. Pria itu berbalik sehingga tatapan mereka bertemu. “Apa masih sakit ?”

Pertanyaan Kyle, membuat kedua pipi Sierra memerah. Dia menggeleng, meski masih merasakan sedikit nyeri.

“Bagus, sekarang mandilah. Aku akan memperkenalkanmu dengan lelaki tua itu,” lanjut Kyle.

 

Sierra mengangguk, kemudian melilitkan selimut di tubuhnya. Dia bangun, dan berjalan menuju kamar mandi. Sierra melepaskan selimut yang melilit di tubuhnya setelah dia menutup dan mengunci pintu. Dia berdiri di depan cermin, dan melihat tanda merah yang di buat Kyle semalam. Tanda-tanda itu ada hampir di seluruh tubuhnya.

 

Sierra menghela nafas, kemudian melangkah menuju shower. Dia memutar shower, dan air hangat langsung mengalir membasahinya. Sierra membersihkan tubuhnya dengan sangat hati-hati karena tanda yang Kyle tinggalkan terasa nyeri ketika dia menggosoknya dengan keras.

 

Setelah selesai mandi, Sierra mengeringkan tubuhnya kemudian keluar dari kamar mandi, dan berpakaian. Kyle sudah tidak ada di kamar saat Sierra keluar dari kamar mandi. Suaminya itu mungkin pergi menemui seseorang yang bernama Marco, dan Kyle mengatakan akan memperkenalkannya dengan orang itu. Dia segera menyisir rambutnya, dan keluar dari kamar untuk menemui Kyle.

 

Sierra berjalan menuju ruang tamu, dan melihat suaminya tengah berbicara dengan seorang pria yang tampaknya beberapa tahun lebih tua dari ayahnya. Ketika dia melangkah mendekati mereka, pria itu menatapnya lalu tersenyum.

“Jadi, kau menikahi gadis muda ini ?” ucapan pria itu terdengar seperti tengah mengejek Kyle.

Kyle yang duduk membelakanginya menoleh padanya, dan berdiri. “Kemarilah, aku akan memperkenalkanmu dengan Marco.”

Sierra mendekat kemudian berdiri di samping suaminya. Pria itu ikut berdiri dan mengulurkan tangannya pada Sierra. Dia menatap suaminya kemudian dengan ragu dia menjabat tangan pria itu. Kyle melingkarkan tangannya di lengan Sierra yang membuat jantung Sierra berdegup kencang.

“Kenalkan, Marco Greener, paman Kyle, adik dari ayah Kyle,” ujar pria itu, dan masih terus mengenggam tangan Sierra.

“Sierra,” sahutnya lalu menarik tangannya dari genggaman pria itu. Dia tahu apa yang di lakukannya tidak sopan, tapi dia tidak memiliki pilihan selain melakukan hal itu.

“Kau masih sangat muda. Kenapa kau mau menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua darimu ? Apakah itu karena ketampanannya atau kekayaannya ?” cemooh pria itu.

“Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari ? Jika tujuanmu datang kemari untuk menyampaikan omong kosongmu itu sebaiknya kau pergi. Aku memiliki pekerjaan yang lebih penting dari pada harus mendengar omong kosongmu itu,” geram Kyle kasar.

 

Kyle lalu menarik tangan Sierra menjauh dari pria itu. Suaminya itu tampak jelas sangat marah pada pamannya. Dia merasa hubungan Kyle dengan pamannya tidak baik, melihat bagaimana sikap Kyle pada pamannya itu.

Ketika mereka tiba di depan kamar, Kyle melepaskan genggaman tangannya. Suaminya itu masuk kedalam kamar tanpa mengatakan apapun padanya. Sierra berdiri terpaku di depan pintu melihat sikap Kyle yang begitu dingin terhadap dirinya. Kyle memang selalu bersikap seperti itu terhadap dirinya, dan dia tidak menyagka Kyle masih bersikap seperti itu setelah kejadian semalam.

