Posted in 18+, Novel

Agreement of Heart Bab 4

 

 

 

 

 

 

Kyle dan Sierra terjebak di rumah sakit karena hujan lebat. Karena mereka tidak bisa pergi Kyle mengajak Sierra menunggu hujan reda di kantin rumah sakit. Pria itu membeli makanan untuk dirinya. Sierra tidak ingin makan, tapi entah mengapa dia tidak ingin membuat Kyle kecewa karena dia tidak mau memakan makanan itu jadi dengan terpaksa dia memakan makanan yang Kyle beli untuk dirinya.

 

“Kau tidak makan ?” tanyanya melihat Kyle tidak membeli makanan untuk dirinya sendiri.

Pria itu menggeleng. “Tadi aku makan cukup banyak, dan kau hanya makan sedikit. Kau sedang hamil jadi kau harus banyak makan. Habiskan semua makanan itu.”

Kyle melakukan semua itu bukan karena dirinya, tapi karena anaknya yang ada di dalam kandungan Sierra. Meski sedikit kecewa karena kenyataan itu Sierra mengangguk, dan memakan makanan yang Kyle pesan untuk dirinya, atau lebih tepatnya calon anaknya.

 

“Kyle.”

Kyle dan Sierra sontak menoleh pada perempuan yang berdiri tempat di belakang mereka. Kyle mengerang melihat Rebecca yang entah datang dari mana.

“Apa yang kau lakukan di sini ?” geram Kyle.

“Mengikutimu, kau sangat sulit untuk di temui. Aku pergi kekantormu tapi atas perintahmu aku di usir, begitu juga saat aku datang kerumamu. Kenapa kau melakukan semua itu padaku, Kyle ? Tidak cukupkah kau membatalkan pernikahan kita hanya untuk menikah dengan gadis kecil ini ?” Rebecca menatapnya dengan kebencian.

“Apa kau sudah selesai ?” suara Kyle terdengar begitu dingin. “Jika kau sudah selesai silahkan pergi dari tempat ini.”

“Aku tidak bisa menerima semua ini Kyle, dan tidak akan pernah menerimanya. Kau milikku,” Rebecca meninggikan suaranya.

Sierra melupakan makannannya dan sibuk memperhatikan Kyle dan Rebecca.

“Makan makananmu,” bentak Kyle pada Sierra.

Tidak ingin Kyle menjadi lebih marah lagi Sierra segera memakan makanan di hadapannya. Dia melihat Kyle mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya kemudian menghubungi seseorang.

 

“Jemput aku di rumah sakit, dan jangan lupa bawa seseorang untuk membawa mobilku,” perintah Kyle pada siapapun orang yang tengah berbicara dengannya. Setelah merasa perintahnya cukup jelas Kyle mengakhiri telepon itu. Pria itu kembali menatap Rebecca yang tampak sangat marah, “Aku tidak peduli kau menerimanya atau tidak. Dan harus kau ketahui, aku bukan barang yang bisa kau miliki.”

“Kyle, aku benar-benar tidak menyangka kau akan me…”

“Begitu juga denganku,” Kyle memotong ucapan Rebecca. “Aku tidak menyangka akan berhubungan dengan perempuan sepertimu.” Dengan tiba-tiba Kyle berdiri, dan menggenggam tangan Sierra, “Lebih baik kita pergi, supir sudah datang menjemput kita.”

Sierra mengangguk, dan membiarkan Kyle menariknya menjauh dari tempat itu. Dia setengah berlari untuk mengimbangi langkah Kyle. Sierra benar-benar tidak menyangka Rebecca akan muncul di rumah sakit itu. Semenjak kedatangannya dua bulan yang lalu Sierra tidak pernah melihatnya lagi hingga hari ini. Dia berpikir Rebecca tidak pernah datang lagi karena takut Kyle akan melakukan sesuatu yang buruk padanya, tapi ternyata apa yang di pikirkannya salah. Rebecca bukanlah tipe seorang yang mudah menyerah. Perempuan itu sepertinya tidak akan berhenti sebelum mendapatkan keinginanya.

