Posted in 18+, Novel

Agreement of Heart Bab 3

 

 

 

 

 

 

Sierra merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menolak Kyle, dan sifat kekanak-kanakannya yang tidak bisa dia kendalikan. Sekarang dia sudah menikah, dan seharusnya dia bisa bersikap lebih dewasa seperti yang di lakukannya beberapa bulan yang lalu ketika ayahnya jatuh sakit.

 

“Bodoh bodoh bodoh,” gerutunya, lalu tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka yang sontak membuat Sierra menutupi wajahnya dengan selimut. Dia tidak ingin Kyle melihatnya. Dia benar-benar malu setelah apa yang terjadi dua jam yang lalu.

“Apa kau masih ingin mendengar penjelaskanku ?” suara Kyle terdengar mengejek di telinganya. Sierra sangat ingin mencekik pria menjengkelkan itu, tapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika benar-benar melakukan hal itu. Jika George yang mengejeknya dia pasti sudah mencekiknya.

 

Selimut yang di kenakannya untuk menutupi tubuh polosnya tertarik hingga dia bisa melihat Kyle yang kini tengah berlutut di atasnya. Pria itu tersenyum dengan sangat menyebalkan.

“Kenapa hmm ? Apa kau malu, Sierra Greener ?” ujar Kyle.

Kedua pipi Sierra memerah. Dia memalingkan wajahnya, namun Kyle memegang dagunya dengan lembut, dan memaksanya agar tetap menatapnya. Pria itu menunduk dan mencium bibirnya dengan sangat lembut, berbeda dengan ciumannya dua jam yang lalu.

“Aku akan pulang lebih cepat hari ini,” gumam Kyle setelah mengakhiri ciumannya. Pria itu bangun kemudian bersiap-siap untuk pergi kekantor.

 

Sierra tidak menyiapkan pakaian untuk Kyle kenakan pagi ini karena dia terlambat bangun lagi, dan itu karena Kyle. Dia menatap suaminya bersiap-siap untuk pergi kekantor, dan setelah Kyle pergi dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

 

Sierra tidak mau mengulangi kesalahan seperti beberapa jam yang lalu. Dia menyelesaikan mandinya kemudian mengeringkan tubuhnya, dan berpakaian. Setelah itu dia keluar dari kamar. Sierra mencari di mana Marie berada, namun bukannya menemukan Marie, dia melihat suaminya tengah berbicara dengan seorang perempuan cantik di ruang tamu.

“Aku tidak percaya kau melakukan ini padaku Kyle. Kau membatalkan pernikahan kita hanya untuk menikahi seorang gadis yang baru berusia delapan belas tahun. Kau tahu, semua ini menyakitiku Kyle,” suara perempuan itu bergetar.

Sierra tidak bermaksud untuk mendengarkan pembicaraan mereka, namun ucapan perempuan itu membuatnya terpaku. Kyle sempat akan menikah dengan perempuan itu, tapi dia meninggalkannya demi untuk menikahi dirinya ? Benarkah itu ? Tapi kenapa dia merasa tidak mempercayai semua itu ? Kyle tidak mungkin meninggalkannya hanya demi dirinya.

 

“Aku tidak pernah menjanjikan sebuah pernikahan padamu, Rebecca. Kau yang merencanakan semua itu seorang diri, dan membuat seolah-olah aku akan menikahimu. Aku pernah memperingatkanmu untuk tidak melibatkan perasaanmu dalam hubungan kita, tapi kau tidak mendengarkanku, dan kau bertingkah seakan-akan aku adalah kekasihmu,” gumam Kyle dingin.

Perempuan itu hendak membuka mulutnya untuk berbicara, namun kembali menutupnya ketika melihat Sierra yang berdiri terpaku di depan pintu. Perempuan itu berdiri kemudian melangkah mendekati Sierra. Dia menatap Sierra dengan tatapan penuh kebencian.

“Sebaiknya kau pergi, Rebecca,” Kyle mengeram, namun perempuan itu mengabaikan ucapannya.

“Apa yang membuatmu begitu tertarik dengan gadis kecil ini ? Dia bahkan tidak cantik, dan menarik,” ujar Rebecca dengan nada mengejek.

“Itu bukan urusanmu. Sekarang tinggalkan rumah ini atau aku akan membuatmu menyesal,” Kyle meninggikan nada suaranya.