 

Sierra lalu teringat kalau Kyle akan pergi kekantor dan dia harus menyiapkan pakaian untuk suaminya itu. Selama seminggu ini dia selalu menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Kyle, dan suaminya itu tidak pernah menolak mengenakan pakaian yang dia siapkan. Dia melangkah masuk kedalam kamar lalu membuka lemari, dan memilih pakaian mana yang akan Kyle kenakan hari ini. Sierra memilih kemeja berwarna hitam juga jas dan celana dengan warna yang sama. Dia juga mengambil dasi dengan warna yang sama. Entah mengapa dia sangat suka melihat Kyle mengenakan warna itu.

 

Setelah beberapa saat Kyle keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Tubuh Kyle benar-benar indah, dan dia tidak pernah bosan melihat keindahan itu. Suaminya itu mengambil pakaian yang telah dia siapkan, lalu mengenakannya.

“Aku merindukan ayahku, jadi bisakah aku pergi kesana siang ini ?” tanyanya dengan hati-hati.

“Aku akan meminta Frank mengantarmu kesana,” sahut Kyle.

Sierra mengangguk, dan menatap Kyle yang tengah mengenakan pakaiannya. Setelah Kyle selesai mengenakan pakaiannya, dia berbalik menghadap Sierra. Dengan tiba-tiba pria itu mendekatinya kemudian menunduk dan mencium bibirnya. Sierra benar-benar terkejut dengan apa yang di lakukan Kyle, namun dia tidak menolak saat Kyle menciumnya. Sierra bahkan membalas ciuman itu.

 

“Kau akan membuatku telambat pergi kekantor,” ujar Kyle kasar lalu melangkah pergi meninggalkannya sendiri di kamar itu.

Sierra menyentuh bibirnya. Kyle tidak pernah menciumnya selain di hari pernikahan mereka dan semalam. Ini adalah pertama kalinya Kyle menciumnya sebelum pergi bekerja, dan entah mengapa Sierra menyukai hal itu.

 

***

 

“Aku ingin mendengar cerita tentang Kyle saat masih kecil,” ujar Sierra pada Marie saat mereka tengah bersantai di taman belakang. Tadinya Sierra akan pergi kerumah ayahnya, tapi ayahnya mengatakan tidak ada di rumah hari ini. Ayahnya mengatakan akan mengerjakan sesuatu yang penting, jadi dia mengurungkan niatnya untuk pergi kerumah ayahnya.

Marie tersenyum kemudian menyesap tehnya. “Saat masih kecil, Kyle sangat suka berlari, dan membuat semua orang mengejarnya. Dia benar-benar nakal, tapi semua orang menikmati kenakalan yang dia buat.”

“Kalian pasti kewalahan menjaganya.”

“Ya, dia tidak akan mau diam sebelum ayahnya memintanya untuk diam. Kyle tidak pernah mau menuruti siapapun selain orang tuanya dan ibu,” Marie tersenyum lembut mengingat semua itu.

“Apa makanan dan minuman yang Kyle sukai dan tidak sukai ?” Sierra benar-benar ingin tahu semua tentang Kyle, meski sebelumnya dia sempat berpikir tidak perlu mengetahui semua tentangnya. Sebelumnya dia berpikir seperti itu karena tidak tahu harus bertanya tentang Kyle pada siapa. Sierra tidak tahu tentang pengasuh Kyle yang hingga saat ini tinggal bersamanya hingga Marie datang.

 

“Kyle menyukai jus apel dan jeruk, dan makanan yang di sukainya adal…”

“Nyonya Stons, telepon untuk anda,” ujar soerang pelayang memotong cerita Marie.

“Tunggu sebentar, ibu akan menjawab telepon itu dulu,” Marie tersenyum lembut lalu menyentuh pipi Sierra. Wanita itu lalu pergi untuk menjawab telepon.