 

Ketika tiba di pintu masuk mereka bertemu dengan dua orang pria. Kyle menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu pria itu, dan memberitahukannya di mana mobilnya terparkir, setelah itu pria itu pergi ketempat di mana Kyle memarkirkan mobilnya.

“Ayo masuk,” ujar Kyle kemudian memeluk pinggangnya, dan membawanya masuk kedalam mobil.

Sierra tidak ingat Kyle pernah menyebutkan mereka berada di rumah sakit mana pada supirnya. Suaminya itu hanya mengatakan untuk menjemput mereka di rumah sakit. Apa Kyle sering datang kerumah sakit itu untuk menemui salah satu dokter perempuan yang bekerja di sana ?

 

“Ada apa ?” tanya Kyle yang tampaknya memperhatikannya.

“Bagaimana dia bisa tahu kita ada di sini ? Saat kau menghubunginya aku tidak mendengar kau menyebutkan nama rumah sakit tempat kita berada,” sahutnya.

Kyle meringis karena ucapannya. “Tentu saja dia tahu. Rumah sakit ini milikku.”

“Aku tidak tahu kau memiliki rumah sakit,” gumamnya polos.

“Tentu saja, memang apa yang kau ketahui tentangku selain semua yang kau lihat. Kau harus belajar lebih banyak untuk mengetahui tentang suamimu sendiri,” ujar Kyle.

Ada perasaan senang di hatinya ketika Kyle mengatakan semua itu, tapi lalu dia mengingat bahwa pernikahan ini karena sebuah perjanjian, dan akan berakhir ketika anak mereka lahir. Untuk apa dia mengetahui semua tentang Kyle jika semua ini akan berakhir ?

 

***

 

Setelah tiga puluh menit mereka tiba di rumah, dan menemukan Marco telah menunggu Kyle di ruang tamu. Di luar hujan turun dengan sangat lebat, dan Marco datang di tengah hujan yang selebat itu. Marco tampaknya memang tidak memiliki pekerjaan selain mengganggu Kyle, dan rencana jahatnya untuk menyakiti keponakannya. Marco memang tidak memiliki pekerjaan. Jika dia memiliki pekerjaan dia tidak akan selalu datang kerumah itu untuk meminta uang pada Kyle.

“Beristirahatlah,” ujar Kyle pada Sierra, namun dia menggeleng. Sierra menggenggam tangan Kyle erat.

“Aku ikut denganmu,” gumamnya.

“Baiklah, ayo kita temui dia,” Kyle mengajaknya bertemu dengan Marco yang telah menunggunya di ruang tamu.

 

Sierra masih tidak ingin Kyle bertemu dengan Marco sendiri. Dia masih khawatir Marco akan melakukan hal yang buruk pada Kyle jika menemui Marco sendiri.

“Kali ini apa lagi ? Kau kehabisan uang ?” geram Kyle.

“Aku mendengar dari salah satu pegawaimu bahwa gadismu itu hamil,” Marco berbicara dengan nada mencemooh.

“Aku bukan gadisnya, aku istrinya,” bentak Sierra tidak senang dengan cemoohan Marco.

“Dia mulai terlihat seperti dirimu,” ujar Marco.

“Ya, itulah yang seharusnya dia lakukan. Sekarang cepat katakan apa sebenarnya tujuanmu datang kemari di tengah hujan lebat seperti ini ?”

“Aku membutuhkan uang untuk membangun sebuah usaha,” sahut Marco dengan tidak tahu malu.

Kyle mengajak Sierra berdiri. “Aku tidak bisa memberikanmu uang lagi. Mulai sekarang kau harus mulai mencari pekerjaan agar kau tidak selalu merepotkanku. Sebaiknya kau segera pergi dari sini.”

 

Kyle lalu menarik tangan Sierra menjauh dari tempat itu. Jika Kyle tidak bersama dengannya, mungkin dia akan tetap tinggal di sana dan menghadapi pamannya itu. Marie pernah mengatakan padanya kalau Kyle tidak pernah meninggalkan Marco seperti caranya meninggalkan Marco ketika tengah bersamanya. Sierra tidak mengerti kenapa Kyle harus meninggalkan Marco begitu saja ketika suaminya itu tengah bersama dengan dirinya. Sierra akan menayakan tentang hal itu padanya nanti.