 

Sierra tidak pernah menerima ketika seseorang berbicara seperti itu pada dirinya, tapi kali ini keadaan tidaklah sama seperti yang selalu di hadapinya. Dia menghadapi kekasih dari suaminya, jadi dia tidak bisa berpikir karena semua ini.

“Kyle kau tid….”

“Jadi kau tidak mau pergi,” Kyle memotong ucapannya.

“Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku tidak akan menyerah hingga aku mendapatkanmu,” dengan angkuh Rebecca melangkah melewati Sierra, yang membuatnya ingin menendangnya.

 

Sierra lalu menoleh pada Kyle yang tengah menatapnya. Melihat Kyle membuatnya teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Sierra melangkah meninggalkan ruangan itu, namun pada langkah pertama Kyle berhasil menggenggam pergelangan tangannya.

“Kau tidak ingin meminta penjelasan untuk ini ?” tanya Kyle.

“Tidak,” sahutnya kemudian menyentak tangannya, dan berlari meninggalkan Kyle.

Dia seharusnya menunggu beberapa menit lagi untuk turun. Tapi jika dia tidak turun Kyle belum tentu pergikan ? Kekasihnya ada di sini jadi tidak mungkin dia meninggalkannya kekantor begitu saja. Oh ya Tuhan, kenapa dia begitu sial akhir-akhir ini ?

 

***

 

“Apa yang terjadi padanya dokter ?” tanya Kyle khwatir, pada dokter yang baru saja selesai memeriksa Sierra.

Dokter itu tersenyum. “Nyonya Greener tengah hamil tuan, selamat.”

Mendengar ucapan dokter itu Sierra sontak menyentuh perutnya yang masih rata. Sudah seminggu ini dia sering merasa mual di pagi hari, dan terkadang dia juga merasa pusing. Sierra juga sering meminta Kyle melakukan sesuatu yang tak pernah dia duga, seperti bercinta dan memeluknya saat tidur. Sierra tidak akan pernah meminta semua itu pada Kyle.

 

“Sierra memuntahkan semua yang di makannya, apakah itu tidak apa-apa ?” tanya Kyle lagi.

Dokter paruh baya itu menggeleng. “Ini terjadi pada beberapa ibu hamil, dan akan berlangsung selama beberapa hari. Tapi anda tidak perlu khawatir, saya sudah menulis obat anti-mual dalam resep. Anti-mual bisa mengurangi mual yang di alami nyonya Greener.”

“Terima kasih dokter,” ujar Kyle.

Dokter itu mengangguk, kemudian berpamitan pada semua orang di dalam ruangan itu. Sierra tersenyum mengetahui bayinya yang tengah bertumbuh di dalam dirinya. Beberapa bulan lagi dia akan menjadi seorang ibu, tapi tiba-tiba saja senyum Sierra menghilang mengingat apa yang akan terjadi dengan pernikahannya setelah anaknya lahir. Apakah pernikahannya akan berakhir seperti yang di bayangkannya ? Lalu apa yang akan terjadi padanya jika pernikahan mereka benar-benar berakhir ? Dua bulan bersama Kyle membuat rasa sayang tumbuh di hatinya untuk pria itu. Kebiasaan Kyle, dan sikap menyebalkannyalah yang membuat Sierra menyayanginya. Rasa itu tidak seharusnya ada, namun rasa itu tumbuh tanpa keinginannya.

 

Beberapa menit kemudian Kyle kembali. Pria itu masuk kedalam kamar dengan di ikuti seseorang yang sudah sangat di kenal. Orang itu adalah ayahnya. Sierra hendak bangun, namun kepalanya terasa berdeyut yang membuatnya kembali berbaring.

“Hai sayang, bagaimana keadaanmu ?” tanya ayahnya.

“Tidak baik, dia membuatku seperti ini,” sahutnya menunjuk Kyle dengan dagunya.

Ayahnya tersenyum karena ucapannya, kemudian duduk di sampingnya. “Beberapa bulan lagi kau akan menjadi ibu.”

“Dan kau akan menjadi kakek,” balas Sierra gembira.

Ayahnya tersenyum kemudian mengusap kepalanya dengan sayang. Sierra selalu menyukai ketika ayahnya mengusap kepalanya. Dia merasa nyaman saat ayahnya melakukan hal itu.