Sierra menatap kepergian wanita itu, dan setelah wanita itu menghilang di balik pintu dia mengambil novel di atas meja lalu membacanya. Sierra senang Marie ada di sana, dia tidak lagi kesepian setelah wanita itu datang. Dia tidak mungkin mengajak para pelayan berbicara, dan membuat mereka menghentikan pekerjaan mereka hanya untuk berbicara dengannya. Tapi sekarang dia memiliki seorang teman yang bisa di ajaknya berbicara, jadi dia tidak perlu merasa bosan dengan apapun lagi sekarang.

 

“Sierra,” suara berat Kyle mengejutkannya.

Dia menolah dan melihat suaminya tengah berjalan mendekatinya. Pria itu sungguh tampak sangat menggoda dengan pakaian yang di kenakannya. Tapi bukankah Kyle Greener memang selalu terlihat menggoda.

“Apa barangmu tertinggal ?” tanyanya yang membuatnya merasa sangat konyol. Kyle tidak akan mencarinya jika tidak ada hal penting yang di bicarakan.

Pria itu menggeleng kemudian duduk di samping Sierra. “Aku ingin membicarakan hal penting denganmu,” Kyle menatap Sierra kemudian melanjutkan. “Tentang kehamilanmu,” Kyle tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap Sierra, dan tampak menunggunya untuk mengatakan sesuatu tapi ketika Sierra tidak juga membuka mulutnya untuk berbicara, Kyle melanjutkan. “Kau masih sangat muda, dan aku tidak ingin kau melahirkan di usiamu yang masih sangat muda karena itu terlalu beresiko untukmu. Tapi waktuku tidak banyak, jadi aku ingin kau segera hamil,” Kyle menatap Sierra lekat. “Dan percintaan kita semalam mungkin akan membuatmu hamil.”

 

Wajah Sierra memerah karena ucapan Kyle. Dia mengetahui semua itu akan terjadi karena ini adalah masa suburnya. Sudah beberapa hari setelah dia mendapatkan haidnya, jadi besar kemungkinan dia akan hamil setelah kejadian semalam. Kyle tampaknya sudah mengetahui tentang hal itu, dan sepertinya dia juga sudah merencanakan semua itu.

“Apa kau sudah merencanakan semuanya ? Untuk membuatku hamil ?” tanya Sierra malu-malu.

Kyle mengangguk. “Ya, aku merencanakan semuanya dari awal. Lagipula itulah tujuan pernikahan ini, kau melahirkan seorang pewaris untukku.”

Tentu saja Sierra sadar akan hal itu. Tapi bagaimana jika anak mereka adalah seorang perempuan ? Dia tidak membaca seluruh perjanjian itu sehingga dia tidak tahu isi dari seluruh perjanjian itu. Sekarang Sierra menyesal tidak membaca semuanya.

 

“Bagaimana jika anak itu adalah seorang anak perempuan ?” Sierra memberanikan diri menayakana hal itu. Dia tidak mau Kyle menyia-nyiakan anak mereka jika ternyata anak mereka perempuan.

“Aku tidak pernah mengatakan kau harus melahirkan seorang putra untukku. Lagipula seorang perempuan juga bisa menjadi seorang pewaris, dan jika anak itu perempuan kau harus mendidiknya menjadi perempuan yang kuat, perempuan yang tidak akan takut dengan apapun,” jawaban Kyle membuat Sierra menghela nafas lega, namun dia juga merasa bingung dengan ucapannya. Setelah menyampaikan semua itu, Kyle berdiri kemudian meninggalkan Sierra dalam kebingungan.

 

‘Kenapa harus dia yang mendidik anak mereka ? Kenapa bukan Kyle ? Bukankah setelah dia melahirkan pernikahan mereka berakhir, dan anak itu akan tinggal bersama Kyle ? Lalu bagaimana Sierra akan mendidik anak mereka jika anak itu akan tinggal bersama Kyle ?’ pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala Sierra. Pertanyaan yang membuat Sierra bingung.

 

Advertisements

One thought on “Agreement of Heart Bab 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s