 

***

 

Setelah mereka masuk kedalam kamar Sierra langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mandi air hangat. Sierra merasa hari ini begitu melelahkan, meski dia tidak melakukan apapun. Dia butuh untuk berendam dengan air hangat untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa tegang setelah bertemu dengan Rebecca dan Marco.

 

Sierra melepaskan seluruh pakaiannya kemudian berjalan menuju shower. Dia memutar shower, dan air hangat menerpa tubuhnya. Sierra merasa begitu nyaman saat air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Dia mengambil spons kemudian menuang sabun lalu  menggosok seluruh tubuhnya. Sierra begitu hati-hati saat menggosok perutnya karena takut bayinya yang tengah bertumbuh di dalam sana akan merasa sakit. Dia berlama-lama menggosok perutnya, dan tiba-tiba saja sebuah tangan menggenggam tangannya.

 

“Apa yang sedang kau lakukan ?” Kyle berbisik di telinganya kemudian menekan ciuman di telingan Sierra yang membuat seluruh tubuhnya meremang. Kyle membalik tubuh Sierra menghadapnya sehingga spons yang ada di tanganya terjatuh. Pria itu memeluk pinggangnya yang membuat Sierra merasakan gairah Kyle di perutnya.

Kyle menekan Sierra ke dinding, dan dengan begitu tiba-tiba pria itu melumat bibirnya. Sierra sontak melingkarkan tangannya di leher Kyle dan membalas ciuman itu.

“Hmmm…” Sierra mengerang di antara ciuman mereka ketika merasakan jemari Kyle di antara pahanya. Kyle memainkan jarinya di sana.

Kyle lalu mengakhiri ciuman mereka kemudian mencium lehernya, membuat erangan Sierra semakin keras. Sierra memiringkan kepalanya untuk memberikan akses lebih pada Kyle mencumbu lehernya. Dia meremas rambut suaminya dengan lembut.

 

“Kyle…” Sierra menjerit ketika mencapai puncak karena jari-jari ahli Kyle. Kyle menarik jarinya dari milik Sierra kemudian mengakat sebelah kakinya, dan mengaitkannya di pahanya.

“Tatap mataku, Sierra,” ujar Kyle serak.

Sierra mengangguk, dan menatap mata Kyle yang berkabut. Dengan sangat hati-hati Kyle menyatukan tubuh mereka, dan setelah mereka menyatu sepenuhnya Kyle mengangkat kaki Sierra yang satunya lagi kemudian mengerakan pinggulnya. Sierra mengeratkan pelukannya di leher Kyle, dan ikut mengerakan pinggulnya.

“Kau membuatku ingin berada di sana selamanya,” erang Kyle kemudian mencium bibir Sierra, dan meremas payudaranya yang membengkak karena kehamilannya.

Sierra meremas rambut Kyle, dan mengerang di antara ciuman mereka. Ketika Sierra merasa akan kehabisan nafas Kyle memindahkan ciumannya keleher Sierra.

“Kyle,” Sierra menjerit karena kembali mendapatkan puncak kenikmatannya. Kyle mempercepat gerakannya, dan ketika puncak kenikmatan itu datang, dia menekan dirinya jauh kedalam Sierra lalu menyemburkan benihnya di dalam Sierra.

 

Mereka terdiam beberapa saat untuk mengatur nafas, dan setelah mereka mendapatkan tenaga mereka kebali mereka mandi bersama. Kyle membersihkan tubuh mereka, dan setelah bersih pria itu mengakat Sierra dan membawanya keluar dari kamar mandi.

 

***

 

Sierra berguling kedalam pelukan suaminya untuk mencari kehangatan. Hujan masih turun dengan lebat, membuat Sierra kedinginan, dan penghangat ruangan tidak mampu menghangatkan tubuhnya.

“Kau kedinginan ?” tanya Kyle lembut.