 

Kyle duduk di sofa sambil memperhatikannya dan ayahnya yang tengah melepas rindu. Sierra sudah dua minggu tidak bertemu dengan ayahnya karena ayahnya itu sibuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dia ketahui. Sejujurnya Sierra khawatir dengan apapun yang di lakukan ayahnya, namun ayahnya selalu bisa memberikan pengertian padanya.

Ketika tengah asik berbicara dengan ayahnya seorang pelayan datang mencari Kyle.

“Tuan Marco mencari anda, tuan,” ujar pelayan itu yang membuatnya Sierra mulai merasa khawatir.

Akhir-akhir ini dia selalu merasa khawatir saat Marco datang mencari Kyle. Setelah beberapa kali bertemu dengan Marco, Sierra jadi mengerti seperti apa sifat Marco yang sebenarnya. Pria itu tidak menyukai Kyle, dan selalu menatap Kyle dengan tatapan kebencian. Dari tatapan Marco, dia bisa melihat kalau Marco begitu ingin menghancurkan Kyle. Mengingat cerita yang Marie ceritakan padanya beberapa minggu yang lalu membuatnya menjadi semakin khawatir. Dia takut Marco akan mencelakai Kyle seperti yang pernah coba di lakukan.

 

“Kau tidak boleh menemuinya,” cegah Sierra saat Kyle berdiri dan hendak melangkah menemuinya.

“Kenapa aku tidak boleh menemuinya ?” tanya Kyle tampak bingung.

“Sekarang kau tahu aku sedang hamil jadi kau harus menjagaku sebaik mungkin, dan aku tidak mau seseorang mengganggumu saat tengah menjagaku,” Sierra tidak tahu harus memberikan alasan apa agar Kyle tetap berada di sini, jadi dia mengunakan kehamilannya agar Kyle tidak menemui pamannya.

Kyle meringis mendengar ucapannya. “Ayahmu ada di sini.”

“Tapi aku ingin kau juga di sini,” dia tidak ingin merengek seperti anak kecil, tapi ini adalah satu-satunya cara membuat Kyle tetap tinggal bersamanya.

“Anda temani saja dia tuan, biar saya yang menemui tuan Marco,” ujar ayahnya yang membuat Sierra sangat terkejut. Dia tidak menyangka ayahnya mengenal Marco, dan ayahnya bahkan menawarkan diri untuk menemui Marco.

‘Oh ya Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi,’ Sierra bergumam dalam hati.

 

“Baiklah,” sahut Kyle yang membuat Sierra semakin terkejut.

“Tapi kena…”

“Tenang saja, ayahmu sudah terbiasa menghadapi Marco,” gumam Kyle memotong ucapan Sierra.

Sierra tidak ingin ayahnya pergi, tapi dia tahu betul Marco tidak akan pergi sebelum seseorang menemuinya, jadi dia membiarkan saja ayahnya pergi menemui pria itu. Marie sedang menemui putrinya, jadi tidak ada yang mampu membuat pria itu pergi selain orang-orang kepercayaan Kyle, dan ayahnya mungkin adalah salah satu orang itu. Lagipula ada para penjaga di luar, dan Marco tidak akan masuk kerumah itu sebelum para pengawal memeriksanya. Kyle sangat ketat pada penjagaan jadi tidak mungkin Marco bisa membawa sesuatu yang membahayakan masuk.

 

Ayahnya meninggalkannya bersama Kyle di sana. Kyle melangkah mendekatinya kemudian duduk di sampingnya. “Aku ingin kau memijatkan kepalaku.”

“Jadi ini alasanmu aku ingin tetap di sini ?” gumam Kyle.

“Tentu saja,” sahutnya berbohong.

Kyle meringis, namun tetap saja menuruti apa yang di inginkan Sierra. Sierra berbalik sehingga Kyle bisa memijat kepala dan pundaknya. Dia merasa rileks karena pijatan Kyle sehingga dia mulai mengantuk, dan tak butuh waktu untuk Sierra masuk kedalam mimpi.

 

***

 

Sierra terbangun saat di luar mulai gelap. Ketika terbangun dia merasa lebih baik dari dua jam yang lalu, dan dia merasa kelaparan. Dia bangun dari ranjang, dan dengan langkah gontai dia berjalan keluar dari kamar. Sierra benar-benar merasa lemas karena tidak memakan apapun dari pagi.

 

Langkah Sierra terhenti ketika melewati ruang kerja Kyle. Dia mendengar Kyle dan ayahnya berbicara di dalam ruangan itu.

“Terima kasih, kau telah menjaganya dengan sangat baik,” ujar Kyle terdengar dari cela pintu. Pintu ruangan Kyle tidak tertutup dengan rapat sehingga dia mendengar suami dan ayahnya berbicara.

“Tentu saja tuan, dia putri saya,” sahut ayahnya dengan kebagaan dalam nada suaranya.

“Ya, dia memang putrimu,” balas Kyle.

 

Ini adalah pembicaraan tentang dirinya, dan Sierra tidak ingin mendengarnya. Lagipula tidak ada yang menarik tentang dirinya yang harus dia dengarkan. Sierra melanjutkan langkahnya, dan tanpa sengaja dia menyenggol pas bunga yang ada di meja hingga terjatuh. Kyle dan ayahnya segera keluar dari ruangan itu.

 

“Ada apa ? Kenapa kau keluar ?” tanya Kyle.

“Aku lapar. Aku ingin mengambil buah dan jus,” sahut Sierra.

“Kembalilah kekamar, aku akan mengambilkannya untukmu,” ujar Kyle.

Sierra mengangguk lalu Kyle pergi kedapur untuk mengambil makanan untuk dirinya. Sierra tersenyum kemudian menolah pada ayahnya yang juga ikut tersenyum karenanya. Dia memeluk ayahnya.

“Apa kau senang hmm ?” tanya ayahnya seakan tahu apa yang tengah di rasakannya.

Kyle tidak akan pernah mau melakukan semua itu jika dia tidak hamil. Sesungguhnya Sierra ingin Kyle melakukan semua itu karena dirinya, bukan karena kehamilannya, tapi dia cukup senang meski Kyle melakukan semua itu hanya karena calon anak mereka.

“Tentu saja,” sahutnya senang.

Ayahnya membalas pelukannya kemudian mencium dahinya. “Kembalilah kekamar sebelum dia datang. Jika dia melihatmu masih di sini dia akan marah karena kau tidak mematuhinya.”

 

Sierra mengangguk kemudian melepaskan pelukannya, dan kembali kekamarnya. Ayahnya benar, Kyle mungkin akan marah jika dia masih di sana, jadi dia segera kembali kekamar.

 

***

 

Karena tidak tahu harus melakukan apa, Sierra duduk di teras sambil melihat-lihat majalah. Kyle tengah menghadiri rapat penting siang ini jadi dia meninggalkan Sierra sendiri disana. Dia merasa bosan karena tidak memiliki teman bicara. Marie beberapa hari ini berada di rumah putrinya karena cucunya tengah sakit. Selain Marie, tidak ada yang bisa di ajaknya berbicara di rumah itu.

 

“Penjagaan benar-benar ketat di sini,” ujar suara yang sudah sangat akrab di telinga Sierra.

Sierra menurunkan majalah yang di bacanya, dan melihat George yang cukup lama tidak di lihatnya berdiri di hadapannya. Semenjak hari itu Sierra tidak pernah melihatnya lagi, bahkan ketika dia pergi kerumah ayahnya dia tidak pernah melihat George. Rumah George berada tepat di samping rumah ayahnya.

“Hai,” sapa George.

“Apa yang kau lakukan di sini ?” tanya Sierra bingung melihat sahabatnya itu ada di rumahnya.

George meringis karena pertanyaan yang di berikannya. “Kau tidak ingin mempersilahkanku duduk terlebih dahulu ?”

“Hmm ya, duduklah George,” Sierra mempersilahkannya duduk.

Pria itu mengangguk kemudian duduk di kursi di sebrang meja kecil. Sierra lalu meminta seorang pelayan membuatkan minuman untuk sahabatnya itu.

“Mereka memeriksaku dengan sangat teliti sebelum mengijinkanku masuk kedalam. Aku tidak menyangka rumahmu di jaga dengan sangat ketat,” ujarnya dan tersenyum. “Hmm… aku datang kemari untuk memberikanmu sesuatu,” George merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Aku ingin memberikanmu ini,” George meletakan sebuah gelang cantik di atas meja. “Aku membuatnya sendiri dan ingin memberikannya padamu setahun yang lalu di hari kelulusanmu, tapi aku tidak memiliki cukup keberanian untuk memberikannya.”