“Ya, penghangat ruangan tidak bisa membuatku merasa hangat,” sahut Sierra.

“Kalau begitu kenakan pakaianmu,” Kyle hendak turun dari ranjang namun Sierra mencegahnya dengan mengeratkan pelukannya. Mereka masih belum mengenakan pakaian karena Sierra menolak saat Kyle menawarkan membantunya mengenakan pakaian, dan Kyle belum mengenakan pakaiannya karena Sierra ingin Kyle tetap bersamanya.

 

“Tidak, aku tidak mau mengenakan pakaianku. Aku ingin tetap seperti ini denganmu,” tolaknya.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu ? Tadi pagi kau menjaga jarak denganku, dan sekarang kau tidak mau aku beranjak dari sisimu,” Kyle menatapnya tajam, membuat kedua pipinya memerah.

Sierra juga merasa kalau dirinya sangat aneh akhir-akhir ini. Dia tidak mau sedekat ini dengan Kyle karena takut kedekatan mereka akan membuatnya hancur setelah pernikahan mereka berakhir, tapi di lain sisi dia membutuhkan kedekatan ini. Bukan hanya kedekatan yang di butuhkannya, dia juga membutuhkan Kyle sepenuhnya, untuk dirinya sendiri.

Sierra tidak mau pernikahan mereka berakhir begitu saja. Dia akan mencari cara agar Kyle tidak mengakhiri pernikahan ini setelah dia melahirkan. Sierra tidak akan sanggup jika pernikahannya berakhir begitu saja.

 

Sierra memeluk Kyle semakin erat. “Itu karena aku sedang hamil. Dokter cantik itu mengatakan seorang perempuan yang sedang hamil akan menjadi sangat sensitive pada suaminya.”

“Jadi apa yang ku lakukan hingga kau menjaga jarak dariku seakan-akan aku adalah bahaya ? Dan apakah karena percintaan kita di kamar mandi tadi kau menjadi seperti ini padaku ?” pertanyaan Kyle membuat kedua pipi Sierra semakin memerah.

“Itu… itu karena kau menjengkelkan. Aku mengantuk, jangan bertanya lagi,” bentak Sierra lalu menengelamkan wajahnya di leher Kyle.

Sierra tidak akan pernah mengatakan pada Kyle apa yang membuatnya bersikap seperti tadi pagi. Dia akan sangat malu jika Kyle mengetahui kebenaran itu.

 

Kyle terkekeh kemudian menarik selimut lebih tinggi, dan memeluk Sierra semakin erat. Berada dalam pelukan Kyle membuat Sierra merasa nyaman dan aman. Sierra tidak ingin kehilangan kenyamanan ini, dia ingin terus berada di sisi Kyle selamanya, dan untuk itu dia harus meminta bantuan Marie. Marie adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya.

“Bernyanyilah untukku,” gumam Sierra.

“Aku tidak bisa bernyanyi, dan aku harus pergi kekantor,” tolak Kyle kasar.

“Di luar hujan sangat deras jadi kau tidak bisa pergi kekantor,” Sierra mencium leher Kyle yang membuat pria itu mengerang.

“Sierra, kau tahu apa akibat dari yang kau lakukan ?” geram Kyle.

“Tentu saja, aku mengetahuinya,” Sierra kembali menekan ciuman di leher pria itu. Sierra tidak mau Kyle meninggalkannya kekantor jadi untuk tetap menahan Kyle tetap bersamanya, dia melakukan semua itu.

 

Kyle mengumpat kemudian bangkit dan menindih Sierra. Dia langsung melumat bibir Sierra, dan sekali lagi mereka bercinta hingga kelelahan. Kyle dan Sierra tertidur lelap setelah percintaan mereka.

 

***

 

Sierra terbangun dan menemukan Kyle masih tertidur pulas sambil memeluknya. Dia menatap bibir penuh Kyle yang sedikit terbuka, kemudian dengan ragu dia menyentuh bibir bawah suaminya dengan ibu jarinya. Bibir itu begitu ahli menciumnya hingga Sierra ingin terus merasakan ciuman itu. Sierra setengah bangun dan hendak mencium bibir itu, namun ketukan di pintu menghentikan aksinya. Sierra menggerutu kemudian dengan hati-hati bangun dari ranjang. Dia mengambil handuk yang Kyle buang di lantai kemudian melilitkannya di tubuhnya.