Sierra mengambil gelang itu, dan menatapnya. Dia pernah melihat gelang itu di atas meja belajar George, dan ketika Sierra bertanya tentang gelang itu George mengatakan gelang itu untuk gadis yang di sukainya.

 

“Tapi, George, kau mengatakan akan memberikan gelang ini untuk gadis yang kau cintai,” ujar Sierra.

“Ya, kaulah gadis itu. Aku mencintaimu dari kita masih kecil, tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Di hari kelulusanmu aku ingin mencoba mengungkapkan perasaanku, tapi aku lagi-lagi tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Aku tahu semua ini sudah sangat terlambat, tapi aku tidak bisa menyimpan semua ini lebih lama lagi. Di hari pernikahanmu aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa memberikan gelang itu,” jelas George dengan nada kecewa yang terdengar jelas dalam suaranya.

“George, kau bisa memberikan gelang ini pada gadis yang kau cintai.”

“Kau adalah satu-satunya gadis yang ku cintai. Tidak akan ada gadis lain selain kau.”

“George,” Sierra tidak tahu harus mengatakan apa, selain mendesahkan nama sahabatnya itu. Dia tidak pernah menghadapi hal seperti ini, jadi dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua yang terjadi saat ini. Baginya George adalah seorang sahabat sekaligus kakak. Dia tidak pernah memiliki perasaan lebih padanya.

 

George berdiri yang di ikuti oleh Sierra. Dia menatap Sierra lekat kemudian tersenyum.

“Kau tampak bahagia bersamanya, tapi kau tampak sedikit lebih kurus,” ujar George.

“Ini karena kehamilanku,” gumam Sierra.

George tertegun dan Sierra melihat kilatan rasa sakit dimata sahabatnya itu, namun semua itu segera terganti.

“Selamat, kau akan menjadi seorang ibu,” George mengulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Sierra. “Dan aku harus segera pergi.”

Sierra melepaskan tangannya kemudian mengangguk, dan George meninggalkan tempat itu. Dia menatap kepergian sahabatnya itu. George dan dirinya sudah seperti saudara sehingga dia tidak pernah berpikir George akan memiliki perasaan yang lebih pada dirinya.

 

Sierra lalu menatap gelang yang ada di tangannya. Gelang itu sangat cantik. Dia menyukai gelang itu, namun dia merasa tidak pantas untuk memiliki gelang itu. Sierra akan mengembalikan gelang itu, tapi dia harus mencari cara agar George tidak tersinggung dia mengembalikan gelang itu. Dia memasukkan gelang itu kedalam saku bajunya kemudian melanjutkan melihat-lihat majalah.

 

***

 

George melangkah menjauh dari rumah mewah itu dengan perasaan tak menentu. Namun dari semua rasa itu kelegaanlah yang lebih mendominasi karena dia telah bertemu dengan Sierra dan memberikan gelang itu, meski semua itu sudah sangat terlambat.

Sierra tampak bahagia dengan pernikahannya. George senang melihat Sierra bahagia, meski ada sedikit perasaan tidak rela di hatinya melihat Sierra bahagia dengan pria lain.

 

“Apa kau bisa bertemu dengannya ?” tanya seorang pria yang tengah duduk di atas motor.

“Ya,” sahut George.

Pria itu menggeleng kemudian menyerahkan sebuah helm pada George. “Lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum kau kembali kedalam dan mencoba membawanya lari.”

George meringis mendengar ucapan pria itu. Dia mengambil helm yang di berikan pria itu dan mengenakannya. Dia naik keatas motor kemudian pria itu membawanya menjauh dari rumah mewah yang kini telah menjadi milik gadis yang di cintainya.

 

George mencintai Sierra dari mereka masih anak-anak, dan selama itu pula dia memendam perasaannya hingga hari pernikahan Sierra. George memberanikan diri menyampaikan perasaannya dan mengajak Sierra pergi karena dia berpikir gadis itu terpaksa menikah dengan pria kaya itu. Dan selama ini dia selalu berpikir pria kaya itu selalu menyakiti Sierra, tapi setelah melihat Sierra hari ini, dia tahu bahwa pria itu memperlakukan Sierra dengan sangat baik. Jika dia tidak melihat kebahagiaan di mata Sierra hari ini, mungkin benar dia akan membawa gadis itu lari.