 

Sierra berjalan menuju pintu, dan membuka sedikit pintu itu sehingga siapapun yang ada di luar sana tidak bisa melihat seperti apa dia terlihat saat ini. Dia melihat seorang pelayan berdiri di depan pintu dengan wajah cemas, namun ketika melihat Sierra yang membuka pintu pelayan itu tampak lebih tenang. Dia yakin pelayan itu cemas karena berpikir Kyle yang membuka pintu, dan mendapatkan kemarahan Kyle.

“Nyonya, tuan Lucius ada di bawah,” ujar pelayan itu.

“Tuan Lucius ?” tanyanya bingung, karena yang dia ketahui kakek Kyle telah meninggal hampir tiga tahun yang lalu.

“Ya, nyonya,” sahut pelayan itu.

“Sebentar lagi aku akan turun,” Sierra lalu menutup pintu dan segera pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia tidak membangunkan Kyle karena suaminya tertidur pulas. Sierra tidak pernah melihat Kyle tidur sepulas itu jadi dia membiarkannya.

 

Setelah selesai membersihkan dirinya, Sierra mengambil pakaiannya di dalam lemari kemudian mengenakanya, dan keluar untuk menemui orang itu. Sierra berjalan menuju ruang tamu di mana orang itu berada, dan ketika tiba di sana, dia melihat seorang pria yang tampaknya seumuran dengan Kyle duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

 

Sierra melangkah mendekati pria itu. “Maaf, Kyle masih tidur.”

Pria itu mengalihkan perhatian dari ponselnya, dan menoleh pada Sierra. Pria itu tersenyum lalu berdiri.

“Hai, kau pasti nyonya Greener kan ?” tebak pria itu yang di jawab Sierra dengan anggukan. “Kenalkan, aku Dylan Lucius, sepupu Kyle.”

“Hmm… Sierra,” gumamnya, dan duduk di sofa panjang itu. Dylan kembali duduk di tempatnya.

Dylan Lucius adalah putra dari sepupu ibu Kyle. Marie pernah menceritakan tentangnya saat Sierra bertanya tentang keluarga Kyle. Tapi sebelumnya Sierra tidak pernah bertemu dengannya. Marie mengatakan Dylan tinggal di luar negeri.

 

“Kyle tidak terbiasa tidur di jam seperti ini. Apa dia sedang sakit ?” pertanyaan Dylan membuat kedua pipi Sierra memerah.

Oh ya ampun, jawaban apa yang akan dia berikan ? Sierra tidak mungkin mengatakan Kyle masih tidur karena kelelahan sehabis bercinta dengannya. Sierra tidak pandai berbohong, namun dia juga tidak akan pernah mengatakan kebenaran itu. Sierra cukup yakin Kyle mengetahui kebohongan-kebohongan yang di katakannya.

 

“Tidak, dia ba….”

“Sierra…” teriakkan itu membuat ucapan Sierra terputus. Sierra cukup yakin teriakan itu bertanda tidak baik. Kyle mungkin akan marah padanya karena berhasil membuat pria itu tidak pergi kekantor. Sebelumnya, Kyle tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini, dan Sierra telah berhasil membuat suaminya itu melakukan kesalahan dengan menahannya di ranjang. Kyle pasti sangat marah karena perbuatannya itu. “Sierra, bera…. Apa yang kau lakukan di sini ?”

Sierra berdiri dan menoleh keambang pintu di mana Kyle berdiri dengan hanya mengenakan celana piamanya. Tubuh Kyle benar-benar sangat indah, dan menggoda tentunya.

“Tentu saja untuk bertemu denganmu,” sahut Dylan di belakang Sierra. Pria itu melangkah masuk kedalam ruang tamu dengan tatapan tajam yang di tujukan pada Sierra. Tatapan itu mengartikan bahwa Kyle saat ini tengah sangat marah padanya, namun bukannya merasa takut, Sierra malah merasa bergairah melihat tatapan itu.

“Aku mengundangmu di hari pernikahanku, dan itu sudah terjadi lebih dari dua bulan yang lalu,” geram Kyle tanpa mengalihkan tatapannya dari Sierra.

“Oh ayolah Greener, istrimu akan lari jika kau menatapnya seperti itu,” goda Dylan yang berhasil membuat Kyle mengalihkan tatapannya. Dylan tersenyum, “Aku datang untuk melihat istrimu, dan setelah aku melihatnya aku memiliki rencana untuk membawanya lari.”

Kyle duduk di sofa yang Sierra duduki lalu dia mengikuti suaminya duduk. Sierra segera melingkar tangannya di lengan kekar suaminya yang membuat senyum di bibir Dylan semakin melebar. Dan Kyle tampaknya mulai fokus pada apa yang dia bicarakan dengan Dylan. Kyle masih belum mengenakan baju, dan tampaknya pria itu merasa nyaman berbicara dengan keadaan seperti itu.

 

Sierra hanya duduk diam di samping Kyle mendengarkan percakapan mereka, dan sesekali dia ikut dalam percakapan mereka. Dalam percakapan itu Dylan sesekali membuat lelucon yang membuat Sierra tertawa, namun tidak dengan Kyle. Suaminya itu bahkan tidak tersenyum sedikitpun, dia hanya meringis mendengar lelucon Dylan. Sierra merasa suaminya itu tidak memiliki selera humor sedikitpun.

“Sebaiknya kau pergi beristirahat,” gumam Kyle mengakhiri percakapan mereka kemudian menggenggam tangan Sierra dan membawanya kekamar mereka.

 

Kyle menutup pintu kamar lalu melipat kedua tangannya di dada bidangnya. Dia menatap Sierra tajam, dan Sierra membalas tatapan Kyle dengan senyuman tanpa dosa.

“Kau masih bisa tersenyum setelah apa yang kau lakukan ?” geram Kyle.

“Aku lapar, aku akan mengambil makanan,” Sierra menghindari pertanyaan itu. Dia hendak keluar kamar, namun Kyle menahannya. Pria itu mendesaknya kedinding. “Maafkan aku,” ujarnya namun tidak menyesali perbuatannya. “Aku sedang hamil, dan kehamilanku membuatku ingin selalu bersamamu.”

“Jangan menggunakan kehamilanmu untuk memperalatku,” ucapan Kyle membuat Sierra marah.

“Aku tidak memperalatmu,” bentaknya tidak terima dengan tuduhan Kyle. Dia tidak pernah berpikir untuk memperalat Kyle dengan kehamilannya, dan untuk apa dia melakukan semua itu ? Sierra lalu menyadari kalau dia baru saja membentak Kyle. Dia menunduk, menyesali apa yang baru saja di lakukannya.

 

Sierra mendengar Kyle menghela nafas kemudian dia menekan ciuman di dahi Sierra.

“Aku akan mengambilkanmu buah,” ujar Kyle sedikit melembut. Kyle menyentuh gagang pintu dan hendak membukanya, namun gerakannya terhenti ketika Sierra menyentuh lengannya.

“Aku juga ingin jus,” gumamnya pelan.

Kyle tersenyum dan mengangguk, namun Sierra tidak melepaskan tangannya sehingga dia tidak bisa pergi. “Ada apa ?”

“Kenakan bajumu. Aku tidak mau para pelayan perempuan melihatmu bertelanjang dada seperti itu,” sahutnya.

Kyle tidak mebantah. Pria itu mengambil kausnya kemudian mengenakannya lalu keluar dari kamar itu. Sierra tersenyum kemudian duduk di ranjang, menunggu Kyle datang membawakannya makanan.

Advertisements

2 thoughts on “Agreement of Heart Bab 4

  1. Hi there! I just came across this post of yours and your blog in general and I couldn’t help but comment and tell you how much I love this! Keep up the great work, I am going to follow you so I can keep up with all your new posts!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s