 

Sierra bahagia bersama pria kaya itu, dan dia harus merelakan Sierra berbahagia bersama pria pilihannya. George memang harus merelakannya, karena meski seperti apapun dia berusaha untuk memiliki Sierra, dia tidak akan pernah bisa memilikinya. Sierra telah memilih kehidupan seperti apa yang ingin di jalaninya, dan George akan mendukung Sierra untuk pilihannya. Mulai sekarang dia hanya bisa mengawasi dan mencintai gadis itu dari kejauhan.

 

***

 

“Besok pagi aku akan membawamu kedokter kandungan,” ujar Kyle saat keluar dari dalam kamar mandi.

Seharusnya Sierra menemui dokter kandungan itu tadi pagi, namun karena Kyle memiliki pertemuan dan akan menghadiri rapat penting Kyle mengajaknya pergi besok. Sierra tidak ingin memeriksakan kandungannya seorang diri karena takut dokter akan mengatakan sesuatu yang buruk tentang kehamilannya sehingga dia tidak bisa menghadapinya seorang diri. Dia membutuhkan Kyle bersamanya.

Sierra yang tengah membaca buku cerita anak-anak hanya mengangguk tanpa menoleh pada suaminya. Akhir-akhir ini Sierra begitu suka membaca buku cerita sebelum tidur, sementara sebelumnya dia tidak pernah suka membaca buku cerita anak-anak. Dia bahkan selalu meminta Kyle membawakan buku cerita setiap kali suaminya itu pergi kekantor.

 

Kyle naik ketempat tidur kemudian berbaring di sisi tempatnya. Sebelum Kyle terlelap Sierra segera meletakan buku cerita itu di atas nakas, dan berbaring di samping suaminya. Dia mengambil tangan Kyle kemudian meletakannya di kepalanya.

“Tolong pijatkan kepalaku,” gumamnya, dan Kyle memijat kepalanya dengan lembut. Sierra tiba-tiba mengingat kedatangan George tadi siang, dan dia berpikir untuk memberitahukannya pada Kyle. Tapi haruskah dia memberitahu Kyle ? Rumah ini adalah miliknya jadi tentu saja dia berhak tahu siapa orang yang datang kerumah ini. “Tadi siang George datang kemari, dan dia memberikan gelang padaku.”

Kyle tidak merespon ucapan Sierra, pria itu terus memijat kepalanya. Kyle bahkan tidak menujukkan reaksi apapun. Apa yang sebenarnya Sierra harapkan akan di lakukan Kyle setelah mendengar ceritanya ? Dia hanyalah calon ibu dari calon anak Kyle, dan tidak lebih dari itu. Kenyataan itu menyakitkan, tapi Sierra harus mengingat semua itu agar dia tidak bersikap seenaknya pada Kyle seperti beberapa hari ini.

 

“Berhenti, kau istirahat saja,” Sierra berbalik dan memunggungi Kyle.

“Ada apa ?” tanya Kyle terdengar kebingungan dalam nada suaranya.

“Tidak apa-apa,” sahutnya berbohong.

Sierra lalu mencoba untuk bisa terlelap, namun begitu sulit. Dia bisa terlelap setelah beberapa jam.

 

***

 

Setelah selesai mandi dan sarapan mereka pergi kerumah sakit untuk memeriksakan kandungan Sierra. Hari itu Sierra lebih menjaga jarak dari Kyle, karena berpikir semua akan menjadi lebih mudah setelah semua ini berakhir.

 

Ketika tiba di rumah sakit Kyle membukakan pintu untuknya dan hendak membantunya keluar, namun Sierra menolak.

“Aku bisa sendiri,” tolaknya kemudian keluar dari mobil. Dia mengikuti Kyle berjalan keruangan dokter kandungan yang telah Kyle pilihkan untuk dirinya. Setelah tiba di ruangan dokter kandungan itu Kyle bertanya beberapa hal tentang kehamilan Sierra. Dan setelah Kyle mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya dokter itu memeriksa kandungannya.

Dokter kandungan Sierra adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Mungkin Kyle memilih dokter itu karena kecantikannya.

 

“Detak jantung bayinya normal. Kandungan anda dalam kondisi yang sangat baik,” ujar dokter cantik itu yang membuat Sierra merasa sangat lega.

Sierra merasa benar-benar lega mengetahui kalau kandungannya baik-baik saja. Dia turun dari ranjang dengan di bantu oleh Kyle kemudian merapikan pakaiannya.

Advertisements

One thought on “Agreement of Heart Bab 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s